-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Selamat Jalan 'Pahlawan Mabar'

Jumat, 20 Maret 2020 | 21:42 WIB Last Updated 2020-03-20T14:46:27Z
Selamat Jalan 'Pahlawan Mabar'!
Selamat Jalan 'Pahlawan Mabar'!

Oleh : Sil Joni *)

Almarhum Wilfridus Fidelis Pranda (WFP) bagi publik Manggarai Barat (Mabar) lebih dari sekedar nama. WFP adalah 'pahlawan' yang banyak berjasa baik dalam proses kelahiran kabupaten ini, fundator pembangunan (penjabat bupati), maupun sebagai perintis atau peretas jalan bagi sejarah Kabupaten ini, hingga bisa tampil elegan seperti sekarang ini. Mabar tanpa WFP, rasanya itu bukan Mabar. Berbicara tentang Mabar, maka yang mesti muncul pertama dan terdepan dalam pembicaraan itu, adalah nama WFP dengan segala sisi plus dan minusnya.

Karena itu, rasanya 'penghormatan' yang diberikan oleh publik dan Pemerintah daerah (Pemda Mabar) kepada WFP, tentu sangat beralasan dan tidak berlebihan. WFP sangat pantas digelari 'Pahlawan Mabar'. WFP, dengan demikian, mesti 'dimakamkan' di lokasi istimewa, tempat di mana jasad para pahlawan Mabar akan 'dibaringkan'. Kita mengapresiasi keputusan Pemda dan ketulusan pihak keluarga untuk 'mengistirahatkan' WFP di Taman Makam Pahlawan (TMP) yang terletak di sebelah Selatan Gedung Olah Raga (GOR) Mabar, Desa Batu Cermin, Labuan Bajo.

Hari ini, Juma't (20/3/2020) 'jenazah' sang pahlawan akan diarak menuju ke 'liang lahat' itu. Prosesi pemakaman itu tentu didahului dengan 'misa requiem', upacara (pidato) perpisahan, ritual adat dan deraian ishak tangis keluarga dan warga Mabar umumnya. Secara manusiawi, mungkin kita 'belum siap' untuk menerima takdir yang menimpa WFP. Namun, kita tak punya kuasa untuk membatalkan dan atau membelokan 'garis sejarah' seseorang yang sudah ditetapkan oleh Sang kreator sendiri.

Banyaknya warga yang datang 'melayat' dan berjubelnya manusia baik pada saat penyambutan dan penerimaan jenazah di Bandara yang dilanjutkan dengan 'pawai agung' mengelilingi kota Labuan Bajo dan lautan manusia yang mengikuti upacara pemakaman, menjadi 'bukti paling valid' soal ketokohan WFP. Publik Mabar sangat mencintai dan bahkan mengidolakan WFP. Kepergian WFP tentu sebuah kehilangan dan dalam level tertentu 'sebuah pukulan' bagi kita.

Raga sang pahlawan itu, kembali menyatu dalam 'rahim bumi'. Beliau akan 'terbaring' selamanya dalam pusara indah itu. Berharap doa yang melengking dari dasar 'samudra hati yang jujur' akan menembus langit. Semoga arwahnya diperkenankan untuk 'mencicipi' suasana bahagia abadi bersama para malaikat dan semua orang kudus di surga.

Selamat jalan sang Pahlawan Mabar. Jasamu terlampau agung untuk dilupakan begitu saja. Mabar umumnya dan Labuan Bajo khususnya, menjadi 'maha-karyamu' yang terekam abadi dalam kitab kenangan dan pita memori anak-anak Mabar.

Sebagai makluk yang 'saling mencintai' (homo amans), demikian Gabriel Marcel, manusia sesungguhnya tidak pernah mati. Kendati, raganya 'lenyap', namun ingatan tentang 'keberadaannya' tetap hidup selamanya. Seorang penyair dengan sangat puitis menegaskan bahwa 'bagi yang saling mencintai, hidup adalah keabadian'. Dengan demikian, tidak ada kosa kata kematian bagi orang yang sungguh hidup dalam persekutuan (komunitas) cinta.

Dalam perspektif iman kristiani, kita meyakini bahwa 'tubuh fana' sudah diubah oleh tubuh surgawi berkat kematian Kristus. WFP sudah memikul 'salib tanggung jawab' yang diberikan Tuhan kepadanya secara konsisten sebagai 'bapak Mabar'. Karena itu, kebangkitan adalah 'hadiah yang patut' bagi orang yang setia memanggul salib Kristus.

Rest in peace bupati pertama Mabar. Beristirahatlah dengan tenang sang pahlawanku. Doakan kami yang masih 'berziarah' di panggung semesta fana ini. Semoga sekumtum bunga yang kami taburkan di pusaramu pasti semerbak mewangi dalam mengiringi kepergianmu menuju 'Rumah Kekal'.

*) Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Labuan Bajo
×
Berita Terbaru Update