-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sekalipun Pemberkatan Jenasah Susahnya Mendapatkan Ijin (Cerita social distancing dari lorong sunyi BF.Homes-Caloocan City)

Selasa, 24 Maret 2020 | 05:24 WIB Last Updated 2020-03-23T22:24:53Z
Sekalipun Pemberkatan Jenasah Susahnya Mendapatkan Ijin  (Cerita social distancing dari lorong sunyi BF.Homes-Caloocan City)
Pater Tuan Kopong MSF

Sekalipun Pemberkatan Jenasah Susahnya Mendapatkan Ijin
(Cerita social distancing dari lorong sunyi BF.Homes-Caloocan City)

“Kita memiliki kebajikan yang menjadi sumber harapan dan bukan menjadi pembawa neraka”.
*******

Dua hari yang lalu saya diminta oleh pengurus salah satu stasi untuk memberkati jenasah. Saya kemudian mengatakan kepadanya; untuk menghindari kegaduhan di kemudian hari sekaligus menaati peraturan quarantine community yang sudah pada tahap enhanced, maka cukup upacara pemberkatan ya.

Tolong jelaskan kepada keluarga dan semoga keluarga memahaminya. Dan kemarin pagi ia memberitahukan kepada saya bahwa keluarga sangat memahami dengan situasi sekarang dan mereka berterimakasih karena Padre bersedia memberkati.

Sejujurnya ada kekuatiran dan ketakutan juga karena di stasi itu adalah komunitas urban. Saya kemudian berkonsultasi dengan rekan imam. Saya disarankan kalau bisa tidak usah ini untuk kebaikan bersama.

Dilema. Akhirnya saya mengatakan kepada rekan imam, tidak saya harus memberkati. Apapun resikonya dan apapun yang terjadi. Tuhan pasti menjaga dan melindungi saya.

Sayapun kemudian memberitahukan kepada ibu tadi bahwa sekarang ibu meminta ijin juga kepada kepala desa kalian. Karena kita sudah beda desa. Baik padre, jawab ibu. Malam harinya ibu memberitahukan kepada saya bahwa kepala desa mereka sudah setuju dengan syarat social distancing dan jangan bersentuhan. Baik bu, jawab saya.

Sabtu pagi, saya meminta seorang anak muda ke kantor desa kami untuk meminta ijin. Surat jalanpun diberikan. Kendala berikut adalah pintu gerbang menuju desa tempat pemberkatan jenasah ditutup. Kami langsung menuju ke rumah ketua perumahan untuk meminta ijin membukakan pintu. Ketika tiba di rumah, Beliaunya gak ada. Yang ada hanya sang istri namun takut memberikan kunci pintu gerbang. Saya bisa memahami karena sudah ada perjanjian tertulis bahkan ada dendanya.

Anak muda yang menjadi driver saya, menurunkan saya tepat di pintu gerbang yang belum dibuka. Dan ia mencarikan jalan untuk mencari kunci serep di pengurus lainnya. Di seberang pintu gerbang yang tertutup sudah menunggu bapak Romy dan Ibu Luz. Satu setengah jam lebih menunggu, anak muda tadi belum juga datang. Saya menyampaikan kepada bapak Romy, jika sampai jam 12 kunci pintu gerbang juga tidak ada maka biar bapak yang memberkati seraya memberikan air suci kepadanya melalui terali pintu gerbang.

Pukul 11.45 anak muda datang bersama seorang satpam yang membawakan kunci pintu gerbang. Pintu gerbangpun dibukakan dan sang satpam berbisik kepada saya; “padre, 10 menit ya”. Iya, jawabku seraya mengucapkan terimakasih kepadanya. Jangankan 10 menit, satu atau dua menitpun tidak apa asal saya bisa memberkati jenasah. Yah, begitu ketatnya lockdown di Pilipina saya terima sebagai jalan untuk menyelamatkan saya dan siapapun.

Setiba di rumah duka, saya dan mereka yang hadir langsung membersihkan tangan dengan menggunakan alkohol dan memakai masker. Kami hanya 7 orang. Empat orang anak sang ibu yang meninggal, saya dan dua pengurus stasi. Ibadat pemberkatanpun dilakukan secara sederhana. Setelah upacara pemberkatan saya mengucapkan turut berdukacita dan menjelaskan kondisi hari ini.

Tangis pilupun pecah dari keempat anak yang mengharukan dan ucapan terimakasihpun diberikan kepada saya dan syukur kepada Allah karena diberikan jalan untuk bisa memberkati jenasah ibu mereka walau secara sederhana.

Saat hendak kembali kami tidak bersalaman. Kebiasaaan mereka yang menyalami imam dan memohonkan berkat tidak bisa dilakukan selama masih ada perintah social distancing dan lockdown. Seketika salah seorang anak dari ibu yang meninggal dengan canda mengatakan kepada saya; “padre, sekarang kita bermusuhan dulu”. Sayapun menjawab iya bu, kita bermusuhan dulu untuk kebaikan kita semua.

Untuk kebaikan bersama kita memang perlu “BERMUSUHAN” dengan keegoisan dan kesempitan diri kita sekaligus “BERMUSUHAN” dengan siapapun sekalipun orang terdekat kita untuk bersama-sama saling melindungi dan menyelamatkan diri dari wabah covid 2019.

“Dengan “bermusuhan” kita memiliki kebajikan yang menjadi sumber harapan dan bukan menjadi pembawa neraka”.

Manila: 23-Maret-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update