-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Spiritualitas Harapan dan Covid-19

Selasa, 31 Maret 2020 | 19:32 WIB Last Updated 2020-04-01T06:21:54Z
Spiritualitas Harapan dan Covid-19
Pater Doddy Sasi, CMF

Oleh: Pater Doddy Sasi, CMF

Selasa pagi, 31 Maret 2020, ketika mata masih agak berat saya membuka dan membaca beberapa pesan WhatsApp yang masuk di Handphone saya. Pesan-pesan ini tentu saja masih seputar Covid-19. Saya terkesan dengan isi sebuah pesan: “pada pasien yang sementara berjuang untuk sembuh diperlukan dukungan moril untuk sembuh. Untuk itu diperlukan optimisme dan harapan. Dan salah satu caranya adalah membuat komplikasi berita kesembuhan: bahwa sembuh itu mungkin”. Saya tertegun sejenak. Meresap pelan dan dalam kata-kata itu.  Datang dalam benak saya satu kalimat: Spiritualitas Harapan. Dua kata ini memantik adrenalin bathin saya untuk sejenak berbagi rasa, mungkin sedikit rasa cemas tapi berjuta rasa harap. Tapi jangan lupa seruput dulu kopinya dan kunyah dulu kue cucurnya. 

Sebelum kita merenung dan mendayung tenang bersama dalam spiritualitas harapan dalam penderitaan, alangkah baiknya kita sejenak  melihat bersama terminologi “darurat pandemi”  untuk Covid-19. Dua kata pertama punya makna yang dalam. Kata “darurat”, orang Italia menyebutnya “emergenza” dari kata kerja “emergere” yang bisa kita artikan sebagai sesuatu yang timbul, muncul dengan menonjol.  Lalu kata “pandemi”, dalam Kamus Bahasa Yunani berasal dari dua kata: pan (semua) dan demos (rakyat), artinya semua rakyat (Italia: tutti i popoli). Covid-19 disematkan kata pandemi karena memang penyebaranya sudah jauh hampir ke seluruh dunia dan pada semua kita manusia. Berhadapan dengan “darurat pandemi” ini, perlu dan harus muncul sebuah gerakan bersama untuk dunia dan semua kita. Dan rasa-rasanya, salah satu gerak-aksi yang tepat adalah ada bersama, saling menguatkan, saling mendoakan, atau di Spanyol setiap pukul 20.00 ada aksi solidaritas “aplaus” (tepuk tangan) bersama atau di Italia beberapa waktu lalu masing-masing orang dari balkon rumahnya bernyanyi bersama. Satu tujuannya:  untuk saling menguatkan dan keyakinan bahwa kita pasti menang melawan pandemi Covid-19 ini. 

Rasa saya, gerak untuk saling menguatkan, mendoakan dan saling memberi dukungan moril dalam situasi pandemi Covid-19 dengan berbagai caranya itu, saya namakan gerak-aksi cinta kasih. Sepakatkan kita beri nama itu. Tidak pun tidak apa-apa. Kita lanjut. Gerak cinta kasih yang kita bagikan kepada sesama yang menderita tersebut nyatanya, mampu menumbuhkan harapan, baik bagi diri kami sendiri maupun bagi mereka yang menderita. Gereja Katolik memberi penjelasan dengan sangat menarik tentang bagaimana harapan itu bertumbuh dalam penderitaan dalam ensiklik Paus Benediktus XVI “Spe Salvi” (Harapan yang menyelamatkan). Ensiklik ini dipublikasikan pada 30 November 2007. Ensiklik ini  mengatakan bahwa aksi dan penderitaan manusia merupakan suatu medan pembelajaran tentang harapan. Penderitaan adalah bagian dari eksistensi manusia. Tentunya, harus dilakukan usaha untuk mengurangi penderitaan: mencegah - sejauh mungkin -, meringankan rasa sakit untuk memberi bantuan dalam mengatasi penderitan mental. Ini adalah kewajiban - kewajiban baik dalam keadilan maupun dalam cinta, dan hal-hal tersebut termasuk di antara prasyarat fundamental bagi kehidupan Kristen dan setiap kehidupan manusia sesungguhnya (art. 36).  Situasi penderitaan menjadi setting bagi pengharapan, karena harapan justru perlu ditumbuhkan dalam penderitaan, situasi di mana manusia merasa putus asa, marah, atau mungkin menyesali kehidupannya.

Lebih lanjut, ensiklik Spe Salvi mengatakan bahwa kita dapat mencoba untuk membatasi penderitaan, untuk melawannya, namun kita tidak dapat menghilangkannya. Ketika kita berusaha untuk menghindari penderitaan dengan menarik diri dari semua hal yang mungkin menyakitkan, ketika kita mencoba untuk mengelak dari upaya dan kesakitan dalam mengejar kebenaran, cinta dan kebaikan, maka kita mengambang ke dalam kekosongan, di mana mungkin hampir tidak ada rasa sakit, namun sensasi kegelapan yang ditimbulkan oleh tiadanya makna dan keterkucilan justru lebih besar. Kita disembuhkan bukan dengan menghindari atau menyingkir dari penderitaan, namun kita disembuhkan oleh kapasitas kita untuk menerima penderitaan, menjadi dewasa melaluinya dan menemukan maknanya melalui kesatuan dengan Kristus, yang menderita dengan cinta yang tak terbatas (art.37).  

Kehadiran kita dalam doa dan dukungan  tentu saja tidak dapat melenyapkan penderitaan yang sedang dialami namun dapat membawa mereka dan kita, dengan cinta kasih, pada penerimaan atas penderitaan mereka. Cinta kasih kita yang terwujud dalam doa dan dukungan moril ini menjadi usaha dan gerak bersama untuk menumbuhkan harapan bagi mereka yang sakit, keluarganya dan para petugas kesehatan. Mungkin lebih spiritual lagi bahwa doa-doa dan dukungan yang kita sampaikan ini bernuansa menyatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Kristus sendiri sehingga mereka dapat lebih kuat dalam pengharapan. Kayaknya bagian terakhir  ini pas dan tepat dengan spirit masa prapaskah. Senyum dulu. Serius sekali bacanya.  

Ensiklik Spe Salvi menyatakan pula bahwa dalam Kitab suci, kata “iman” dan “harapan” dapat saling dipertukarkan. Dengan harapan, pintu gelap waktu di masa depan, telah dibentang terbuka. Mereka yang memiliki harapan, hidup secara berbeda; mereka yang mempunyai harapan telah diberikan karunia kehidupan baru (art.2).  Inilah mengapa harapan berkaitan erat dengan iman. Penulis surat kepada orang Ibrani menjelaskan iman sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Harapan didasarkan pada iman, dan karenanya keduanya tidak dapat dipisahkan. Bisa kita rumuskan bahwa gerak-aksi cinta kasih kita menumbuhkan harapan, sekaligus mengandaikan bahwa di dalam gerak-aksi ‘cinta kasih kita’ tersebut terkandung iman. Cinta kasih itu digerakkan oleh iman.

Akhirnya kita diyakinkan bahwa ada Spiritualitas Harapan yang ditemani oleh dua saudari besarnya (Iman dan Cinta) menjadi senjata bagi kita berhadapan dengan pandemi Covid-19. Tebalkan spirit harapan kita.  Bersama kita bisa. Bersama kita pasti menang. Kopi habis. Kue cucurnya sisa tiga. Satu untuk iman. Satu untuk cinta. Satu untuk harapan. 

“Tetaplah berharap disaat kita merasa tidak ada lagi pengharapan”

Salam Sehat 
Saling Mendoakan
×
Berita Terbaru Update