-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Realita Ironis Destinasi Wisata Super Premium

Selasa, 10 Maret 2020 | 20:39 WIB Last Updated 2020-03-10T13:39:24Z
Realita Ironis Destinasi Wisata Super Premium
Pantai Pink (Pink Beach)

Oleh: Sil Joni*

Pemerintah Pusat (Pempus) telah membabtis Labuan Bajo sebagai destinasi super premium. 'Pembabtisan' itu tentu berimplikasi pada peningkatan anggaran untuk membangun berbagai infrastruktur vital di kota ini. Perhatian pempus terhadap kemajuan sektor turisme di wilayah ini begitu intens dan habis-habisan dalam beberapa tahun terakhir. 

Bandara Komodo, rencananya akan diperlebar dan ditingkatkan statusnya menjadi Bandara internasional pertama di Flores. Dermaga niaga representatif akan segera dibangun. Beberapa hotel milik BUMN sudah, sedang, dan akan berdiri anggun di sini. Kawasan Golo Mori dan sekitarnya sedang dipersiapkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) guna menyambut pelaksanaan event  internasional KTT G20 tahun 2022. Belum lagi area hutan Bowosie seluas 400 hektar yang kemungkinan dikonversi menjadi obyek wisata buatan yang akan dikelola Badan Otorita Labuan Bajo Flores (BOPLBF).
 Jika pelbagai 'rencana' pembangunan megaproyek tersebut terlaksana, maka tampilan kota Labuan Bajo tentu semakin seksi dan keren. Ciri khas sebagai 'destinasi wisata premium' semakin terasa. Siapa yang tidak gembira dan bangga dengan 'lompatan kemajuan' semacam itu?

Fakta Ironis

Namun, di balik narasi besar semacam itu, terselip beberapa fakta miris yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pelbagai kisah negatif tersebut tentu bisa dilihat sebagai 'kondisi ironis', semacam antitesis dari predikat super premium itu.

Factum 'krisis air minum bersih', hemat saya berada pada 'ranking' teratas perihal realitas ironis tersebut. Kita boleh saja berbangga sebab citra Labuan Bajo di dunia luar bertaraf 'super premium'. Tetapi, ternyata kebutuhan vital warga soal 'stok air minum' bersih belum terpenuhi. Apakah label super premium itu tidak berurusan dengan isu 'air minum bersih'?

Hal kedua yang berpotensi 'menodai' gelar premium itu adalah problem sampah yang terkesan kurang ditangani secara profesional. Aneh memang, di satu sisi kota ini dikenal sebagai 'kota wisata', tetapi pada saat yang sama kota ini dijuluki sebagai 'kota sampah'. Antara sampah dan wisata, sebenarnya dua hal yang saling bertolak belakang. Tetapi, di kota ini dua entitas itu hidup berdampingan.

Panorama patologis yang lain adalah hewan (ternak piaraan) yang kerap berkeliaran di ruang publik. Tentu saja, kondisi semacam itu, selain mengotori tata estetika kota, juga berpotensi terjadinya 'kecelakaan' dalam berkendaraan.

Poin terakhir yang menjadi sorotan utama tulisan ini adalah keberadaan sebuah 'terminal bus' yang bermutu. Pada era rezim Fidelis Pranda, Mabar pernah memiliki sebuah terminal sederhana yang terletak di Nggorang. Namun, terminal itu harus melewati 'riwayat' yang mengenaskan.

Kondisi 'Terminal Bus' di Desa Nggorang, Labuan Bajo yang 'tak terurus', menjadi fakta ironis di tengah melambungnya julukan Labuan Bajo sebagai destinasi super premium. Ada 'gap' yang lebar antara idealisme dengan kenyataan. Cita-cita menjadikan Labuan Bajo sebagai 'destinasi super premium' tidak ditopang dengan infrastruktur publik yang berkelas super premium. 

Terminal Nggorang menjadi 'potret buram' bahwa negara masih memiliki banyak 'pekerjaan rumah' untuk mendukung terwujudnya daerah tujuan wisata yang super premium itu. Sebetulnya, masih terlalu banyak fasilitas publik di kota ini yang perlu 'ditata ulang' dan dibangun sesuai dengan standar 'super premium' itu.

Lepas dari 'kondisi super premium' itu, sangat disayangkan Pemerintah daerah (Pemda) Mabar 'tak peduli' dengan nasib Terminal Nggorang yang kian 'terpencil' itu. Siapa pun tahu bahwa fasilitas publik itu dibangun dengan menggunakan uang negara dalam jumlah yang fantastis. Tetapi, anggaran sebesar itu seolah tidak berdampak bagi peningkatan mutu pelayanan transportasi darat di Kabupaten ini.

Sampai detik ini, publik tidak pernah mendapat penjelasan resmi dari Pemda mengapa terminal itu dibiarkan 'melarat'. Untuk apa sebenarnya Terminal itu dibangun? Siapa yang mesti bertanggung jawab untuk mengelola dan merawat 'sarana vital' itu?

Sangat disayangkan bahwa kota Labuan Bajo yang digadang-gadang sebagai kota wisata bertaraf internasional 'tak memiliki' Terminal Bus yang representatif. Apa sebenarnya yang terjadi? Sebenarnya, jika Terminal Nggorang 'dikelola' secara kreatif oleh Pemda, bukan tidak mungkin terminal itu bisa naik ke kelas yang lebih bermutu. Sayang, rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa tanggung jawab (sense of responsibility) dari Pemda, sangat memprihatinkan. Efeknya adalah terminal itu semakin 'terlantar'. Riwayat terminal ini begitu tragis. Inilah relitas ironis yang patut diratapi di tengah euforia penyambutan 'gelar wisata super premium' untuk kota ini.

Pelbagai 'isu negatif' yang disitir dalam tulisan ini, sebetulnya bukan untuk diratapi dan dikutuk, tetapi sebagai 'peta situasi darurat' yang mengharuskan Pemda mengambil prakarsa politik signifikan. Pemda mesti memperlihatkan sensitivitas dan kreativitasnya guna mencari solusi yang efektif agar wajah kota ini 'selaras' dengan julukan kota wisata premium.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update