-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

RENUNGAN MARIAL 20 OKTOBER

Kamis, 26 Maret 2020 | 22:31 WIB Last Updated 2020-03-26T15:31:21Z
RENUNGAN MARIAL 20 OKTOBER
Rm. Fidel Wotan, SMM

Rm. Fidel Wotan, SMM

Injil Lukas: 18:1-8

Doa Pembukaan

Allah, Bapa yang Mahabaik, Engkau menghendaki keselamatan semua putra-putriMu melalui Yesus Kristus. Anugerahkanlah kepada kami Roh untuk memiliki iman yang murni dan cinta yang mendalam kepadaMu seperti iman dan cinta yang ditunjukkan Perawan Tersuci Maria, Bunda dan Ibu kami. Jadikanlah hati kami seperti hati Putra dan BundaMu agar setiap hari kami selalu menyembah dan memujiMu dalam Roh dan kebenaran sehingga seluruh hidup kami pun sungguh-sungguh menjadi suatu pujian yang indah bagiMu. Demi Yesus Kristus PutraMu Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah kini dan sepanjang masa. Amin

Renungan

Dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana Yesus menegaskan bahwa orang harus berdoa dengan tiada putus-putusnya. Artinya Yesus menginginkan agar setiap orang yang mau berdoa semestinya menanamkan kesadaran ini, yakni berdoa dengan tiada jemu-jemunya atau berdoa tanpa mengenal lelah. Orang beriman biasanya tahu bagaimana seharusnya ia berdoa dan menghayati hidup doa itu di hadapan Allah secara baik dan benar.

Yesus, dalam Injil hari ini memperlihatkan suatu perumpamaan yang memiliki nilai pengajaran tertentu. Mengapa Ia harus menyampaikan perumpamaan ini? Perumpamaan ini disampaikan oleh Yesus oleh karena Ia sendiri punya alasan. Alasannya ialah bahwa setiap orang harus tahu berdoa dan berdoa dengan tiada mengenal lelah. Doa orang beriman adalah seperti itu. Kita sekalian pasti punya waktu untuk berdoa, entah doa pribadi maupun doa bersama kapan dan di mana saja. Mungkin saja, beberapa dari antara kita siang dan malam tidak pernah berhenti memanjatkan doa ke hadirat Allah, namun bisa jadi doa-doa itu belum sepenuhnya dikabulkan olehNya sehingga kadangkala itu membuat kita merasa jenuh, bosan dan tidak mau lagi berdoa. Permintaan yang datang dari si janda tersebut – sungguh-sungguh memiliki kesetiaan dan ketekunan di dalam berdoa. Permintaannya adalah sebuah ungkapan hati yang tulus dan murni, serta benar. Jadi, bukan merupakan sebuah permintaan yang buruk atau jahat. Ia meminta sesuatu yang benar. Seringkali yang terjadi dalam hidup bahwa mungkin kita sendiri selalu berdoa, dan doa kita itu samasekali tidak pernah mengenal siang dan malam. Artinya doa dilakukan setiap saat, namun bisa jadi bahwa Tuhan belum mau mengabulkan permintaan, permohonan kita. Ada orang mungkin bertanya demikian: “mengapa doa saya tidak dikabulkan oleh Tuhan, apakah ada yang salah dengan doa saya, atau apakah Tuhan belum mendengarkannya?”

Di hadapan situasi seperti ini, kita sekalian tetap diminta untuk setia dan percaya kepada penyelenggaraan dan bimbingan Tuhan, sebab Allah adalah setia (bdk. 2 Tes 3:3) dan Ia tidak pernah mengingkari diriNya (bdk. 2 Tim 2:13). Itulah sebabnya, setiap orang tetap diminta supaya tidak berkecil hati, sekalipun doanya belum dikabulkan olehNya. Justru, iman dan kesetiaanlah yang mau diharapkan dalam situasi seperti ini, sebab barangsiapa yang meminta akan diberikan kepadanya, yang mencari akan mendapatkanya dan yang mengetuk kepadanya akan dibukakan pintu (bdk. Mat 7:7-11). Allah yang kita Imani adalah Allah yang Maha Baik, Dia akan memberikan yang terbaik kepada orang yang datang meminta kepadaNya dengan penuh iman. Itu akan diberikan kepada mereka mencari dan meminta atau “mengetuk” pintu hati Allah dengan hati yang tulus. Sikap iman yang dalam dan penuh dengan ketekunan ini mungkin bisa dilihat dalam diri Ayub, yang walaupun merasa sedih ketika ia sedang diuji, ia toh tetap menunjukkan kesetian dan harapan dan secara terbuka menyampaikannya itu kepada Allah (bdk. Ayb 23:3-5).

Iman yang serupa malahan jauh lebih besar daripada itu ialah sikap iman yang ada pada Bunda Maria. Maria sudah dihormati dan tetap dihormati dalam kehidupan Gereja dan juga dalam hidup beriman kita sebagai wanita yang penuh iman sudah sejak peristiwa Anunsiasi (Kabar Sukacita) sampai berada di bawah kaki salib Putranya (bdk. Yoh 19:25-27). Ia tetap menunjukkan kesetiaan dan pengharapan yang mendalam kepada Allah. Sekalipun ia dimintai oleh Malaikat Tuhan agar menjadi Ibu Tuhan ternyata itu harus membuatnya “bertanya di dalam hatinya” (bdk. Luk 1:34), ia tetap menunjukkan imannya yang besar dengan menjawab “ya”. Iman Maria yang demikian, sekali lagi tetap diuji di sepanjang perjalanan hidup Puteranya, dan itu berpuncak pada Peristiwa Kalvari, ia tetap tegar dan terus berharap bahwa Allah berada bersamanya, dan ia tidak akan pernah ditinggalkan olehNya. Apakah iman dan pengharapan kita seperti Maria? Semoga.

Doa Penutup

Allah Bapa yang Maha Cinta, Engkau telah mengajari kami melalui Yesus Kristus PutraMu yang terkasih, jalan hidup yang benar untuk datang kepadaMu. Kami mohon, tanamkanlah dalam hati kami semangat yang berkobar-kobar untuk selalu bertekun dalam doa dan pengharapan. Jadikanlah hati kami seperti hati PutraMu dan buatlah kami selalu terbuka dan berharap kepadaMu serta teguhkanlah selalu iman dan pengharapan kami seperti Maria. Demi Yesus Kristus, PutraMu Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan bertahta bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.
×
Berita Terbaru Update