-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Santa Perawan Maria, Bunda dan Teladan Hidup Kaum Religius [Maria, “Maestra di vita spirituale”]

Selasa, 24 Maret 2020 | 19:45 WIB Last Updated 2020-03-24T13:11:22Z
Santa Perawan Maria, Bunda dan Teladan Hidup Kaum Religius [Maria, “Maestra di vita spirituale”]
 Pater Fidelis Wotan, SMM

Oleh: Pater Fidelis Wotan, SMM

PENGANTAR

Maria pertama-tama dipandang oleh orang-orang Kristiani dalam kualitas dirinya sebagai seorang ibu. Kehadirannya sebagai seorang ibu tentu memberi arti dan makna tertentu. Ada yang mengatakan bahwa jalan Allah bagi manusia pada dasarnya terbuka justru berawal dari keibuan Maria. Artinya melalui Maria, Allah itu menjadi seperti kita, menjumpai kita dan membawa keselamatan bagi dunia (bdk. Luk 1:26-38; Yoh 1:14, Gal 4:4). Allah menghendaki agar Sang Penyelamat menjadi tunas bagi kita justru datang atau keluar dari kemanusiawian kita melalui Santa Perawan Maria.

Maria adalah sosok yang berada di tengah- tengah kita, berasal dari kita sebagai manusia, namun kehadirannya dalam misteri Ilahi justru telah ikut mengubah wajah kemanusiaan kita menjadi wajah Putranya terkasih yang telah menjadi saudara kita. Maria adalah Bunda Allah sekaligus juga menjadi bunda kita.

I. MARIA DAN KEIBUANNYA

Sebetulnya apa yang menjadi keibuan Maria, itu dapat dikategorikan dalam dua cara berpikir seperti ini, yakni sebagai yang punya kekuasaan dan juga sebagai sosok yang penuh dengan belaskasihan (kemaharahiman). Gambaran Maria seperti ini, sebetulnya hidup dan melekat kuat dalam cara berpikir orang-orang pada abad-abad pertama.

Tentu hal tersebut dirasakan atau dialami pula dalam diri orang-orang yang masih memandangnya sebagai sosok yang berpartisipasi dalam kemuliaan dan kekuatan, keagungan Allah. Anggapan ini kemudian justru dirasakan dan dipahami sebagai Bunda Pengantara segala Rahmat (mediatrice e dispensatrice di tutte le grazie). Dikatakan demikian oleh karena melaluinya, Allah mau datang ke dalam dunia. Menurut Marcellina Maria Pedico, gambaran seperti ini dialami atau muncul dari pengalaman manusia yang mengalami pengalaman eksistensial berupa kesulitan, tantangan, pertentangan, konflik, penderitaan, dlsb. Itulah sebabnya, mengapa kemudian muncul sebuah nyanyian rakyat yang menerjemahkan gambaran-gambaran tentang Maria di dalam sebuah sintesis yang secara teologis begitu harmoni dan hidup: “Doakanlah kami, Maria, doakanlah anak-anakmu, Bunda yang seluruhnya engkau mampu, doakanlah kami ya Yesus.”

Di samping gambaran tersebut, muncul suatu lukisan lain tentang wajah keibuan Maria, yakni penuh dengan belas kasih (misericordiosa). Hal ini secara antropologis terukir dan menyatu begitu kuat dalam pietà popolare (kesalehan umat). Dalam konteks ini, kehadiran Maria dilihat sebagai dia yang mampu memahami, penuh perhatian, dan yang bersedia memberi bantuan. Ada banyak pelataran-pelataran Maria (tempat-tempat suci Maria – i santuari) yang memberikan kesaksian tentang lukisan peran dan fungsi Maria tersebut. Itulah sebabnya, mengapa Maria pun dapat disebut sebagai “Bunda Kerahiman Ilahi”. Dalam konteks ini, kita juga dapat melangkah masuk ke dalam sebuah penelusuran spiritual tentang kehadiran Maria bagi hidup umat Kristiani sebagai “Ibu Spiritual atau Rohani.” Dia adalah ibu yang setia mendengarkan dan memberikan bantuan dan pertolongan bagi siapa saja yang memerlukan dan merindukannya.

Seputar Nama Maria

Nama Maria ditarik dari kata ‘Miriam’ dalam bahasa Ibrani atau ‘Mariam’ dalam bahasa Aramik dan diterjemahkan menjadi ‘Maria’ dalam bahasa Yunani atau Latin. Sesungguhnya nama ini merupakan sebutan atau nama yang umumnya dipakai pada abad pertama di Israel atau di Palestina dan seringkali dipakai pula oleh kaum perempuan dalam Perjanjian Baru.

Setelah Maria, Ibunda Yesus, nama yang paling mudah diidentifikasi dalam Injil ialah nama Maria Magdalena, yang berasal dari wilayah Magdala, dekat Danau Galilea. Selain nama yang satu ini, dari Kitab Suci muncul beberapa nama Maria yang mana di antaranya dikaitkan dengan putra mereka. Di bawah kaki Salib dan di makam yang kosong, hadirlah Maria Ibu Yakobus muda dan Yoses (lih. Markus 15:40; Mat 27:56; dikenal pula sebagai Maria yang lain di dalam Matius, ‘Maria Yakobus’ di dalam Markus dan Lukas atau ‘Maria Yoses’ dalam Injil Markus) dan ‘Maria Kleopas’ (lih. Yohanes 19:25). Selain nama-nama itu, muncul nama Maria saudari Marta (dalam Lukas dan Yohanes, Maria ‘ibu Yohanes yang disebut juga Markus’ (Kis 12:12) dan Maria dalam Roma 16:6. Pertanyaan yang dapat diajukan, apakah nama-nama tersebut memperlihatkan identitas tertentu dan memiliki kaitan erat, relasi yang khusus pula dengan Maria?

Menurut Jaroslav Pelikan, secara umum dapat dikatakan bahwa kira- kira hampir di sepanjang dua ribu tahun ini, nama “Maria” dianggap sebagai sebuah nama yang paling sering dipakai oleh anak-anak perempuan saat mereka dibaptis dan melalui seruan “Yesus, Maria dan Yosef” atau hanya memakai sebutan “Yesus Maria” (Jezis Maria!). Ini seperti kebiasaan yang dipakai di wilayah Slovak (Eropa Timur) – dan juga barangkali di wilayah-wilayah lain di berbagai belahan dunia, sebutan seperti ini tampaknya begitu populer – dan seruan “Salam Maria” yang didaraskan berkali-kali di setiap hari pun dipandang sangat familiar di hati umat.

Pelikan menambahkan bahwa nama tersebut (Maria) merupakan sebuah nama yang paling sering diucapkan-digunakan di Dunia Barat. Hal yang paling menonjol ialah bahwa nama Maria terpatri atau dipakai di mana-mana, misalnya di dalam kesenian, musik, dll. Nama ini tentu saja digunakan jauh melebihi nama-nama wanita lainnya di dalam sejarah.

Pentingnya Kehadiran Maria dalam Hidup Kristiani

Dalam penghayatan hidup rohani, orang Katolik menyadari betapa pentingnya kehadiran dan bimbingan Bunda Maria dalam upaya menyatukan diri dengan Yesus Putranya. Meskipun demikian, adalah tidak mudah mendialogkan konsep, pandangan dan refleksi tentang Maria dengan kaum non Katolik, misalnya kaum Protestan, sebab kerapkali pembicaraan tentang Maria bagi mereka merupakan suatu batu sandungan. Kaum non Katolik sering memahami Kitab Suci dengan mentalitas “atau/atau”, misalnya ada yang mengatakan kepada orang Katolik demikian: “Anda mencintai Yesus atau Maria; mengikuti Yesus atau Paus.”

Menurut Frank Chacon, mentalitas “atau/atau” merupakan akar dari segala perbedaan ajaran antara Gereja Katolik dan bukan Katolik. Pendekatan Katolik persis berseberangan dengan pola pendekatan non Katolik tersebut. Pendekatan Katolik adalah menggunakan formula “baik/maupun”, di mana Kitab Suci dan Tradisi, baik iman maupun karya dan hal-hal lainnya dipegang teguh. Dari sebab itu, pendekatan “atau/atau” bisa saja betul, akan tetapi itu tidak dapat diterapkan terhadap Maria, sebab Kitab Suci tidak pernah memperlawankan Yesus dan Maria.

Kitab Suci justru dengan gamblang menyatakan bahwa Maria harus dihormati dengan penghormatan khusus. Jadi, ketika orang Katolik menghormati Maria, maka sebetulnya mereka menghormati Yesus yang memberikan keistimewaan kepada Maria. Jikalau demikian, maka penghormatan kepada Maria pada gilirannya nanti akan dipersembahkan Maria kepada Tuhan (bdk. Luk 1:46-55).

Gereja Katolik mengakui dan menghormati Maria sebagai sosok atau figur yang penting dan punya peran yang sangat besar dalam sejarah keselamatan manusia. Ia sudah diramalkan sejak dahulu kala (bdk. Kej 3:15; Yes 7:14; Mi 5:1-2; Zef 3:14-17; Yl 2:21-27; Za 9:9-10). Maria dinubuatkan menjadi sosok yang penting dan pantas dihormati. Ia menjadi seorang “ibu” yang dicintai oleh siapa saja. Kehadirannya sebagai ibu tidak hanya dibatasi dari sisi biologis (bukan sekedar ibu yang melahirkan Yesus, putranya), melainkan juga berperan dalam hal rohaniah.

Maria: Wanita Pilihan Allah

Maria sudah ada dalam rencana Allah. Ia telah dipersiapkan dan ditetapkan Allah menjadi Bunda Tuhan (bdk. Luk 1:26-38), dan Ibu dari semua orang yang beriman kepada-Nya, menjadi Bunda Spiritual (bdk. Yoh 19:26-27). Kebenaran ini lantas diafirmasi oleh Paus Paulus VI di mana Maria betul-betul diimani sebagai Bunda Spiritual kaum beriman Kristiani. Dalam Anjuran Apostolik Marialis Cultus n. 21 Paus menamakan Maria sebagai “singulis christianis pietatis magistra”, “maestra di vita spirituale”, guru rohani setiap kaum Kristiani. Dalam konteks ini, kehadiran Maria sebagai seorang ibu memiliki peran yang sangat penting.

Melihat dan merenungkan pentingnya peran Maria dalam sejarah keselamatan, Miri Rubin mengatakan bahwa sejarah misi awal di Asia, Afrika dan Amerika ternyata sangat menekankan posisi sentral Maria sebagai Bunda Kristus. Dalam konteks misi, adalah jelas bahwa Maria pada waktu itu dilihat sebagai “a key factor in attracting potential converts to Catholicism.” Dengan demikian, kehadirannya menjadi sangat berharga bagi misi pewartaan iman pada saat itu. Selanjutnya, Maria dipandang juga sebagai “figur wanita yang amat berpengaruh di abad modern.

Kalau berkaca pada apa yang diimani atau diyakini oleh Gereja dan diverifikasi secara historis, maka semestinya adalah mudah dan sederhana menjawab pertanyaan mendasar yang satu ini: “siapakah Maria?” Kita mengetahui bahwa sesungguhnya Maria adalah sosok sesudah Yesus yang paling sering dikenal dalam kristianitas dan dalam sejarah hidup manusia. Sosiolog Amerika, Andrew Greeley mengafirmasi bahwa Maria adalah representasi “simbol budaya yang lebih berpengaruh dan amat terkenal di dua ribu tahun terakhir.” Meskipun demikian, jauh sebelum darinya, yakni hampir pada millenium pertama adalah seorang yang bernama Bernardo Chiaravalle menamakan Bunda Tuhan sebagai “l’affare di tutti secoli”, sosok yang penting di segala zaman.

Kesan seperti ini sesungguhnya sudah melekat kuat dalam hati umat beriman Kristiani. Mereka pun sangat mengamini dan merasakan betapa Maria itu begitu dekat dan sangat terlibat, aktif dalam hidup beriman mereka. Berkenaan dengan ini, adalah tidak berlebihan bila menyoroti praktik hidup devosional kaum Kristiani terhadap Maria. Di situ bisa dilihat, diamati dan betapa dahsyatnya kerinduan hati mereka untuk datang kepada Maria, memohon rahmat-rahmat yang mereka butuhkan demi kehidupan mereka. Sedemikian eratnya persatuan rohani antara umat dan Maria di satu sisi membuat kita sebagai orang Katolik - bahkan mungkin yang non Katolik - seakan-akan memandang dan menganggap sosok Maria sebagai satu-satunya figur yang paling utama dalam hidup beriman. Kemudian di sisi lain, persatuan yang demikian erat, mesra tersebut justru dilihat sebagai sesuatu yang ‘berlebihan’ karena ada yang beranggapan bahwa kehadiran Maria telah mengalahkan reputasi Putranya sendiri Yesus Kristus yang adalah Juru Selamat dan Tuhannya (bdk. Kidung Magnificat Maria). Dualisme pemikiran ini mungkin saja menghibur, meneguhkan iman Kristiani, tetapi dapat juga mengganggu dan mengacaukan keberimanan itu sendiri. Oleh karena itu, adalah sangat penting dan amat berguna apabila kita belajar mengenal dan memahami siapakah Maria itu bagi umat Kristiani, terlebih lagi belajar mengerti dan memahami Maria dalam kacamata biblis dan menyelami peran serta kedudukannya dalam Tradisi iman Katolik atau dalam ajaran resmi (Magisterium) Gereja Katolik. Tentang ini, saya tidak ingin membahasnya secara detail di sini. Berikut ini, saya ingin menjelaskan bagaimana dimensi marial hidup dan bertumbuh dalam Spiritualitas Kristiani, yang mana keduanya saling terkait satu sama lain.

II. DIMENSI MARIAL SPIRITUALITAS KRISTIANI

1. Hakekat Spiritualitas Marial dalam Relasinya dengan Misteri Maria

Hakekat Spiritualitas Kristiani

Ketika orang berbicara tentang “spiritualitas”, maka sebetulnya hal yang ingin digarisbawahi ialah “hidup spiritual/rohani”, tepatnya “hidup menurut Roh Kudus.” Santo Paulus mendefinisikannya seperti ini: “berjalan dalam Roh” (Rm 8:4). Kita dapat memahami “kehidupan” itu seperti “menghidupi” apa yang yang menjadi bagian integral dari hidup kita dan menghidupi “suatu refleksi teologis tentang ‘kehidupan’ itu sendiri.”

Hidup “spiritual” pada dasarnya pertama-tama dikomunikasikan atau diteladankan oleh Yesus oleh karena hal itu dipahami sebagai suatu partisipasi pada kehidupan-Nya sendiri yang dapat disebut pula vita in Cristo (hidup dalam Kristus) (Kol 3:3; Gal 2,20, Fil 1,21).

Tatkala kita menyebut hidup “spiritual”, sebetulnya kita sedang membedakannya dari suatu kehidupan menurut “daging” atau menurut egoisme tertentu dan dosa. Semuanya itu tentu saja jauh dari kasih sebagaimana yang dikatakan Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma 8:9. Paulus berkata: “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus” (Rm 8,9). “Hidup spiritual” itu sejatinya sama dengan berjalan dalam kasih atau “hidup dalam kasih” (Ef 5:2) atau dengan lain perkataan “seperti Kristus mencintai kita” (bdk. Ef 5:2).

Hidup “spiritual” juga dapat disebut sebagai “hidup ilahi”, yaitu hidup menurut Kehendak Allah, menurut rencana keselamatan-Nya, “sesuai dengan maksud Allah”, untuk menjadi suatu “pujian akan keselamatan-Nya“ (Ef. 1:11- 12). Paulus berkata: “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – (Ef 1:11-12).

Hidup spiritual tersebut (spiritualitas) sejatinya berkaitan erat dengan keyakinan pribadi dan seluruh komunitas gerejawi. Jadi, itu menjelaskan soal kehidupan pribadi dan bersama. Hidup spiritual yang demikian, pada hakekatnya juga berasal dari “spiritualitas Gereja” yang sama seperti “misteri” (tanda yang jelas dan pembawa Kristus), “persekutuan” (persaudaraan, tubuh dan masyarakat), “misi” (Gereja diutus untuk mewartakan Kristus). Gereja menikahi (menghayati) hidup bersama Kristus Sang Mempelai dalam sebuah perjalanan: perjumpaan, relasi, persatuan, sequela, imitasi, konfigurasi, dll. Jadi, itu berbuah menjadi “sakramen keselamatan universal, dari sebab itu, wajah Kristus “menyinari wajah Gereja.” 

Hidup spiritual yang sama pula merupakan “vita di santita e di perfezione” (hidup kekudusan dan kesempurnaan) yang terdiri dari kasih, amal, hidup persekutuan gerejawi untuk membangun keluarga yang sama (tubuh, kenisah dan umat) yang diadakan oleh Kristus, kehidupan yang memiliki komitmen untuk membangun komunitas manusia sebagai cerminan dari Persekutuan Trinitas. Hidup spiritual merupakan hidup yang sepadan dengan “manusia baru, yang membangun kemanusiaan baru”. Dalam Gaudium et spes tertulis:

“Semakin dunia bersatu, semakin jelas pulalah tugas-tugas orang-orang melampaui kepentingan kelompok-kelompok khusus, dan lama-kelamaan meluas ke dunia semesta. Itu hanyalah mungkin bila setiap pribadi perorangan dan kelompok mengembangkan keutamaan-keutamaan moral dan sosial dalam diri mereka sendiri, dan menyebarkannya dalam masyarakat. Dengan demikian, memang sesungguhnya – berkat bantuan rahmat Ilahi yang memang diperlukan – akan bangkitlah manusia-manusia baru yang membangun kemanusiaan yang baru pula.”

Menurut Jose Esquerda Bifet, segala hal yang dibahas dan dipikirkan dalam kaitan dengan hidup spiritual (vita spirituale), sebetulnya mencakup aneka macam dimensi, misalnya: trinitaris, kristologi, pneumatologi, eklesiologi, antropologi, sosial, dll. Bifet menambahkan pula beberapa tema lainnya seperti: kontemplatif, panggilan, liturgi, misionaris. Kita pun dapat menambahkan beberapa dimensi lainnya misalnya, “kaum muda, kelompok- kelompok kategorial”, dll.

Hubungan dengan Figur Maria

Dalam seluruh bidang Spiritualitas Kristiani, salah satu hal yang perlu diingat dan menjadi semacam prinsip pegangan, yakni seluruh disiplin ilmu tentang Maria (Mariologi) perlu dipelajari secara saksama dengan misteri Kristus, Dia yang lahir dari Perawan Maria yang menyatu secara erat-utuh dalam karya penebusan Kristus sebagai “Model dan Bunda Gereja”.18 Berkenaan dengan ini, maka adalah tepat sekali apabila “Spiritualitas Kristiani” bersinggungan langsung dengan “Spiritualitas Marial”. Spiritualitas “Kristiani” seharusnya berkaitan pula secara langsung dengan “Spiritualitas Marial” sebagai bagian integral dan jaminan dari spiritualitas yang sama. Paus Yohanes Paulus II berkata bahwa hal ini berasal dari “suatu kebutuhan akan penyisipan yang harmonis “dimensi marial” dalam “Spiritualitas khusus Kristiani sebab berakar dalam Kehendak Kristus”.

Sudah sejak awal mula, Maria menunjukkan suatu keterbukaan yang total kepada Kristus, yakni seluruh karya dan misinya.20 Dengan mengatakan “ya” (bdk. Luk 1:38) kepada “Kabar Gembira Malaikat” – untuk menjadi Ibunda Tuhan dalam Ensiklik Redemptoris mater no. 39 – Paus mengatakan bahwa Maria menerima dan meneruskan peran keibuannya sebagai hadiah total dari dirinya bagi pelayanan demi tanda keselamatan dari yang Mahatinggi.

Dalam seluruh bidang kehidupan spiritual, seperti hidup di dalam Kristus dan hidup menurut Roh Kudus, menurut rencana penyelamatan Allah, Maria sejatinya merupakan prototype (model) Gereja seperti model dan pertolongan, serta personalisasinya:

“Karena karunia serta peran keibuannya yang Ilahi, yang menyatukannya dengan Putranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas- tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan oleh Santo Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut bunda dan perawan Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberikan teladan perawan maupun ibu.”

Hubungan antara Maria dan Gereja dilukiskan Konsili sebagai sebuah relasi yang berdiri di atas dasar cinta, di mana di situ dikatakan demikian: “Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka.”22 Secara efektif dikatakan bahwa memang pada dasarnya Gereja menyadari dan mengakui dengan penuh iman bahwa Maria adalah Bunda para anggota (Kristus). Konsili berkata:

“Bahkan ia memang Bunda para anggota (Kristus), … karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerja samanya supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota-anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus, Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih sayang sebagai bundanya yang tercinta”.

Gereja menunjukkan kesetiaannya kepada Kristus Sang Mempelai suatu keteladanan Maria dan melalui perantaraannya: “Gereja pun perawan, yang dengan utuh dan murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai. Sembari mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya.”

Doktrin marial dalam Konsili Vatikan II (Lumen gentium VIII) memperlihatkan Maria dalam gandengan dengan Misteri Kristus dan Misteri Gereja semata-mata untuk menggarisbawahi “relasi antara Gereja dengan Maria.” Pada dasarnya Gereja dipanggil untuk hidup dalam semangat kekudusan melalui jalan kasih mulai dari kehidupan yang biasa dan dari situasi kehidupan itu sendiri. Jadi, Gereja yang demikian dipanggil kepada kekudusan yang memandang secara khusus figur Maria sebagai model dan bundanya.

Gereja itu merupakan sakramen, yakni “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Gereja (lahir-berasal) dari Sabda yang seharusnya menghidupi dan mewartakan “Dei verbum” (Sabda Allah), juga Gereja yang merayakan Misteri Paskah (Sacrosanctum concilium), demikian pula Gereja yang berada di tengah dunia seperti benih injili (Gaudium et spes). Dari gambaran-gambaran seperti ini, Maria justru dipandang sebagai “model dan ibu yang hadir dalam perjalanannya secara aktif dan penuh keibuan”:

2. Peran Maria dalam Dinamisme Spiritualitas Kristiani

Dinamisme Spiritualitas Kristiani

Hidup rohani atau spiritual itu pada dasarnya merupakan sebuah proses, persisnya sebuah perjalanan kehidupan di dalam Kristus. Hidup di dalam Kristus biasanya membentuk suatu kriteria tersendiri dan memiliki skala nilai dan sikap tertentu melalui suatu perjalanan konfigurasi dan hubungan persahabatan dengan-Nya: relasi, persatuan, persahabatan, imitasi, transformasi (lih. Yoh 15:4). Hidup di dalam Roh biasanya akan mengubah seorang pribadi melalui perjalanan, pemurnian, pencerahan dan penyatuan hingga menjadikannya “transparan” yakni, menjadi “Saksi Kristus” (Yoh 15:26- 27; 16:14. Sesungguhnya kalau setiap orang hidup di dalam Tuhan, maka dia hidup dalam suatu komunikasi dengan rencana dan kehendak penyelamatan- Nya sampai “pemulihan” seluruh umat manusia dan semua ciptaan dalam Kristus (Ef 1:3-14; Kol 1:17).

Jalan rohani atau kesempurnaan ini, memiliki “meterai Roh Kudus yang adalah Roh Cinta” (Ef 1:11-12). Itu sebetulnya merupakan sebuah perjalanan “iman, harapan dan kasih” melalui tindakan Roh yang sama (rahmat-rahmat atau berkat-berkat-Nya) sampai semua orang di Komunitas bertindak dengan gaya Kristus sendiri: mengasihi dan memaafkan, menabur dan mewartakan kedamaian, menyatukan hati dan perasaan sesuai dengan kebahagian dan perintah kasih. Ini merupakan perjalanan iman akan Roh Kudus yang diutus oleh Kristus dalam nama Bapa (Yoh 15:26) hadir dalam hati orang yang percaya dan memancarkan cahaya pesan Injil (Yoh 16:13), mengubah setiap murid Kristus dalam kemuliaan-Nya dan ungkapan di dalamnya (Yoh 17:10).

Hidup spiritual mewujud dalam penegasan tindakan Roh Kudus dan dalam kesetiaan yang tulus atas kehadirannya (sikap relasi) pada terangnya (keterbukaan) dan atas tindakannya (komitmen).29 Setelah mengenal dan memahami beberapa uraian atau pun deskripsi atas dimensi tentang hidup spiritual tersebut (dalam bingkai Spiritualitas Kristiani), maka kita dapat menjelaskan dan menerangkan lebih lanjut hal-hal tersebut.

Jikalau memang hidup spiritual dimengerti demikian, maka sebetulnya itu menegaskan hal ini bahwa hidup spiritual sejatinya merupakan “sebuah perjalanan menuju Allah”, melewati hati yang menyatukannya. Sebetulnya ini merupakan sebuah perjalanan hidup teologis (iman, harapan dan kasih) yang diteguhkan oleh karunia Roh Kudus, jalan pembaptisan (menyatu-bersekutu dengan Kristus), jalan penuh kebahagiaan (supaya bekerja penuh dengan kasih), jalan pertumbuhan kepribadian manusia sebagai citra Allah, jalan harmoni dengan realitas manusiawi, jalan persekutuan bersama dengan semua saudara. Jadi, kalau berbicara tentang jalan (perjalanan) spiritual seperti ini, maka itu merupakan sebuah “perjalanan eksodus”. Melalui jalan ini, dosa dan kejahatan dilepaskan (menanggalkan dosa dan menyeberangi Laut Merah).

Dalam konteks perjalanan ini, hal yang terjadi kemudian ialah “membiarkan diri diterangi oleh Sabda Tuhan di Gunung Sinai, Yerusalem untuk bersatu dengan Tuhan”.30 Untuk itulah, jalan ini disebut sebagai sebuah “jalan pemurnian, penerangan dan persatuan untuk mengisi keegoisan diri untuk kemudian di isi oleh rahmat Tuhan dan akhirnya menjadikan hidup itu sebagai sebuah kado untuk Tuhan dan saudara-saudara di sekitar.

Tempat Maria dalam Perjalanan Spiritualitas

Maria itu hadir dalam cara yang aktif dan sebagai ibu di seluruh perjalanan hidup spiritual: panggilan (panggilan dan jawaban), kontemplasi (relasi pribadi dengan Tuhan), kesempurnaan (kebajikan dan karunia, askese dan mistik), persatuan (membangun hidup persaudaraan dalam Kasih Kristus), misi (liberos-kesiapsediaan misionaris / instabilles sumus), dll.31

Bersama Maria dan lewat pertolongannya, Gereja belajar dan menjawabi panggilan Allah (Panggilan, Luk 1:38), menyambut Sabda Allah di dalam hati (kontemplasi, Luk 2:19-51), bersekutu dengan Kristus untuk mencintai seperti-Nya (kesempurnaan, Yoh 2:4-5), melayani komunitas yang menyatukannya (persekutuan, Kis 1:14) menjadi tanda yang jelas dan sarana yang membawa Kristus bagi semua manusia (misi, Kis 12:1).

Jalan kekudusan setiap orang beriman dan di seluruh Gereja menemukan di dalam diri Maria sebuah contoh, model yang sempurna sebagaimana yang diperlihatkan oleh Konsili:

“Sementara ia diwartakan dan dihormati, ia mengundang umat beriman untuk mendekati Putranya serta kurban-Nya, pun cinta kasih Bapa. Sementara itu Gereja sambil mencari kemuliaan Kristus makin menyerupai polanya yang amat mulia. Gereja terus-menerus maju dalam iman, harapan dan cinta kasih, serta dalam segalanya mencari dan melaksanakan kehendak Allah. Maka tepatlah bahwa juga dalam karya kerasulannya Gereja memandang Maria yang melahirkan Kristus; Dia yang dikandung dari Roh Kudus serta lahir dari Perawan supaya melalui Gereja lahir dan berkembang juga dalam hati kaum beriman. Dalam hidupnya, Santa Perawan menjadi teladan cinta kasih keibuan, yang juga harus menjiwai siapa saja yang tergabung dalam misi kerasulan Gereja demi kelahiran baru sesama mereka.”

Bagi seluruh perjalanan hidup Kristiani, Konsili malahan melihat dalam diri Maria suatu pengaruh yang sangat menolong dan membantu manusia, yakni “pengaruh yang menyelamatkan” yang mana pengaruh dari Perawan Maria ini bertumpuh pada fungsi kepengantaraan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara Tunggal pada Allah (1 Tim 2:5-6). Dikatakan demikian sebab Konsili dalam LG 65 mengatakan bahwa Maria secara mendalam memasuki sejarah keselamatan, dan melalui cara tertentu merangkum serta memantulkan pokok- pokok iman yang terluhur dalam dirinya. Dalam nomor itu tertulis lanjutannya demikian: “Sementara ia diwartakan dan dihormati, ia mengundang umat beriman untuk mendekati Putranya serta kurban-Nya, pun cinta kasih Bapa.”

Dari paparan dan beberapa catatan sebelumnya tentang perjalanan kekudusan bagi umat beriman, dapat dilihat bahwa apa yang disebut dengan “jalan kekudusan” pada dasarnya merupakan sebuah “perjalanan iman, harapan dan kasih” yang menyatu pada Kristus di bawah tindakan pengudusan oleh Roh Kudus menurut Kehendak yang menyelamatkan dari Bapa.” Konsili mencatat: “… Gereja … mencari kemuliaan Kristus makin menyerupai polanya yang amat mulia. Gereja terus-menerus maju dalam iman, harapan dan cinta kasih, serta dalam segalanya mencari dan melaksanakan kehendak Allah.”

Menurut Bifet, Maria hadir secara aktif sebagai model, Bunda dan pengantara dalam Spiritualitas Kristiani. Untuk lebih sederhananya, Bifet membantu kita melihat tabel di mana Maria hadir (berperan-berpengaruh) bagi perjalanan hidup manusia, dia yang tampil sebagai model, Bunda dan pengantara:


Setelah kita mendalami hakekat Spiritualitas Marial sebagai bagian utuh dari Spiritualitas Kristiani, berikut ini saya ingin memperlihatkan bagaimana Maria – dalam seluruh dinamika hidup Kristiani – hadir sebagai sosok yang menjaga, melindungi dan membimbing atau mendidik setiap orang Kristiani. Dia adalah “Guru Kehidupan Spiritual” sebagaimana yang ditegaskan oleh Paus Paulus VI dalam Marialis cultus no. 21.

III. MARIA HADIR SEBAGAI GURU KEHIDUPAN SPIRITUAL [”MAESTRA DI VITA SPIRITUALE”]

1. Maria, Ibunda Spiritual [Rohani] bagi Semua yang Merindukan Keselamatan

Pada peristiwa di Kalvari (Yoh 19:26-27), Yesus memandang Sang Ibu dan berkata; “Ibu, inilah anakmu!” Menurut tafsiran ekseget Marianum (Roma), Serra, Yesus adalah Nabi-Utusan dari Allah (bdk. Yoh 4, 19.44; 9:17). Yesus menyatakan Ibu-Nya sebagai Ibu dari semua orang yang beriman kepada-Nya, diwakili oleh kehadiran murid yang dikasihi Yesus di Kalvari. Kehadiran murid tersebut merupakan simbol yang menunjuk kepada semua orang yang percaya kepada Sang Penebus. Semua mereka juga adalah anak-anaknya (murid-murid). Dan sebaliknya, Yesus menyatakan bahwa Maria sendiri adalah Ibu bagi murid itu; juga Ibu dari semua orang yang beriman kepada-Nya. Sesungguhnya, kata- kata Yesus itu merupakan “roh dan kehidupan” (Yoh 6:63).39 Di sini ditekankan sebuah aspek yang sangat bermakna sebagaimana Yesus menetapkan Maria, Ibu-Nya sebagai “Ibu” rohani dari murid yang dikasihi-Nya, dan menetapkan bahwa murid-Nya itu pun tidak lain adalah seorang anak” (putra) rohani dari Maria.

Dalam Yoh 2:4 Yesus menyapanya sebagai “Ibu.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau daripada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Apa yang ditampilkan oleh penginjil Yohanes merupakan sebuah ayat yang “unik, khusus”, di mana tak dapat diragukan lagi bahwa sosok seorang Ibu hadir kembali. Peran Maria dalam peristiwa di Kana merupakan sebuah tema diskusi yang amat menarik. Dikatakan bahwa perilaku atau sikap Maria dalam pesta tersebut merupakan representasi dari sikap semua mereka yang mengharapkan keselamatan.

Dikatakan demikian oleh karena menurut teolog dan mariolog sekaliber Stefano de Fiores, Maria memohon karunia Yesus bagi orang lain. Oleh karena itu, seandainya doanya dikabulkan (jelas sekali dalam peristiwa itu, apa yang diminta Maria kemudian dikabulkan oleh Sang Putra), maka penambahan anggur (kelebihan anggur) dipahami secara simbolis sebagai sesuatu yang menunjuk ke arah masa depan bahwa sekaranglah dalam diri-Nya diberikan penggenapan abadi. Maria harus menerimanya itu, sebagaimana murid yang dikasih-Nya diterima dan tinggal bersamanya. Dialah yang akan menyatakan kepada Maria seberapa besar dan dalamnya hasrat untuk mengetahuinya sebagaimana yang diinginkan Maria dan menjelaskan kepadanya apa yang dikatakan Yesus.

Sampai pada poin ini, dapat ditelaah bagaimana jikalau Ibu Yesus tidak dapat mewakili, dalam caranya yang khusus, bagian Israel yang terbuka pada keselamatan? Pada peristiwa di bawah kaki Salib, haruslah diingat bahwa tidak hanya Ibu Yesus yang diserahkan atau dipercayakan kepada murid yang dikasihi-Nya, tetapi murid itu pun diserahkan ke tangan Maria sebagai Ibunya. Menurut J. Lauterbach, ketika Yesus mengatakan hal tersebut kepada murid yang dikasihi dan kepada Maria, Dia sendiri sadar (tahu) bahwa kematian saat itu sudah sangat dekat. Pada level praktis, kata-kata Yesus tersebut meyakinkan sang murid untuk menerima Ibu-Nya. Hal ini dapat ditafsir secara tepat sebagai tindakan kasih kemuridan sang anak bahkan dalam penderitaan yang luar biasa dan pada saat kematian-Nya.41 Mungkin ini pun secara khusus mau menyiratkan Komunitas Kristen akan rahim seorang Ibu yang melahirkan Yesus dan Gereja. Terlepas dari setiap kontroversi dengan Yudaisme yang tidak percaya, jelas sekali dalam Injil Yohanes tampak sebuah tindakan proselitisme yang ditujukan kepada kelompok umat Allah Perjanjian Lama yang terbuka terhadap iman. Dengan cara ini, keinginan yang mendasar untuk menunjukkan kepada murid dan Komunitas Kristen Maria, yakni semua orang yang menanti keselamatan tidak hanya tidak dibatalkan, namun dipastikan bagi “orang Israel yang sejati.” Penafsiran ini – yang melihat figur Maria sebagai wakil dari semua orang yang mencari keselamatan – sesungguhnya didukung dan diperkuat oleh peran murid yang dikasihi Yesus. Murid yang dikasihi adalah dia yang percaya akan  Yesus,  kepada  siapa Yesus  membuka  relasi-Nya  yang intim (lih. Yoh.13:23-26), yang percaya (lih. Yoh 20:8) dan mengetahui dengan iman (lih. Yoh 21:7), yang oleh karena itu juga dipanggil untuk menjadi penafsir wahyu Yesus.

Berbagai interpretasi tentang sosok murid ini sepakat untuk mengakui bahwa bagi komunitas Yohanes, dia adalah orang yang mentransmisikan dan menjelaskan pesan Yesus, pewahyuan diri-Nya dan keselamatan bagi manusia. Oleh karena itu, jika murid yang dikasihi Yesus menerima peran Maria tentang apa yang harus dilakukan sebagai panggilan dari Gurunya, itu berarti bahwa dia juga harus menjaga, memelihara semua mereka yang mencari keselamatan. Dengan cara inilah, dia harus menyambut mereka bagi dirinya sendiri. Dalam konteks ini juga relevan apa yang dikatakan bahwa murid ini harus “tinggal” sampai Tuhan datang (lih. Yoh 21,22). Mengenai penerimaan Maria oleh murid yang dikasihi itu, sebetulnya menunjukkan keterbukaan, penerimaan, hubungan pribadi dan cinta yang aktif. Ini merupakan sikap spiritual yang sejalan dengan iman, yang dalam Injil Yohanes diperuntukkan bagi pribadi Yesus (lihat Yoh 1:11-12; 5:43-44; 13:20).

Mengenai kehadiran Maria yang signifikan di bawah Salib dan penyerahan murid yang dikasihi Yesus ke tangan Maria, memperlihatkan pula dimensi tipologis-simbolis sebagai gambaran tentang Gereja, suatu konsepsi yang meluas dimulai dari abad XIII dalam penafsiran gerejawi dengan varian yang berbeda. Menurut Rudolf Schnackenburg, simbolisme sosok Maria di kaki Salib menunjukkan dan menjelaskan bahwa tepatnya penunjukan Maria sebagai “Ibu” dan “Perempuan” (wanita), mengingatkan kita akan gambaran yang dicintai di dalam Perjanjian Lama tentang Israel dan Sion sebagai “Perempuan dan Ibu.” Schnackenburg menjelaskan bahwa istilah “perempuan” digunakan untuk menjalin hubungan dengan Hawa (tipologi tentang Eva-Maria sudah menyebar dalam teologi patristik). Ekseget ini pun kemudian menggarisbawahi bahwa gambaran tentang Gereja muncul lebih awal dalam Komunitas Kristen perdana dan dibuktikan di beberapa bagian Perjanjian Baru (lih. Gal 4:26, 2 Kor 11:2; Ef 5:25; Why 19:7; 21:2,9). Akan tetapi, mungkin di sini menimbulkan pertanyaan, apakah semuanya ini mencerminkan pemikiran penginjil keempat. Langkah-langkah lain ternyata menempatkan Gereja, sebagai “pengantin perempuan” atau “wanita”, dalam cahaya yang bersinar terang sampai pemenuhan eskatologis. Schnackenburg menulis:

“Un collegamento con Maria, la madre del Messia, al Massimo si potrebbe vedere in Ap 12,1-6, se questa fosse l’esatta interpretazione della visione della donna celeste, cosa che gli esegeti moderni mettono in dubbio. L’immagine della madre di Gesù tratteggiata nelle nozze di Cana non autorizza affatto speculazioni del genere; la parabola della partoriente non deve necessariamente essere interpretata in senso simbolico-tipologico (vedi Gv 16,21). Infine, la scena ai piedi della croce non può sottintendere tanto allegorismo: l’enunciati principale resta che Maria è affidata al discepolo e che questi la prende con sé.” (Suatu hubungan dengan Maria, Ibu Mesias, paling banter dapat dilihat dalam Wahyu 12:1-6, jika ini merupakan interpretasi yang tepat dari visi perempuan surgawi, sesuatu yang oleh para penafsir modern dipertanyakan. Gambaran tentang Ibu Yesus yang dilukiskan pada peristiwa Perkawinan di Kana sama sekali tidak menodai spekulasi semacam itu; perumpamaan tentang persalinan perempuan tidak harus ditafsirkan secara simbolis-tipologis (lihat Yoh 16:21). Akhirnya, adegan di kaki Salib tidak bisa menyiratkan begitu banyak alegoris: pernyataan utamanya tetap bahwa Maria dipercayakan kepada murid dan bahwa dia menerimanya). 

Adegan Golgota, di mana Yesus mempercayakan Ibu-Nya kepada murid yang dikasihi, sebetulnya itu menunjukkan pula suatu perspektif lain yang sangat penting tentang makna keselamatan bagi manusia atau dunia. Cara yang bisa dipakai dalam merefleksikannya adalah dengan melihat lebih jauh “perspektif historis-penyelamatan” yang diungkapkan dalam ayat berikutnya (lih. ayat 28). Hal ini muncul pula dalam adegan (episode) yang sedang dibicarakan (Maria di bawah kaki Salib, berada di bawah tanda penggenapan Kitab Suci). Yohanes menulis: “Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Aku haus!” (Yoh 19:28). Menurut de Fiores, apa yang dikatakan tentang Maria dan muridnya tidak lain merupakan sebuah ramalan tentang penggenapan Perjanjian Lama (lih. Kej 3:15). Ia menulis: “Makna dari Injil Yohanes bukanlah penyerahan, melainkan adopsi atau mempercayakan diri dan oleh karena itu keibuan mesianis dari Maria menemukan gambaran tentang nubuat ini dalam diri “perempuan” dalam kitab Kej 3:15 atau dalam diri ibu Yerusalem dari anak-anak Allah yang tercerai-berai (bdk. 49:18-22; 54:1-3; 60:4).”

2. Memandang Maria sebagai “Guru Spiritual”: Model Pembaktian Diri kepada Allah

Salah satu pertanyaan fundamental yang dapat diajukan ketika umat Kristiani ingin belajar dan mengalami kehadiran Maria dalam hidup sehari-hari, yakni “Siapakah Maria bagi hidupnya?” Apakah Maria sudah menjadi figur penting dan berharga bagi perjalanan panggilannya? Sejauh mana Maria menjadi sosok yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan imannya?

Pada hakekatnya, Gereja mengakui dan menyebut Maria sebagai Ibu kaum beriman, Bunda dari semua orang yang beriman kepadanya. Teks Kitab Suci yang dapat digunakan untuk menunjukkan hal ini – seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya – ialah Yoh 19:25-27. Kehadiran Maria di bawah kaki Salib Putranya dan penyerahan dirinya kepada murid yang dikasihi Yesus merupakan unsur penting dalam melihat dan merujuk Maria sebagai Ibu dari semua orang yang merindukan keselamatan. Dengan demikian, tepat pula jikalau ia disebut sebagai “Guru Rohani” bagi semua umat Kristiani.

Maria telah dinubuatkan menjadi figur yang penting dan pantas dihormati. Ia menjadi seorang “Ibu” yang dicintai oleh siapa saja. Kehadiran Maria sebagai Ibu tidak dibatasi sebagai Ibu yang melahirkan putranya, melainkan hadir pula sebagai pribadi (Ibu) yang berperan dalam mendidik dan membimbing putra-putrinya. Ia telah disiapkan Allah menjadi Bunda Tuhan dan Ibu dari semua orang yang beriman kepada-Nya, menjadi Bunda Spiritual (bdk. Yoh 19:25-27). Kebenaran ini sudah diafirmasi oleh salah seorang Paus Marial, Paus Paulus VI di mana Maria benar-benar diimani sebagai Bunda Spiritual, Rohani kaum beriman Kristiani. Dalam Anjuran Apostolik Marialis Cultus n. 21 Paus yang telah menjadi santo ini, menyebut Maria sebagai “singulis christianis pietatis magistra”46, “maestra di vita spirituale”, guru rohani setiap umat Kristiani. Dalam konteks inilah, Maria dilihat sebagai ibu yang memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan iman setiap kaum Kristiani.

Sebagai kaum religius, kehadiran “Ibu spiritual ini” justru dalam konteks yang paling dalam memainkan peran yang amat vital bagi hidup dan panggilan mereka. Kehadiran Maria bagi hidup dan panggilan seorang religius adalah sesuatu yang sangat mendasar. Seorang religius pantas meneladani Maria dalam segala-galanya terutama dalam meniru keutamaan-keutamaan atau kebajikan-kebajikannya. Dalam hidup dan pembinaan kaum religius, misalnya para imam (juga calon imam) dan para anggota Hidup Bakti lainnya, pada poin ini sejatinya memiliki panggilan yang amat istimewa, yakni bersatu erat dengan Sang Perawan Maria. Darinya, ia belajar bagaimana menghayati hidup dan panggilannya sebagai seorang religius. Menjadi religius berarti menjadi seorang yang marial; terus-menerus menghayati pembaktian dirinya kepada Allah melalui tangan Maria. Jikalau seorang religius ingin menyerahkan, membaktikan dirinya secara total kepada Allah, maka Maria adalah teladan unggulnya (bdk. Luk 1:38).

Maria telah menghayati suatu bentuk pembaktian diri yang total dalam seluruh hidupnya di hadapan Allah. Sebagaimana hakekat dasar hidup seorang religius adalah membaktikan diri (mempersembahkan, menyerahkan diri) secara utuh dan penuh kepada Allah, seorang religius patut memandang Maria sebagai model pembaktian atau penyucian diri (modello di consacrazione) sebagaimana yang diutarakan oleh Bruno Moriconi. Dalam konteks ini pula, tepatlah apabila Maria juga dapat dijadikan sebagai model hidup Kristiani, “modello di vita Cristiana sic et simpliciter. Tentang ini, dalam konteks pembaktian diri secara formal, pada dasarnya hanya Injil Yakobus (Proto- vangelo di Giacomo) yang menceritakan bagaimana Maria dipersembahkan kepada Allah dalam Bait Allah agar tetap suci dan dipisahkan dari hal-hal duniawi.

Sebagai model atau guru kehidupan spiritual, tentu Maria dalam arti yang paling dasariah memiliki peran yang sangat penting. Peran itu bisa dilukiskan sebagai seorang ibu yang membimbing, mendidik, memelihara putra-putrinya samaseperti peran yang sama telah ia tunjukkan dan berikan secara langsung kepada Yesus putranya. Jadi, pemeliharan Maria sebagai seorang Ibu tidak hanya bersifat eksklusif bagi Putranya sendiri, tetapi menjadi gambaran atau model bagi pemeliharaannya secara spiritual bagi kita putra- putrinya (bdk. Yoh 19:25-27). Kalau direfleksikan lebih jauh, sebetulnya ada beberapa motivasi yang melatar- belakangi mengapa setiap orang Kristiani ingin mendekatkan diri pada Maria atau mencari pertolongan dan pemeliharaan kepadanya. Maria Marcellina Pedico mengatakan bahwa sebetulnya ada dua motif dasar yang mendorong orang melihat dalam diri Maria sesuatu yang sangat disukai atau disenangi.

Pertama, hal yang seringkali diabaikan dan dilupakan oleh para gembala, yakni keyakinan umat yang melihat Maria sebagai sosok yang hadir secara nyata dan sangat hidup bagi mereka. Artinya bahwa Maria dilihat dan diyakini sebagai “protettrice” (pelindung), “viva” (dia yang hidup), dan “forte” (dia yang kuat), teladan dan penuh kasih sayang, dan ia memimpin, membimbing semua orang beriman (kaum Kristiani) kepada Kristus, putranya. Jadi, dalam konteks ini, umat secara kodrati sudah memiliki dalam diri mereka sendiri apa yang disebut dengan “sensus fidei” (intuisi iman – pikiran iman) yang sangat mendasar, sebuah intuisi yang muncul begitu saja dari dalam hati manusia tanpa ada rasionalisasi. Ringkasnya, intuisi ini lahir dari dalam diri seseorang secara spontan tanpa dibimbing oleh daya nalar atau akal budi untuk memeriksa kebenaran suatu hal yang sedang dialami dan dirasakannya. Dalam arti inilah, Pedico mengatakan bahwa kehadiran Maria justru dilihat sebagai seorang “ibu” yang selalu hadir bagi anak-anaknya, selalu siap menanggapi kebutuhan konkret mereka, memperhatikan dan mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan kepadanya.

Kedua, Maria sangat mudah didekati, disukai dan sangat dicintai oleh Umat Allah oleh karena mereka melihat dirinya sebagai sosok (subjek) yang kaya akan popularitas dan menemukan diri mereka di dalam dirinya. Pedico menjelaskan bahwa dalam gambarannya, bagaikan di dalam sebuah Injil tanpa ada banyak penafsiran atau penjelasan, umat merasakan sebuah model, suatu tindakan manusiawi, yakni rendah hati dan sederhana.

Gambaran-gambaran Maria di atas, sekurang-kurangnya telah membangkitkan begitu dalamnya antusiasme (passion) dan rasa cinta dan kedekatan umat terhadapnya. Dari sebab itu, sebutan atau julukan Maria sebagai “Ibu Rohani” bagi semua orang yang percaya pada bimbingan dan perlindungannya pantas disematkan padanya. Setiap kita mungkin memiliki pengalaman itu, sebuah pengalaman yang menceritakan bagaimana Sang Bunda begitu dekat dan menyatu dengan hidup kita, sehingga pantaslah kalau ia pun dapat menjadi “Guru Spiritual”, “Guru kehidupan Rohani” yang ikut membentuk kepribadian seseorang dalam perjalanan panggilan, karya dan perutusannya di tengah-tengah dunia.

IV. PERAWAN SUCI MARIA: TELADAN KEKUDUSAN

Pengudusan merupakan sebuah konsep umum bagi semua ungkapan religius dan dapat memandang hal lain (riguardare cose), aneka tempat dan pribadi yang memiliki relasi istimewa dengan keilahian (red: relasi dengan yang kudus-suci). Hal itu menurut Moriconi dapat dimengerti dalam arti “pemisahan” baginya atau “dedikasi”. Bruno Moriconi mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru istilah ini merujuk pada fakta, aneka objek, tempat, dan orang-orang yang terpilih dan diabdikan (didedikasi) pada Yahweh melalui sebuah ritus “pengurapan”. Gagasan dasarnya ialah bahwa segala sesuatu adalah “profan”, kecuali kalau itu dimurnikan dan dipersembahkan untuk ibadah, secara praktis istilah ini absen dari Perjanjian Baru.

Kekudusan Maria dan Pengudusan Kristiani

Sebetulnya, para penginjil tidak berbicara tentang suatu pengudusan dalam arti formal, dan hanya Injil Yakobuslah yang mengisahkan bahwa Maria dipersembahkan ke Bait Allah supaya menjadi kudus di hadapan Allah dan menjaganya dalam suatu lingkungan yang kudus dan terpisah dari hal-hal profan (dunia). Menarik sekali APAbila memperhatikan hal-hal khusus yang berkaitan dengan kehidupan Yohakim dan Ana. Hal ini muncul dari sebuah penemuan teks papyrus Bodmes V, di mana para peneliti pada pertengahan abad kedua memberikan pandangan mereka. Di dalamnya antara satu dengan yang lain, dibaca demikian:

“Bayi perempuan bertumbuh [baca: menjadi kuat] hari demi hari dan ketika berumur enam bulan, sang bunda menaruhnya di atas tanah untuk mencoba kalau-kalau ia langsung berdiri. Dan sebetulnya ia mengambil tujuh langkah, lalu kembali ke pangkuannya [dan] berkata kepadanya: “(betapa benar hidup) Tuhan Allahku, ia tidak akan jalan di atas tanah sampai saatnya saya tidak akan menuntunmu ke dalam bait Tuhan”. Jadi, di kamarnya ia membuat tempat perlindungan dan melalui tangannya ia tidak membiarkan hal yang bersifat profan dan najis menyentuhnya. Saya menyapa putrinya orang Yahudi yang tak bernoda. Tatkala anak itu melewati tahun itu, Yohakim mengadakan pesta besar: ia mengundang para imam, ahli Taurat, dewan penatua dan semua orang Israel. Jadi, Yohakim memperkenalkan bayi itu kepada para imam, kemudian mereka memberkatinya, berkata; “Oh Allah para leluhur kami, berkatilah bayi ini dan berilah padanya sebuah nama yang dikenal secara abadi di semua generasi”. Dan semua umat berseru: “Jadi begitulah! Amen”. Saya memperkenalkannya juga kepada para imam agung, yang mana mereka memberkatinya, berseru: “Oh Allah yang agung, pandanglah bayi ini dan berkatilah dengan berkat yang terakhir, yang tidak dimiliki oleh yang lain sesudah dirinya”. Kemudian sang ibu membawanya ke tempt suci di kamarnya dan memberinya “la poppa” (baca: buritan-palungan). […] Setelah berusia dua tahun, Yohakim berkata kepada Ana: “Untuk memelihara janji yang sudah dibuat, ayo bawalah ke Kenisah Tuhan, supaya Tuan tidak memarahi kita dan persembahan kita berhasil diterima”. Ana menjawab “Kita menunggu usia yang ketiga, supaya bayi itu tidak lagi mencari bapa dan ibunya. Yohakim menjawab: “Kita menunggu”. Ketika bayi itu genap tiga tahun, Yohakim berkata: “Panggilah para putri kaum Ibrani yang tidak bernoda: masing-masing mengambil obor yang bernyala dan tetap menyalakannya agar anak itu tidak berbalik dan hatinya tidak tertarik keluar dari Bait Suci Allah”. Mereka melaksanakannya kemudian pergi ke Bait Suci Allah. Imam menyambut dan mencium, memberkatinya, berseru: “Tuhan telah memuliakan namamu di segala keturunan. Pada hari yang terakhir Tuhan akan memaklumkan penebusannya di dalam dirimu bagi anak-anak Israel”. Kemudian dia membuatnya duduk di tangga ke tiga dari mezbah dan Tuhan Allah menyelimutinya dengan rahmat; dan ia menari dengan kakinya dan semua rumah Israel mulai memanfaatkannya. Maria dibesarkan di Kenisah Allah bagaikan seekor merpati dan menerima makanan dari tangan seorang malaikat (…)”.

Menurut Bruno Moriconi, sesungguhnya kisah itu didasarkan pada sebuah intuisi yang sangat bermakna pada saat ini apabila disandingkan dengan misi Maria, namun itu justru bertitik tolak hanya soal sebuah intuisi, dan hal itu dirasakan cukup tidak kompatibel (tepat) dengan permusuhan para pemimpin agama di masa depan dan, merupakan sebuah tradisi yang sumber kanoniknya (hukum) bukan jadi jaminan. Tentang Maria dan pengudusan Kristiani, para penginjil bergerak melampaui semua hubungan sang Perawan dengan perjanjian dan pengudusan Umat Allah.52 Biarawan karmelit ini kemudian melihat lebih jauh seperti apakah Maria mendapat karunia istiemwa ini. Ia mengatakan bahwa Maria “disucikan” secara istimewa, di mana ia memberi dirinya secara total kepada Allah. Objek dari pandangan Kasih Allah, ia penuh dengan rahmat dan “objek tetap kebaikan dari Allah” (Luk 1:28). Putri Sion atau personifikasi dari “semua” komunitas mesianis, menyambut Tuhan dalam rahimnya, Maria menjadi kegenapan dari Tabut Perjanjian (Tabernakel) Allah baru (Kel 40:35) dan kediaman baru umat (la nuova arca) Perjanjian.

Berkat ‘spirit’ kesiapsediaannya sebagai seorang ibu, Maria memulai dan menerima kehadiran “Allah beserta kita” dalam suatu hubungan yang mendalam dengan Tuhan, dan oleh karenanya bersama dengan Yang Kudus yang menguduskannya dengan naungannya (Luk 1:35). Kata-kata dengan mana di sini ditempatkan pada sebuah disposisi penuh mengenai Allah53, dipandang oleh Moriconi sebagai kata-kata yang mengandung suatu makna religius yang mendalam dan menunjukkan penerimaan ketaatan pada rencana penyelamatan. Dia membaharui pemberiannya pada waktu Yesus dipersembahkan di Bait Allah (Luk 2:22-38), memasukkan kolaborasi keibuannya dengan pengudusan imamat Kristus dan partisipasi secara aktif pada pengudusan pengorbanan diri- Nya yang akan berpuncak di Kalvari.

Maria yang dikuduskan pada pelayanan Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, oleh Moriconi dipandang sebagai bukti khusus dari dua peristiwa yang disebut Yohanes, yakni Perkawinan di Kana dan Peristiwa Kalvari, di mana malahan di situ muncul peran kepengantaraannya. Pada peristiwa Perkawinan di Kana, “Maria berada di antara Yesus dan para pelayan, pada cara yang sama pula, Musa berdiri antara YHWH dan umat-Nya … Maria, dengan demikain, adalah orang beriman yang berbahagia54, merupakan seorang “wanita”, yang mewakili dalam pribadi yang tepat, Israel lama masuk ke dalam kepenuhan waktu,  melakukan  tugasnya  dan  menempatkan  pada  para  pelayan tindakan iman, tipe “komunitas” Perjanjian Lama: “Semua yang dikatakan YHWH, kami melakukannya” (Kel 19:8) “Apa yang dikatakan-Nya itu buatlah” (Yoh 2:5).”

Dengan kata lain, menurut Moriconi di bawah kaki Salib, Maria diserahkan oleh Putra-Nya sebagai ibu bagi Komunitas Mesianis dan bagi semua manusia, yang diwakili oleh murid yang dikasihi oleh Yesus (bdk. 19:25- 27), menjadi Sion yang seharusnya diakui sebagai miliknya, anak-anak dari setiap bangsa yang jauh. (bdk. Yes 60:4; Bar 4:37; 5:5). Maria bahkan hadir pula pada Pentekosta dalam keheningan, akan tetapi dia yang secara total diubah oleh Roh Kudus, pun dapat mendampingi [para Rasul] dalam menantikan kedatangan Roh yang sama yang akan membentuk Gereja [Kis 1:14 dan 2:1-4].

V. MENJADI KAUM RELIGIUS [HIDUP BAKTI] YANG BERJIWA MARIAL

Dalam konteks panggilan hidup menjadi religius atau Hidup Bakti,56 sebetulnya kehadiran Maria merupakan unsur yang penting. Artinya keberadaannya di dalam seluruh perjalanan hidup mereka (para imam, biarawan/i) pada umumnya bukan merupakan sebuah kebetulan saja, melainkan menjadi sesuatu yang mutlak perlu; absolute(ly) condition. Dari sebab itu, jikalau memang Maria menjadi figur yang penting dalam perjalanan hidup para religius maka sesungguhnya seorang religius dipanggil untuk mendesain diri, membentuk atau menganyam dirinya sebagai pribadi yang berkarakter marial, berjiwa marial atau memiliki semangat dan gaya hidup seperti Maria. Tentang ini, sebetulnya ada banyak hal yang bisa dikatakan di dalamnya.

Menjadi seorang religius yang berjiwa marial adalah sebuah pilihan dan panggilan hidup. Penghayatan hidup yang berjiwa marial dapat dihayati dalam dan melalui semangat “Pembaktian Diri” (baca: pemberian diri) kepada Yesus lewat Maria. Dengan demikian, “Pembaktian Diri” ini, sejatinya juga bercorak marial. Sebelum masuk ke dalam pembahasan yang spesifik tentang “Pembaktian Diri” tersebut, akan dipaparkan terlebih dahulu “Model Pembaktian Diri” yang dihayati oleh Yesus yang adalah teladan unggul “Pembaktian Diri” kaum Hidup Bakti.

1. Yesus Kristus: Model Unggul Pembaktian Diri Kaum Religius

Model unggul pembaktian diri dalam hidup religius ialah Yesus sendiri. Ia telah menghayati secara total Pembaktian Diri-Nya kepada Allah Bapa. Hal ini dapat dilihat dalam teks-teks Perjanjian Baru berikut ini:

Ibrani 10:5-7
Dalam teks ini, penulis Surat kepada Umat Ibrani mendeskripsikan model “Pembaktian Diri” yang dihayati oleh Yesus. Di situ dikatakan demikian: “ ... Ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku”.

Lukas 2:49
Pada umur 12 tahun, Yesus memperlihatkan kepada kedua orang tuanya sebuah semangat “Pembaktian Diri”. Ia berkata: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?”

Yoh 4:34
Yesus menunjukkan sebuah sikap penyerahan diri-Nya yang total pada Bapa (baca: Pembaktian Diri). Kepada para murid-Nya, ketika mereka ingin mendesaknya untuk makan, Ia bersabda: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”.

Yoh 17:19
Semangat “Pembaktian Diri” Yesus dapat dijumpai pula dalam Injil Yohanes. Di dalam doa-Nya sebagai seorang Imam Agung, Ia berkata: “Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran”.

Yoh 17:4; 19:30
Puncak dari seluruh pemberian, penyerahan diri Yesus atau “Pembaktian Diri”-Nya dapat dilihat dalam dua teks PB berikut ini: Yoh 17:4 dan Yoh 19:30. Di situ Yesus dalam doa-Nya berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya” (Yoh 17:4); dan dari atas kayu Salib Yesus berseru dengan mengatakan bahwa semuanya telah selesai. Artinya seluruh pemberian diri yang diwujudkan dalam hidup dan karya-Nya diselesaikan dengan sangat baik. Dalam teks itu tertulis: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai”. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh 19:30).

2. Kaum Religius Membaktikan Dirinya kepada Kristus

Panggilan seorang calon imam atau pun para imam – juga para anggota Hidup Bakti umumnya57 – adalah samaseperti panggilan umum Kristiani, yakni mempersembahkan seluruh dirinya kepada Bapa di dalam dan melalui Kristus. Hal ini sebetulnya dapat dihayati melalui penghayatan Janji-janji Pembaptisannya (bdk. Rm 6:3.4; 1 Ptr 2:9; 1 Kor 12:13).

Hidup yang dibaktikan atau dipersembahkan kepada Tuhan dalam Spiritualitas Santo Louis-Marie Grignion de Montfort (1673-1716), pendiri Tarekat-tarekat Montfortan,58 dapat diparafrasekan sebagai suatu seni, persisnya seni memberikan diri atau membaktikan seluruh hidupnya kepada Tuhan.59 Cara yang dapat ditempuh, yakni menghayati janji-janji pembaptisan dengan penuh kesetiaan. Santo Montfort, dalam bukunya, Bakti yang Sejati kepada Maria, berkata demikian:

“Santo Tomas berkata: “Pada waktu pembaptisan suci umat berjanji akan menolak setan dan segala kesia-siannya’. Menurut Santo Agustinus janji-janji ini adalah yang terpenting dan yang paling diperlukan, “Janji kita yang tertinggi, yang dengannya kita berikrar akan berdiam di dalam Kristus untuk selama-lamanya”. Hal yang sama dinyatakan oleh para ahli hukum kanonik, “Janji yang terpenting adalah yang kita buat pada saat pembaptisan”.

Tidak hanya itu saja, orang suci ini masih melanjutkan pernyataannya yang betul-betul menantang banyak orang Kristiani termasuk para pengikutnya (Montfortan) agar menyadari dengan sungguh-sungguh ikrar kasih setia yang diucapkannya pada saat pembaptisan. Persisnya bagaimana kaum Kristiani, sungguh-sungguh mau menenggelamkan dirinya pada roh pembaptisan itu, sebab menurutnya, tidak semua orang memelihara kesetiaan dan ketaatannya pada semangat pembaptisan yang telah diterimanya. Santo Montfort berkata:

“Tetapi siapa yang terus berpegang pada ikrar agung itu? Bukankah hampir semua orang Kristiani meninggalkan kesetiaan kepada Yesus Kristus yang mereka janjikan pada saat pembaptisannya? Dari mana kesemrawutan umum ini bisa berasal, kalau bukan dari kenyataan bahwa orang melupakan kewajiban-kewajiban yang diterimanya melalui janji pembaptisan suci dan bahwa hampir tak seorang pun meneguhkan secara pribadi perjanjian yang pernah dibuatnya dengan Allah melalui wali baptisnya?

Kerapuhan dan kelemahan manusiawi seringkali menjadi sebab gagalnya seorang Kristiani betul-betul menghayati semangat pembaptisan sucinya. Sehubungan dengan ini, maka kaum Kristiani, dipanggil untuk menyadari kenyataan ini sembari meminta bantuan dan rahmat Allah untuk menegakkannya tatkala menghadapi kesulitan, tantangan menghidupi roh pembaptisan itu.

Menyadari keterbatasan-keterbatasan ini, maka seorang Kristiani khususnya seorang religius termasuk di dalamnya para calon imam dihadapkan pada sebuah pilihan untuk sungguh-sungguh memandang Maria sebagai seorang ‘Ibu’ yang dapat menemani dan menolongnya dalam proses pertumbuhan itu secara rohani. Ringkasnya, Santo Montfort mengundang setiap orang Kristiani untuk membaktikan seluruh diri kepada Allah dalam Kristus melalui tangan Bunda Maria. Jikalau demikian, maka “Pembaktian Diri” yang dihidupi oleh seorang Kristiani baik awam, maupun kaum religius, entah seorang calon imam, atau pun biarawan/i, ringkasnya kaum Hidup Bakti mestinya bersifat marial sebagai salah satu ciri dasariah seperti yang diajarkan oleh Santo Montfort.

Maria: Model Pentakdisan dan Pemberian Diri Kaum Hidup Bakti

Paus Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostoliknya, Vita Consecrata (1994) mengatakan bahwa kehadiran Maria dalam Hidup Bakti amatlah penting. Maria dipandang sebagai pribadi yang sangat berharga baik bagi hidup rohani kaum Hidup Bakti, maupun bagi kemantapan, kesatuan dan kemajuan segenap jemaat.

Bapa suci Polandia ini menekankan bahwa Santa Maria betul-betul menjadi teladan luhur pentakdisan yang sempurna. Alasannya karena Maria sepenuhnya milik Allah dan seutuhnya berbakti kepada-Nya. Ia dipilih oleh Tuhan dengan tujuan agar terjadi penjelmaan Sang Putra. Dengan ini, jelaslah bahwa inisiatif Allah itu datang dari diri-Nya, dan setelah menyetujui apa yang menjadi kehendak Allah, Maria menjadi pola penerimaan rahmat oleh manusia.

Maria menjadi teladan kemuridan Kristus yang tanpa syarat mengabdi dengan tekun. Hidup Bakti memandang Maria sebagai pola yang luhur bagi pentakdisan kepada Bapa, persatuan dengan Putra dan sikap terbuka bagi Roh Kudus, seraya menyadari bahwa menerima “hidup keperawanan dan kerendahan hati” Kristus juga berarti meneladani cara atau model (pola) hidup Maria. Paus mengatakan bahwa melalui Maria, para anggota Hidup bakti menemukan Ibu yang amat istimewa. Hubungan sebagai putra-putri Maria merupakan jalan raya menuju kesetiaan terhadap panggilan, dan bantuan paling efektif untuk terus maju meniti panggilan itu dan menghayatinya sepenuhnya.64 Orang kudus di abad ini menekankan bahwa Santa Perawan Maria sungguh-sungguh menjadi “teladan luhur pentakdisan yang sempurna”. Alasannya karena Maria itu sepenuhnya milik Allah dan ia telah berbakti kepada-Nya secara total. Ia dipilih oleh-Nya dengan tujuan agar Inkarnasi Sang Putra dapat terlaksana. Dengan mengatakan seperti ini, Beliau mau menegaskan dan mengingatkan kaum Hidup Bakti bahwa pada dasarnya “inisiatif Allah” itulah yang paling utama dan Bunda Maria menjadi pola atau model penerimaan rahmat oleh manusia. Hal ini ia tunjukkan melalui jawaban “fiat”-nya kepada Allah (bdk. Luk 1:38).

Bagi kaum Hidup Bakti, Paus juga ingin menunjukkan satu hal penting bahwa Maria adalah pribadi istimewa bagi pola dan gaya hidup mereka. Landasan teologisnya bisa dilihat dalam penyerahan Ibu Yesus kepada murid yang dikasihi Tuhan (bdk. Yoh 19:25-27). Paus marial ini mengatakan bahwa pola penyerahan diri sang ibu kepada murid yang dikasihi memang merupakan sebuah kurnia bagi semua orang Kristiani, artinya melalui peristiwa itu, kaum Kristiani pun dijadikan putra-putri Maria dan memandangnya sebagai ibu spiritual.
Berkenaan dengan pentingnya kehadiran Maria bagi hidup para anggota Hidup Bakti, Paus menulis demikian:

“Memang keibuan baru yang dianugerahkan kepada Maria di gunung kalvaria merupakan kurnia bagi semua orang Kristiani, tetapi masih mempunyai nilai yang lebih khas lagi bagi mereka yang menguduskan hidup mereka seutuhnya kepada Kristus”.

Dari gagasan-gagasan Santo Yohanes Paulus II, dapat diparafrasekan bahwa pada hakikatnya Maria adalah teladan kemuridan Kristus yang tanpa syarat mengabdi dengan tekun dan setia kepada Allah. Pemberian dirinya kepada Allah dalam arti yang sangat istimewa menjadi pola dan model pemberian atau Pembaktian Diri setiap kaum religius. Dalam konteks ini, kaum Hidup Bakti atau pun kaum religius pun memiliki panggilan yang khas sebagaimana yang dituntut darinya. Mereka juga secara hakiki menjadikan Maria sebagai pola dan model Pembaktian Diri kepada Allah. Pola yang sama ini juga dihidupi dan menjadi sesuatu yang melekat erat dalam perjalanan panggilan setiap anggota Hidup Bakti.

Kaum Hidup Bakti dengan demikian terus-menerus memandang Maria sebagai pola yang luhur bagi pentakdisan kepada Bapa, persatuan dengan Putra dan sikap terbuka bagi Roh Kudus, seraya menyadari bahwa menerima hidup keperawanan dan kerendahan hati Kristus juga berarti meneladani cara hidup Maria sendiri.66

Pentingnya Kehadiran dan Doa Perawan Maria bagi para Imam

Kehadiran Maria memang sangat penting tidak hanya dalam kehidupan umat Kristiani, di mana Paus Paulus VI menyebutnya sebagai “Maestra di vita spiritual”,67 guru kehidupan rohani bagi umat Kristiani, tetapi juga secara khusus dalam kehidupan para imam. Dalam beberapa dokumen Gereja, dijelaskan bagaimana relasi yang terjalin antara Maria dan para imam. Kehadiran Maria sebagai Bunda Kristus pada dasarnya memperlihatkan peran yang tak jauh berbeda bagi para imam Kristus. Peran Maria menjadi Bunda Kristus sekaligus “melahirkan anak-anak dalam hidup baru dan abadi yang dikandungnya dari Roh Kudus dan dilahirkan dari Tuhan.”68 Sejatinya, Maria memiliki relasi yang intim nan mesra dengan Kristus, Puteranya. Relasi yang demikian, sesungguhnya terjadi pula antara Maria dengan Gereja sebagai tubuh mistik Kristus. Dari sebab itu, ketika Maria dikatakan sebagai Bunda Kristus, pada saat yang sama, dia pula dapat dipandang sebagai Bunda bagi para imam. Dan melalui sakramen tahbisan, semua imam berpartisipasi dalam satu-satunya imamat Kristus, Kepala dan Gembala. Pada poin ini, kita pun dapat mengatakan lebih jauh bahwa apa yang dikatakan dengan imamat, sebetulnya menemukan maknanya secara mendalam dalam relasinya dengan Kristus sebagai “Kepala dan Gembala.” Oleh karena itu, tidak bisa diabaikan soal pentingnya kehadiran Maria sebagai Bunda dari Imam Abadi, Kristus. Relasi keibuan Ilahi Maria dan Imamat Yesus Kristus dengannya memperlihatkan suatu hubungan yang esensial antara Bunda Yesus dan imamat pelayanan Sang Putra.69 Dengan demikian, partisipasi para imam dalam imamat Kristus menempatkan mereka dalam suatu relasi yang sama dengan Maria sebagai Bunda. Dokumen Presbyterorum ordinis no. 18 menjelaskan demikian:

“Bagi sikap peka-terbuka itu para imam senantiasa menemukan contoh yang mengagumkan pada diri Santa Perawan Maria, yang dibimbing oleg Roh Kudus membaktikan diri sepenuhnya kepada misteri penebusan umat manusia. Hendaknya para imam dengan sikap bakti dan ibadat penuh kasih menghormati serta mencintai Maria sebagai Bunda Sang Imam Agung yang kekal dan Ratu para Rasul, serta sebagai pelindung pelayanan mereka.”

Kehadiran Maria di sini dengan demikian, menjadi berarti karena ia ikut mendidik para imam, sebagaimana ia pun telah membesarkan dan mendidik Kristus, Puteranya.

Salah satu hal yang dapat dikatakan tentang hal ini ialah bahwa Maria merupakan Bunda para imam dari suatu kenyataan yang begitu dalam yaitu bahwa dialah Bunda dari Imam Abadi, yang dari-Nya muncul imamat mereka. Dengan demikian, pada saat Anunsiasi dan dalam jawaban “ya’ atau ‘Fiat’-nya (bdk. Luk 1:38), segala sesuatu lantas diputuskan dan ditetapkan bahwa Maria menjadi Bunda. Pierre Paul Philippe (selanjutnya disebut Philippe) mengatakan bahwa para teolog mencatat pada momen tersebut merupakan saat di mana keibuan Maria betul-betul mulai muncul. Dalam kenyataannya, Maria juga kemudian menjadi Bunda kita tatkala berdiri di bawah kaki Salib, bersatu dengan Yesus dalam tindakan agung keimaman-Nya sebagai teladan ulung (par excellence) dan berkolaborasi dengan tindakan penebusan itu. Phillippe mengatakan bahwa pada saat itu, Kristus betul-betul memberikan kita sebuah kehidupan baru. Pada momen itu pula, Perawan Maria, bersama Kristus dan di dalam Kristus, berjasa dalam mengalirkan semua rahmat bagi panggilan dan kehidupan para imam. Menurut Phillippe, sebetulnya Perawan Maria samasekali tidak mengetahui secara eksplisit oleh karena ia tidak tidak memandang secara khusus pula jiwa para imam. Namun, hanya Yesuslah yang sanggup mengetahui dan melihat hal ini dan bahwa cukuplah Perawan Maria disatukan dengan Kristus dan berpengaruh pada Hati Allah lewat Hati Yesus.

Menurut Phillippe, kenyataan ini merupakan hal yang amat berharga bagi para imam oleh karena mereka memiliki misi khusus dalam menyelamatkan jiwa-jiwa. Dari sinilah, lantas Yesus mengajak setiap imam agar memiliki relasi seperti itu (relasi antara Maria dan Kristus). Relasi ini sebetulnya sangat jelas misalnya tampak dalam Peristiwa di Kalvari (bdk. Yoh 19:26-27) di mana kepada Maria, Yesus berkata: “Inilah anakmu!” Dan kepada murid yang dikasihi, Ia berkata: “Inilah Ibumu!” Lalu kepada kita penginjil mengatakan bahwa “Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”, ini sebetulnya menggarisbawahi karakter khusus keibuan Maria. Sekali lagi, harus ditambahkan di sini bahwa Tuhan sendiri betul-betul mempercayakan Maria pada Yohanes dan ia menjadi Bundanya dan pada saat yang bersamaan ia juga tetap menjadi Bunda Yesus Putranya.71 Dari sini bisa dilihat pula bahwa relasi yang menyatukan Maria dengan Kristus, Imam Agung, akan dilanjutkan antara dirinya (Maria) dengan Yohanes. Menurut Phillippe, hal yang patut direnungkan ialah, “bukankah pemakluman tentang keibuan Maria bagi para imam terbukti dalam kata-kata Kristus tersebut?” Jawabannya tentu tidak lain yakni bahwa memang kehadiran Yohanes yang berdiri di situ adalah sebuah kehadiran untuk para imam, sebab mereka pun adalah anak-anak Maria seperti para Rasul yang lain.

Peran kebundaan Maria secara paling mengagumkan tampak pula pada Cenakel, tatkala bersama para Rasul ia menantikan kedatangan Roh Kudus. Tentang ini, Kisah Para Rasul memberikan suatu informasi yang menarik. Kisah para Rasul menceritakan bahwa selama masa penantian – sejak Kenaikan Kristus sampai Pentekosta, kedua belas para Rasu sehati berkumpul di Ruang Atas (Cenakel) “mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama- sama, dengan beberapa perempuan serta maria, ibu Yesus … .” (Kis 1:14). Bagi Phillippe, apakah memang betul pada saat itu Maria memberikan pengajaran tertentu kepada Para Rasul tentang kehidupan dan kepribadian Yesus. Yang pasti ialah bahwa Maria senantiasa bertekun dalam keheningan doanya. Tentu saja, menurut Phillippe, dapat dibayangkan bahwa Maria hendak menjawab setiap pertanyaan tentang Kristus yang ditujukan oleh Para Rasul padanya. Namun, sebetulnya di saat yang sukar ini, meditasi Sang Bunda mestinya mengalami suatu kebijaksanaan yang mendalam dan kemudian itu menuntun Para Rasul untuk berdoa dalam hati.

Dalam konteks ini, Maria merasakan betapa mengagumkan rahmat- rahmat yang akan turun dari surga atas manusia yang lemah, bagi mereka yang punya keterbatasan dalam mencari dan mengerti akan segala sesuatu. Selain itu, Maria pun dapat merasakan bahwa ternyata rahmat-rahmat yang dinantikan itu akan mengubah mereka menjadi penopang utama Gereja. Di sini, Maria berdoa dengan segenap kekuatan hatinya, memohon kehadiran Roh Kudus agar yang melimpah atas mereka dan mengubah mereka seluruhnya. Phillippe mengatakan bahwa pada poin ini, sebetulnya Maria memohon Roh Kudus agar Ia berkenan memenuhi mereka dengan Roh Yesus, untuk menjadikan mereka “Kristus yang lain”, untuk membuat mereka pun menjadi imam-imam yang lain.

Berkenaan dengan betapa dahysatnya kehadiran Maria pada peristiwa itu, Phillippe mengajukan sebuah pertanyaan menarik “bukankah ini pun membuat kita sekalian mengingat lagi sosok “ibu” yang pada malam pentahbisan putranya, memohon agar Tuhan berkenan memenuhi putranya dengan segala rahmat yang akan mengubhanya menjadi seorang imam yang suci?”72 Namun, sebetulnya sosok ibu yang dimaksud kiranya tidak pantas menerima semua rahmat secara langsung bagi putranya. Di pihak lain, menurut Phillippe Bunda Maria berjasa atas segala rahmat sebelumnya yang diterima oleh para imam. Ini merupakan hal yang benar oleh karena faktanya jelas di mana Maria bersatu dengan Putranya di atas Kalvari. Lantas, saat ini, tatkala ia mengajukan permohonan yang sangat, Yang Mahakuasa mengabulkannya. Dari sebab itu, kita dapat membayangkan bahwa oleh karena doa Bunda Maria, maka pada Hari Minggu Pentekosta, Gereja mampu memulai misi apostoliknya ke seluruh dunia. Phillippe melihat hal serupa di Kana di mana berkat doa Maria, Yesus pun memulai karya pelayanan publiknya.

Secara keseluruhan, meskipun Maria itu suci dan berkuasa atas Hati Allah, ia tetap dibatasi dalam tindakannya selama berada di dunia. Dan itu perlu suatu mukjizat, wahyu kenabian baginya untuk memandang jiwa-jiwa manusia yang hidup pada abad ke -21 ini. Sebaliknya, bagi Phillippe, Maria dari dalam Surga memandang semua kita. Dia jugalah yang mempengaruhi hidup manusia tanpa menemukan suatu kesulitan apapun dan ia mencintai semua imam dan memandang masing-masing mereka sebagaimana adanya. Lebih dari itu, dia pulalah yang bersama dengan Kristus memungkinkan seseorang menjadi imam. Atau dalam arti ketat secara teologis, Kasih Ilahi dalam rencana abadinya telah menetapkan orang-orang yang dipanggil untuk menjadi imam berdasarkan jasa- jasa Kristus dan Perawan Suci Maria.

Bagi Phillippe, Marialah yang sampai detik ini tanpa hentinya memohon segala rahmat yang dibutuhkan oleh para imam agar memelihara dan menjaganya dalam Cinta Kristus; untuk berjalan dalam jalan kekudusan yang sukar, yang biasanya melawan kecenderungan-kecenderungannya; untuk menjadi para pelayan yang tekun dan setia; untuk merayakan Ekaristi dengan lebih semangat daripada sebelumnya. Dan pada akhirnya, dialah yang akan mendoakan setiap imam dan yang akan mendampingi mereka pada saat ajal nanti. Dalam setiap hal, sebetulnya, dapat dikatakan bahwa Maria turut mendoakan para imam, di mana ia sendiri memohon rahmat-rahmat bagi mereka dan mempengaruhi hidup mereka secara rohani.

Pembaktian Diri Kaum Religius “Berciri Marial”: Seni Meneladani Ketergantungan Allah pada Maria

Yesus, Sang Sabda yang menjelma pada saat Inkarnasi telah menampakkan sikap ketergantungan yang total kepada Maria dengan sungguh- sungguh mau menjadi tawanan dan hamba di dalam rahim Bundanya itu.74 Sikap perendahan diri Kristus yang total kepada Bunda-Nya pada waktu penjelmaan merupakan suatu pengosongan diri (kenosis) yang tiada taranya (bdk. Flp 2:6- 11). Dalam konteks pembicaraan kita, sikap yang demikian dapat pula diparafrasekan sebagai sebuah pemberian, “Pembaktian Diri” seluruh hidup- Nya kepada Allah Bapa dengan sepenuhnya mau tunduk dan bergantung kepada Maria. Persisnya, Santo Montfort berkata:

“Di sana (baca: dalam Rahim Maria), dengan mengurbankan kehendak-nya dan diri-Nya sendiri, Dia telah memberi kehormatan lebih besar kepada Bapa- Nya daripada yang diberikan segala kurban hukum lama. Akhirnya, di sana Dia memberikan kemuliaan yang tak berhingga kepada Bapa-Nya yakni kemuliaan yang belum pernah diterima Bapa-Nya dari manusia”.

Sebagaimana “Pembaktian Diri” yang dihidupi oleh Sang Teladan Agung, Yesus Kristus dapat dikatakan berciri “marial”, maka seorang Kristiani dan pada gilirannya seorang religius atau para calon imam pun – dalam konteks memberi diri kepada Allah, menyerahkan hidup dan panggilannya pada-Nya – pun dipanggil untuk menunjukkan semangat “Pembaktian Dirinya” itu secara total dalam tugas, karya dan perutusannya setiap hari. Ketergantungan Allah pada Maria dengan demikian merupakan sebuah pola yang dapat ditiru dan dihayati oleh setiap umat Kristiani. Pilihan Allah untuk menjadi tawanan dan hamba dalam Rahim Perawan Maria dapat menjadi ‘opsi’ utama seorang yang mau membaktikan dirinya kepada Allah. Artinya, pola dan ketergantungan Allah pada Maria selama penjelmaan dan bahkan dalam hidup karya dan perutusan-Nya, dapat pula menjadi pola dan model hidup setiap kaum Kristiani di mana pun dia panggil dan diutus.
Berkaitan dengan “Pembaktian Diri” Yesus melalui Maria dalam Bakti yang Sejati kepada Maria nomor 120, orang kudus dari Bretagne ini menulis:

“Seluruh kesempurnaan kita terdiri dari hal ini, bahwa kita serupa dengan Yesus Kristus, bersatu dengan-Nya dan dibaktikan kepada-Nya. Dari situ jelas sekali bahwa devosi yang paling sempurna adalah devosi yang secara paling sempurna membuat kita serupa dengan Yesus Kristus, mempersatukan kita dengan-Nya dan membaktikan diri kita kepada-Nya. Nah, dari semua makhluk, Maria adalah yang paling serupa dengan Yesus Kristus, sehingga tidak ada satu pun devosi yang lebih membaktikan seorang manusia kepada Tuhan dan membuatnya serupa dengan-Nya daripada devosi kepada Bunda-Nya yang suci. Jadi, semakin orang dibaktikan kepada Maria, semakin pula dia dibaktikan kepada Yesus Kristus. Maka dari itu pembaktian yang sempurna kepada Yesus Kristus adalah tidak lain dari pembaktian diri sendiri yang sempurna dan seutuhnya kepada Perawan teramat suci. Inilah devosi yang saya wartakan. Dengan kata lain, suatu pembaharuan yang sempurna dari ikrar dan janji Sakramen Pembaptisan.”

Membaca kutipan ini, kita dihantar masuk ke sebuah kesadaran bahwa sesungguhnya pemberian diri (baca: Pembaktian Diri) seorang Kristiani, khususnya kaum religius kepada Allah sebetulnya bersifat mulia dan amat marial. Persembahan seluruh hidup mereka pun dengan demikian mengikuti pola pemberian diri Kristus kepada Allah yang secara total telah menanggalkan keagungan, kemegahan dan keluhuran kodratnya sebagai Allah dan mau mengenakan kemanusiaan dalam dan melalui Maria.

Itulah seni hidup Kristiani dan sekaligus menjadi being-nya seorang pengikut Kristus. Inilah identitasnya, suatu seni hidup yang dipersembahkan kepada Allah: meneladani pola ketergantungan diri Kristus pada Bapa-Nya dalam dan melalui Maria sebagaimana pikiran dan refleksi orang kudus tersebut.77 Kalau Santo Montfort mengajarkan umat Kristiani membaktikan diri kepada Kristus lewat tangan Maria sebagai “hamba karena kasih”, maka itu karena mereka hendak meneladani “perhambaan” dan “ketergantungan” yang dikehendaki Allah Tritunggal pada Maria pada saat Penjelmaan (Inkarnasi) Putera Allah. Jadi, oleh karena tujuan ini, maka dalam “Doa Pembaktian Diri”, orang kudus Perancis ini memohon kepada Maria agar Pembaktian Dirinya diterima Maria samaseperti ketika ia (Maria) telah menerima ketergantungan Yesus.

Menjadi Religius yang Marial: Sebuah Panggilan Jiwa sebagai Anggota Hidup Bakti

Paus Paulus VI dalam homilinya di depan pelataran suci Bunda Maria, Bonaria di Kota Cagliari-Italia (24 April 1970) berkata: … Se vogliamo essere Cristiani, dobbiamo essere mariani, cioè dobbiamo riconoscere il rapporto essenziale, vitale, provvidenziale che unisce la Madonna a Gesù, e che apre a noi la via che a Lui conduce.79 Paus marial ini berkata bahwa jikalau kita ingin menjadi Kristiani, maka kita harus menjadi marial, yaitu kita mesti mengenal hubungan esensial, vital dan terpelihara yang menyatukan Maria dengan Yesus dan membuka jalan yang menuntun kita menuju kepada-Nya.

Jikalau demikian, maka ajakan Santo Montfort untuk membaktikan diri kepada Yesus lewat tangan Maria dapat menjadi ajakan bagi kaum Kristiani pada umumnya dan para religius khususnya untuk menjadikan cara berpikir, bertindak dan merasa seperti Maria atau berjiwa Marial yang akan membuka jalan menuju persatuan dengan Kristus. Oleh karena itu, makna kekristenan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan seseorang dalam melakukan karya kerasulan atau perutusannya. Demikian juga makna hidup sebagai seorang religius atau anggota Hidup Bakti tidak hanya ditentukan oleh kecakapan dalam menguasai, memahami suatu disiplin ilmu pengetahuan semata, akan tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan menghayati jati diri sebagai seorang religius yang marial.

Dalam konteks tersebut, panggilan untuk membentuk diri dan mengembangkan dimensi kekristenannya pun perlu dihidupi dalam suatu kultur atau spiritualitasnya yang khas. Oleh karena itu, being-nya seorang religius mestinya selalu dihayati juga dalam persatuan erat dengan Maria sebagai model Image dan teladan dalam pentakdisan diri kepada Allah. Dalam arti ini, seorang calon imam pun punya tugas mulia untuk terus-menerus menghayati hidupnya menjadi semakin marial dalam aneka dimensi hidup dan panggilan serta perutusannya.

Kesuksesan hidup sebagai umat Kristiani tidak bisa diukur dari hebatnya kerasulan (doing) yang dibuat, tetapi aktualisasi seluruh dirinya sebagai pribadi yang berkualitas (being). Menjadi Kristiani dan khususnya menjadi seorang religius itu bukan soal disiplin dalam mengikuti aturan hidup sebagai orang Kristen, atau bukan sekedar tekun dan setia menempuh proses pembinaan di komunitas biara atau seminari atau bukan sekedar menempuh pendidikan di ruang kuliah filsafat dan teologi, melainkan bagaimana mewujudkan panggilannya secara baik dan benar dalam hidup, karya dan perutusannya.

Dari sebab itu, kualitas atau being-nya seorang Kristiani bukan perkara nanti, melainkan mulai saat ini dia sudah harus mewujudkan dirinya sebagai seorang pengikut Kristus yang sejati dalam karya-karya hidupnya tepatnya dalam panggilan hidupnya masing-masing.

PENUTUP

Kehadiran Maria dalam perjalanan hidup umat Kristiani tidak pernah lepas dari peran utamanya sebagai ibu yang melahirkan Putra-putri Kristus di dalam Gereja. Sedari awal, Allah telah menentukan dan menetapkannya sebagai Bunda Kristus, Bunda Allah (bdk. Luk 1:38) yang dalam perjalanan sejarah selanjutnya, dia pun menjadi Bunda kaum beriman Kristiani (bdk. Yoh 19:26- 27). Tentu saja, apa yang dikatakan mengenai peran dan kehadirannya bagi mereka adalah hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata, seperti kata Angel Amato bahwa Maria memiliki peran yang tak dapat disangkal lagi dan tak tergantikan (an undeniable and irreplaceable role) dalam hidup Kristiani. Dalam hal ini, Maria telah menunjukkan dan memainkan perannya yang vital sebagai ‘Ibu’ bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan setiap umat Kristiani, khususnya dalam kehidupan kaum religius atau kaum tertahbis. Kehadirannya dalam kehidupan mereka memberikan warna dan corak tersendiri.

Menarik sekali untuk dicermati dan tetap menjadi bahan permenungan bersama bahwa sesungguhnya Maria adalah sosok yang penting dalam kristianitas. Kehadiran dan perannya di dalam kehidupan umat beriman begitu berarti. Banyak orang berbondong-bondong datang kepadanya dan gemar mencari perlindungan dan pertolongan kepadanya, sebab dalam dirinya hadir sosok seorang yang penuh belaskasihan (misericordiosa / madre della misericordia). Daya tarik Maria begitu tinggi sehingga umat beriman tidak merasa sungkan, dan malu apabila mendatangi dan memohon bantuannya. Sebagai sosok yang selalu ada di hati manusia Kristiani, Gereja pun dalam beberapa dokumen resmi memandang dan menegaskan pentingnya kehadiran Maria bagi mereka. Dengan demikian, kehadirannya dalam arti tertentu dapat menjadi seorang pribadi yang sudah selayaknya tetap dikenal, didekati, dialami dan diteladani. Kehadiran Maria dalam hidup Kristiani mestinya tetap dipandang sebagai sesuatu yang amat vital dan mendasar. Itu bagaikan sebuah kondisi yang mutlak perlu. Dikatakan demikian oleh karena sebagaimana Kristus datang ke dunia, ke tengah-tengah manusia melalui seorang Perawan Maria, maka pada titik yang sama, pola yang dipakai Kristus ini dapat pula dijadikan pola utama bagi setiap orang Kristiani ketika hendak mendatangi Kristus melalui Maria. Pola hidup ini kiranya perlu tertanam kuat dan dapat dihayati juga secara khusus oleh kaum religius atau mereka yang dipanggil untuk membaktikan diri (menyerahkan seluruh hidupnya) dalam suatu bentuk hidup yang khusus (kaum religius atau kaum Hidup Bakti).

Itulah seni hidup Kristiani dan sekaligus menjadi being-nya seorang pengikut Kristus. Sesungguhnya, ini dapat pula dipandang sebagai suatu seni mempersembahkan seluruh diri kepada Allah: meneladani pola ketergantungan diri Kristus pada Bapa-Nya dalam dan melalui Maria seperti kata Santo Montfort. Hal ini menjadi unsur yang patut dihayati dalam hidup Kristiani, khususnya kaum religius yang memandang dan menjadikan Maria sebagai sarana untuk menghayati persatuan erat dengan Kristus. Jadi, sebagaimana Allah telah memilih Maria sebagai sarana kehadiran-Nya di dunia, Dia yang mau berjumpa dengan semua orang dalam segala kondisi hidupnya, demikian juga seorang Kristiani, tepatnya seorang religius patut memandang Maria sebagai Bunda dan Ratunya yang tak jemu-jemunya mendoakan, membimbing dan menuntun hidup mereka dalam segala situasi dan kondisi apapun.

DAFTAR BACAAN

Dokumen Gereja

DOKUMEN KONSILI VATIKAN II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen gentium
no. 48, Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor, Jakarta 2002.

La lettera della CONGREGAZIONE PER L’EDUCAZIONE CATTOLICA (25 marzo 1988): La Vergine Maria nella formazione intelletuale e spirituale.

Dokumen para Paus

PAULO VI, Marialis Cultus, esortazione apostolica per il retto ordinamento e sviluppo del culto della Beata Vergine Maria, del 2 febbraio 1974, in AAS 66 (1974).

GIOVANNI PAOLO II, Discorso del 10 dicembre 1988, nella sua visita alla Facoltà Teologica “Marianum “, Roma “Insegnamenti di Giovanni Paolo II”, XI/4, 1988.

  , Anjuran Apostolik tentang Hidup Bakti, Vita Consecrata, terj. R. HARDAWIJANA, SJ Dokpen KWI, Jakarta 2006.

  , Ensliklik Redemptoris Mater, Dokpen KWI, Jakarta 1987.

Buku-buku dan Artikel

Av.Vv., “Credo in spiritum Sanctum”, Atti del Congresso internazionale di Pneumatologia, Libreria Editrice Vaticana 1983.

AMATO, A., Maria la Theotokos. Conoscenza ed esperienza, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2011.

BASILIO Magno, S., Liber de spiritu sancto, cap. 26.

BERTETO, D., “Lo spirito Santo e santificato”, Pro-Sanctificatore, Roma 1977.

BIFET, JOSE ESQUERDA, Spiritualità mariana della Chiesa. Esposizione sistematica, Centro di Cultura Mariano, “Madre della Chiesa”, Roma 1994.

BOUYER, L., Introduzione alla vita spirituale, Borla, Roma 1979.

BUR, JACQUES, How to Understand the Virgin Mary, SCM Press Ltd, 26-30 Tottenham Road, London N1 4BZ 1994.

CASTELIANO, J., “La missione nel dinamismo dello spirito Santo”, in: spiritualità della missione, Teresianum, Roma 1986.

CHACON, FRANK – JIM BURNHAM, Pembelaan Iman Katolik 3. Menanggapi Keberatan dan Serangan tentang Maria, Fidei Press, Jakarta 2003.
COGNET, L., Introduction à la vie chrétienne, Cerf, Paris 1967.

DE FIORES, STEFANO, Consacrazione, in: “Nuovo Dizionario di Mariologia”,
Ed. Paoline, Cinisello Balsamo (MI) 1986.

  , Corso di teologia sistematica, Maria Madre di Gesù, sintesi storici salvifia 6, Edizioni Dehoniane, Bologna 1992.

  , Chi è per noi Maria? Riposta alle domande più provocatorie, Edizioni san Paolo, Cinisello Balsamo, Milano 2001.

  , Ecco tua Madre! Città Nuova Editrice, Roma 2007.

DE MONTFORT, LOUIS MARIE GRIGNION, Cinta Sang Kebijaksanaan Abadi (L’Amour de la Sagesse Éternelle), terj. A. SUHARDI, Seminari Montfort “Ponsa”, Malang 2009.

  , Bakti yang Sejati kepada Maria, terj. ARNOLD SUHARDI, Pusat Spiritualitas Marial Montfortan (PSMM), Malang, 2019.

GAFFNEY, P., “Consecration” dalam STEFANO DE FIORES (ed.), Jesus Living in Mary: Handbook of the Spirituality of St. Louis-Marie de Montfort, Montfort Publications, Bay Shore, NY 1994.

GREELEY, A., I grandi misteri della fede. Un catechismo essenziale, Queriniana, Brescia 1978.

I, L. BOUYER, “II Consolatore”, Paoline, Roma 1983.

LAUTERBACH, J., “The Belief in the Power of the Word Hebrew”, in Union College Annual 14, s.l. 1939.

LETENG, HUBERTUS, Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Penerbit Ledalero, Maumere 2003.

MAUNDER, CHRIS, “Mary in the New Testament and Apocrypha”, dalam SARAH JANE BOSS (ed.), Mary the Complete Resource, BookEns Ltd, Royston, London 2007.

MORICONI, BRUNO, Maria modello di consacrazione nel nuovo testamento,
Centro Cultura Mariana, Marianum, Roma 1991.

Nativita’ di Maria: Protovangelo di Giacomo (6,1-8,2), in: Apocrifi del Nuovo testament. Vol I. Vangeli (a cura di) LUIGI MORANDI, Ed. Piernme, Casale Monferrato (AL) 1994.

PEDICO, MARIA MARCELLINA, La Vergine Maria nella Pietà Popolare,
Edizioni Montfortani, Roma 1993.

PELIKAN, JAROSLAV, Mary Through the Centuries. Her Place in the History of Culture, Grand Rapids, Michigan 1923.

PHILIPPE, PIERRE PAUl, The Virgin Mary and the Priesthood, terj. LAURENCE
J. SPITERI, Alba House, New York 1988.

RIYANTO, THEO, Panggilan Religius Awam. “Bruder dan Suster” dan Pemaknaan Terus-Menerus, Kanisius, Yogyakarta 2015.

RUBIN, M., Mother of God: A History of the Virgin Mary, Yale University Press, New Haven, Conn 2009.

SCHNACKENBURG, R., Commentario teologico del nuovo testamento, il vangelo di Giovanni. Parte terza, testo Greco e traduzione, Paideia Editrice, Brescia 1981.

SERRA, A. M., Contributi dell’antica letteratura giudaica per l’esegesi di Gv I2, 1-12 dan 19,25-27, Herder, Roma 1977.

Situs Internet:

www.cultura.va/content/dam/cultura/docs/pdf/accademie/marialiscultus.pdf.
Diakses dari Seminari Montfort “Ponsa”, Malang, 30 Agustus 2019, pkl. 11.59.

PAOLO VI, “Pellegrinaggio al santuario mariano di nostra signora di Bonaria”, https:w2.vatican.va/content/paulvi/it/homilies/1970/documents/hf_pvi_ hom_19700424.html. Diakses dari Seminari Montfort, “Ponsa”, Malang, 27 Agustus 2019, pkl. 12.12.
×
Berita Terbaru Update