-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Status Quo Pembangunan di Manggarai

Sabtu, 14 Maret 2020 | 11:12 WIB Last Updated 2020-03-14T04:13:48Z
Status Quo Pembangunan di Manggarai
Ilustrasi; bumi-nusantara.blogspot.com

Tak ada perubahan, karena yang terjadi adalah status quo. Begitulah, peta pembangun yang telah saya deskripsikan dari berbagai aspek pembangunan pada daerah Manggarai kontem­porer, menyusul dialegtika dan kisruh selama ini oleh media yang menyajikan berbagai berita tentang kegagalan DM dalam kurun tiga tahun memimpin Manggarai tercinta. 

Masalah sampah boleh dibilang polemik yang mendapat reting cukup tinggi dari sekian masalah. Tak gampang kalau kota sejengkal tangan ini mendapat predikat terburuk dalam konotasi kebersihan. Atas prestasi ini media Manggarai hampir di penuhi pemberitaan tentang sampah yang walaupun beberapa media juga enggan, maklum ada media yang katanya satu selimut dengan penguasa, sudalah karna semua demi perut, lain cerita kalau mau kita bahas kusus tentang kasak kusuk pemberitaan yang di rilis oleh perusahaan media ini. 

Dari masalah sampa kita sedikit alih ke masalah pembangunan fisik, rupanya masalah pembangunan jalan dan kegiatan fisik lainya sebenarnya lagu lama, tetapi kita coba menarik kembali soal konsistensi penguasa dalam memimpin daerah tercinta ini, masih ingatkah kita postingan akun FB yang bernama Arka Dewa, sebagaimana ia ceritrakan dalam akun tersebut tentang sebuah pembangunan drainase yang asal buat. 

Hal itu salah satu contoh bagian dari kesemerawutan. Akibat dari postingan itu pemilik akun Arka Dewa langsung dimutasikan ke Dispar, masalah itu rupanya penguasa sudah tak konsistensi lagi terkait right man on the rigth place, perlu kita ketahui pemilik akun dari Arka Dewa adalah seorang master Teknik. Sejak saat itu semua birokrat terbungkam oleh kediktatoran, tak ada lagi yang berani menetang penguasa, semua yang melawan telah disingkirkan dengan cara yang sadis. 

Masih seputar masalah pembangunan, jalan aspal yang dirilis baru-baru ini oleh salah satu media lokal, coba dibayangkan tag line dari pemberitaan di kala itu menggambarkan fakta kebusukan dibalik konspirasi antara cukong dan penguasa, tender yang penuh dramatis. 

Pembangunan jalan itu adalah imbasnya, masyarakat adalah korbannya, kehancuran itu telah di buat secara terstruktur, kenapa dikatan terstruktur, karna semua diawali oleh terjadinya barter kepentingan, semacam sharing power, yang jelas kita telah dikibuli oleh penuh dramatisme yang dilakoni sang penguasa, kesemerawutan tentang pembangunan sebenarnya masih banyak lagi. 

Rupanya saya mengalami keterbatasan pena untuk mengukir ceritra itu di atas lembaran putih sehingga keterbatasan itu, saya coba mengisi dengan celoteh dramatisasi dan sikap penguasa di bidang olahraga sepak bola, karna olah raga sepak bola sebenarnya tak kala penting dengan bidang lainya. 

Perlu kita ketahui bahwa olah raga sepak bola merupakan olah raga yang hampir semua kaum Adam menyukainya, tentang sepak bolah penguasa tak ada tawar lagi untuk diperhatikan, geliat daerah lain sudah jauh ke depan tentang olahraga yang satu ini, lalu kapan Manggarai, stadion golo dukal saja hanya tinggal ceritra. 

Fasilitas negara yang duluh mega kini hancur berantakan, bak rumah yang tak bertuan, miris memang nasib olahraga di Manggarai, hampir semua bidang olahraga kemelut tentang prestasi, kemelut soal prestise sang penguasa yang doyan dengan pembangunan infrastruktur, tak ada lagi dalam benak merek soal menyalurkan bakat generasi penerus bangsa, tak perhatikan sepak bola maka penguasa sama hal tak menghiraukan generasi mudah yang menghuni tanah Nucalale.

Dari sekian sengkarut ceritra tentang pembangunan di manggarai maka secara lugas dan tegas saya menyampaikan hipotesanya status quo pembangunan.

Vox Populi Vox Doi

Bagi Setiap orang kata Vox Populi Vox Doi sebenarnya cukup asing karna selama ini memang kata ini gemar di ceritrakan Vox Populi Vox Dei yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan. 

Dalam judul tulisan ini saya coba ekspresikan lain yang walaupun ekspetasinya cukup buruk juga di sandingkan dengan kata "Doi", karena saya kehabisan kata dalam membangun nalar yang pas atas berjalanya rodah pemerintahan yang dipenuhi dramtisme keperihatinan lalu kemudian nalar itu membuat skeptis seakan semuanya berjalan di lorong abu abu. 

Semuanya itu tak perlu di buat tafsir lagi, tak bisa di bantahkan, dalam perhelatan politik uang menjadi raja atas segalanya, tak ada partai tanpa mahar, tak ada timses yang bekerja secara suka rela.

Setiap lini kemenangan digerakan oleh kontraktor, tak dipungkiri semunya demi kepentingan perut, miris bukan main memang praktik politik kita di Manggarai tercinta. 

Pesta demokrasi yang mestinya pesta kesenangan rakyat, yang awalnya ramaih dan riuh dan akhirnya nestapa yang di dapat, banyak ketimpangan sosial terjadi, masyarakat merengek dengan penuh persoalan bantuan sosial yang tebang pilih, lalu penguasa banyak berdalil bahkan senaknya penguasa berselancar diatas jeritan itu. 

Maklum tak ada orang di daerah kita ini bisa menggulingkan sebuah kekuasaan, karna sang kuasa di kelilingi cukong, dan borjuis, yang miskin tetap dan tambah miskin sedangkan yang kaya tamba kaya, semuanya itu karna aklak dan moral tak berguna lagi. Semua peran dilakoni kepentingan barter, semuanya dibeli oleh uang, mungkin ini yang dinamakan politik is the game.

Oleh: Ignasius Margareto Jayadi
Penulis adalah Pegiat Media Sosial, Tinggal di Wase Wengke, Desa Beo Rahong

Kontak: redaksisocietasnews@gmail.com
×
Berita Terbaru Update