-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sadar Diri: Beriman Yang Rendah Hati, Namun Bukan Menjadi Kesombongan

Senin, 16 Maret 2020 | 22:16 WIB Last Updated 2020-03-16T15:26:09Z
Sadar Diri: Beriman Yang Rendah Hati, Namun Bukan Menjadi Kesombongan
Pater Tuan Kopong MSF

Adalah hak siapapun untuk membanggakan imannya kepada Tuhan atau kepada Yesus. Entah dengan menuliskan di dinding fb atau dikolom komentar terkait masalah covid-2019.

Namun bukan kemudian menjadi kesombongan rohani seperti beberapa komentar: “corona akan tertawa karena yang katanya pengikut Kristus tapi lemah imannya. Misa bersama baik harian dan mingguan bahkan hingga Tri Hari Suci ditiadakan untuk umat”. “Seharusnya ada misa supaya mengalahkan corona”.

Ada juga memprotes ketika air berkat di depan pintu gereja ditiadakan sesuai anjuran medis karena memiliki pontensi menyebarkan covid-2019: “masa air berkat takut sama corona”. Padahal justru menggunakan air berkat, kita bisa mengalahkan corona dan tidak akan terjangkit”.

Soal air berkat saya menyampaikan bahwa air berkat di gereja itu bukan magic. Bukan untuk mengusir setan atau bukan untuk melawan corona. Jangan menjadikan barang-barang suci termasuk air berkat sebagai magic. Kalau demikian maka bukan Yesus yang diimani tetapi air berkat yang dijadikan magic yang dipercaya.

Air berkat itu untuk mengingatkan kita pada pembaptisan kita dan dengan demikian mengingatkan tugas perutusan kita. Air berkat yang kita terima atau kita gunakan itu juga menjadi penghapus dosa-dosa kita terutama dosa asal ketika kita dibaptis sekaligus menandakan kehadiran Kerajaan Allah.

Kita boleh beriman tapi juga yang logis dan waras. Santo Anselmus dari Canterbury mengatakan bahwa iman membutuhkan pemahaman atau pengetahuan. Artinya beriman juga perlu refleksi yang kritis, cerdas, sistematis dan reflektif dengan bantuan pengetahuan dari disiplin ilmu yang lain. Untuk itu pulalah maka di setiap fakultas Teologi dipelajari yang namanya filsafat dan logika agar refleksi iman senantiasa kritis, cerdas, sistematis dan reflektif.

Kita semua ini pernah mengalami sakit. Atau orang tua, anak, adik, kakak, sanak saudara dan keluarga. Meski itu hanya sekedar pilek atau flu dan batuk. Dengan sakit itu jujur mengakuinya bahwa kita tidak hanya mengatakan bahwa iman kepada Yesus maka sembuh. Kita semua membutuhkan obat, dokter, perawat dan rumah sakit untuk kesembuhan. Atau yang protes apakah ketika sakit lalu duduk diam saja tanpa usaha karena iman kepada Yesus? 

Justru ketika sudah tahu sakit tetapi tidak ada usaha maka itu bukan lagi mengimani Yesus tetapi adalah kesombongan yang dipertontonkan. Iman itu tidak sekedar mulut komat kamit saat doa rosario, mata tertutup tapi ketika ada gempa bumi duluan yang lari. Mengimani Yesus bukan sekedar membanggakan Yesus di fb tetapi juga menyangkut tindakan.

Maka tindakan dan usaha untuk menyembuhkan diri dari sakit seperti tindakan dan usaha Gereja untuk mencegah penyebaran pendemik covid-2019 yang sudah meluas dan memakan banyak korban nyawa itu adalah iman sejati yang mengimani Kristus yang di sana ditemukan ada kerendahan hati dan usaha, bukan kesombongan.

“Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati” (Yak 2:17).

Apakah mereka yang terjangkit dan meninggal dunia tidak memiliki iman? Apakah corona memiliki agama? Apakah corona ketika datang menyampaikan kepada kita bahwa jangan takut saya hanya menjangkiti mereka yang tidak mengimani Yesus?

Ini masalah kesehatan. Dan seperti kata Santo Anselmus dari Canterbury, apa yang disampaikan secara ilmiah oleh pengetahuan lain perlu kita butuhkan untuk dan demi keselamatan jiwa-jiwa sesama dan kebaikan bersama.

Maka stop-lah untuk menjual kesombongan iman di medsos dengan memprotes segala kebijakan Gereja sebagai kekalahan terhadap corona. Segala bentuk kebijakan Gereja untuk keselamatan jiwa-jiwa dan kebaikan bersama dalam usaha pencegahan penyebaran covid-2019 adalah tindakan iman tertinggi dari hukum Kasih.

Yang terbaik dilakukan bersama sebagai orang beriman adalah:
1. Berdoa. Mohon kesembuhan bagi yang sakit, keselamatan jiwa-jiwa bagi yang meninggal. Memohon kekuatan dan berkat Allah agar persoalan ini segera teratasi.
2. Menjaga kebersihan sendiri, rumah, dan lingkungan.
3. Mengikuti anjuran para medis tentang usaha menangkal dan mencegah terjangkitnya covid-2019.
4. Dan mendukung langkah-langkah pemerintah ataupun Gereja dalam usaha pencegahan ini.

INGAT: Saya dan Anda sekalian, kita semua memiliki potensi dan peluang yang sama yaitu: menjadi korban dari covid-2019 atau menjadi penyebar covid-2019.
Maka mari kita sadar diri bahwa orang beriman adalah orang yang rendah hati dan bukan memamerkan kesombongan rohani. Salam Damai.

Manila: 16-Maret-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update