-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Semana Santa dan Spiritualisme Kritis

Sabtu, 21 Maret 2020 | 12:03 WIB Last Updated 2020-03-21T05:03:37Z
Semana Santa dan Spiritualisme Kritis
Perarakan patung Tuan Ma (gambar; dolovesatravel.blogspot.com)

Tahun ini adalah tahun yang buruk. Dengan mewabahnya COVID-19, kita bukan saja sedang berperang melawan virus ini saja, tetapi berperang melawan teror-teror massa yang sedang meledak dan membludak di dinding Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan lain-lain. Media sosial ditumbuhi bahkan terjangkit teror-teror kecil maupun besar.

Saya menyebut teror-teror ini dengan nama doa-doa dan harapan manusia tentang apa yang terjadi. Ini menjadi sebuah kegelisahan eksistensial umat manusia seluruhnya. Jika Anda membaca status Facebook seorang temanmu yang berbunyi: semoga kita libur dan belajar di rumah lebih cepat; jangan mengejek dan mengatakan ia pemalas. Atau status lain berbunyi, semoga Otoritas Gereja cepat berpikir soal merumahkan umat untuk berdoa secara online, jangan pikir ini tindakan fanatik dan bodoh yang melawan Tuhan. Atau, ketika Anda membaca status, semoga Semana Santa di Larantuka tidak diadakan untuk tahun ini; jangan Anda memaki, lalu mengatakan iman lebih kuat dari virus, kemudian menegaskan bahwa ini soal tradisi yang tidak bisa dihapuskan dari muka bumi ini.

Sebagaimana kemarin, Pentahbisan Uskup Ruteng di kota Ruteng, mendapat sorotan semua orang, baik pemeluk teguh Katolik, Kristen, Islam, dan lainnya, bahwa himbauan pemerintah tidak dihiraukan, lalu lahir kebodohan yang otentik, Anda tidak boleh merasa tersinggung, baperan, atau marah dan ingin mengutuk si kritikus.

Dari semua gairah teror-teror yang tampak maupun tidak tampak, kita perlu memikirkan bahwa doa saja tidak cukup. Iman Anda sekuat biji sesawi pun tidak bisa menghapus corona yang diam-diam ubi berisi itu.

Untuk itu, saya hendak menyoroti Semana Santa di Larantuka dan berbicara soal spiritualisme kritis kita sebagai umat Katolik, dan yang paling penting ialah sebagai warga negara yang baik.

Semana Santa: Apa Harus Digelar?

Dalam kaca mata iman, demi iman, dan untuk iman, saya yakin umat Katolik di Larantuka sangat merindukan momen akbar ini kembali dijalankan seperti biasa. Ada yang akan menolak, jika tidak diadakan tahun ini. Pasti muncul pro dan kontra.

Sebagai anak Flores Timur, yang peduli dan mencintai nagi tanah, saya merasa memiliki tanggung jawab moril perihal tanggap virus mematikan ini. Saya memberikan beberapa catatan kritis dan mungkin bisa dikritisi untuk menemukan solusi bersama.

Pertama, Semana Santa sebaiknya tidak digelar pada tahun ini. Pertimbangan ini penting karena mempertimbangkan Vatikan yang lagi sepi saat ini, Yerusalem ikut sunyi senyap, maka sebagai makhluk sosial, yang berpikir dengan akal sehat, kita perlu bijaksana dalam menyikapi kondisi saat ini. Kondisi saat ini adalah paling parah dan COVID-19 bukan hanya soal Anda dan saya beriman dan paling hebat dan berani dalam berdoa dan bekerja, tetapi ini adalah pandemi sebagaimana yang ditegaskan oleh WHO.

Kedua, di Italia, sebagaimana diberitakan oleh Detik dan media-media lainnya, jumlah korban meninggal dunia akibat virus Corona di Italia akhirnya melampaui jumlah korban meninggal di China yang menjadi lokasi awal kemunculan virus ini. Saat ini dilaporkan lebih dari 3.400 orang meninggal akibat virus Corona di wilayah Italia.

Seperti dilansir AFP, Jumat (20/3/2020), otoritas Italia dalam laporan terbaru mengumumkan total korban meninggal akibat virus Corona mencapai 3.405 orang hingga Kamis (19/3) waktu setempat. Lonjakan terjadi setelah otoritas Italia melaporkan 427 kematian baru sepanjang Rabu (18/3) waktu setempat.

Bayangkan, satu hari bisa puluhan, bahkan ratusan orang yang meninggal, lalu salahkan jika kita lebih baik mencegah. Cara sederhana adalah melawan dengan pencegahan secepat mungkin, dan tidak bisa mengatakan bahwa saya sehat, saya kuat, saya tahan banting dan tidak tertular. Ah, kalau Anda disuruh makan nasi, apakah Anda harus makan batu? Maka dari itu, jika pemerintah sudah mengeluarkan perintah kolektif, maka jangan anggap sepeleh dan berpikir di Ende belum tertular, atau di Bajawa kami dingin jadi tidak bisa tertular, mungkin di nagi mengatakan kami makan jagung titi jadi virus takut. Apakah demikian?

Umat beragama lain akan menertawakan kita, jika pada tahun ini Semana Santa digelar. Walaupun dengan menutup semua jalur transportasi laut, darat, udara bagi para wisatawan, pada intinya virus ini pandemi. Ia memiliki kepintaran yang tidak bisa dibagi-bagi, atau di-share ke publik, bahwa hari ini saya akan menyerang kampung Batu, misalnya. Lalu, apa solusi saat ini? Saya menawarkan spiritualisme kritis di sini.

Spiritualisme Kritis: Apa Itu?

Spiritualisme kritis membutuhkan adanya keterbukaan, kebijakan, kebijaksanaan terhadap yang spiritual tanpa mengabaikan nalar atau otak manusia itu. Jika saat ini memang kita dihadapi dengan COVID-19 yang mematikan ini, maka Prosesi Semana Santa perlu dipikirkan untuk tahun ini. Mengapa Vatikan sepi, dan Paus Fransiskus memilih beribadah dari dalam, karena ia memahami spiritualitas ini.

Kritis tidak berarti Anda dan saya kehilangan iman yang otentik itu. Iman yang menolong budi, harus dilakukan dan diyakini bahwa ini bukan cara tolol atau bodoh yang dibuat dalam sejarah umat manusia. Tetapi, ini adalah alur berpikir yang memahami teologi yang sejati, yakni ortodoksi dan Ortopraksi.

Ortodoksi berasal dari dua kata Yunani yakni orthos yang berarti “benar” dan doxa yang secara harafiah berarti “kemuliaan, penghormatan, ibadah, serta pendapat”. Kata ini berakar dari kata Yunani dokeo yang berarti “pikiran, pendapat atau dugaan”. Lalu, Ortopraksi atau Ortopathi berasal dari dua kata Yunani yakni orthos yang berarti “benar” dan pathos yang berarti “afeksi, sikap hati, dan keinginan”. Frasa ini berarti sikap hati yang lurus atau benar terhadap Allah. Di dalam kitab hikmat, pengetahuan akan Allah (hikmat) hanya dimiliki oleh orang yang takut akan Allah. Takut akan Allah tidak berarti kita setia dan fokus berdoa sepanjang hari, tapi bagaimana kita menghargai kemanusiaan dalam konteks yang lebih universal. Dan ini adalah tindakan yang benar.

Kedua poin ini, sebaiknya dijadikan sikap dasar mencegah secara kritis dari pada nanti kita mengobati sambil menangis. Tuhan tidak marah, tetapi ramah dan penuh dengan tanda tanya. Jika beriman sudah cukup, belum tentu kita berbuat baik sebaik mencegah saat krisis melanda kota, kampung, rumah milik kita.

Untuk itu, saya sendiri dengan sikap dasar ini, saya menolak Semana Santa digelar untuk tahun ini dengan mempertimbangkan iman yang menolong budi, dan sebaliknya budi yang menolong iman. *

Oleh: Eto Kwuta
Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, tinggal di Ende, Flores.
×
Berita Terbaru Update