-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Stop 'Aktivitas Menipu Rakyat' Berkedok Tatap Muka

Selasa, 24 Maret 2020 | 13:07 WIB Last Updated 2020-03-24T06:07:28Z
Stop 'Aktivitas Menipu Rakyat' Berkedok Tatap Muka
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Kita sedang mengalami 'wabah yang mengerikan'. Darurat covid-19. Virus itu sudah menjadi pandemik sekaligus 'musuh nomor satu' yang mesti diperangi oleh publik mondial, termasuk di Labuan Bajo.

Pemerintah dengan tegas menginstruksikan untuk mengurangi kegiatan yang melibatkan banyak orang. Para ASN diminta untuk bekerja dari rumah saja (work from home). Semua lembaga pendidikan formal diliburkan untuk sementara waktu. Spot-spot wisata populer 'ditutup'. Tegasnya, untuk sementara kita 'mengurung' niat kita untuk 'ada bersama' dengan kelompok sosial yang lebih besar. Metode 'menjaga jarak dengan kerumunan sosial' (social distancing) terus dikampanyekan oleh pihak berwajib.

Semua itu dibuat sebagai langkah antisipatif dan preventif penularan virus corona yang kian membahayakan saat ini. Selain pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan bergizi, kita dihimbau untuk 'membatasi' aktivitas di luar rumah. Itu berarti 'kegiatan politik' dalam sebuah forum diskusi publik atau tatap muka seharusnya 'dibatalkan atau ditiadakan'.

Bahkan para pemimpin agama pun sudah mengeluarkan himbauan agar umat/jemaat 'berdoa' di rumah saja. Semua bentuk kebaktian atau ibadat dalam kelompok di rumah ibadat, untuk sementara ditiadakan. Pesan dari himbauan ini saya kira sangat tegas, yaitu kita sedang 'berkosentrasi' melawan virus corona. Negara kita sedang mengalami 'darurat corona'.

Tetapi, entah mengapa instruksi dan himbauan tersebut tidak diindahkan oleh salah satu bakal calon bupati (bacabup) Mabar. Beberapa media daring edisi Minggu, (22/3/2020) memberitakan kegiatan tatap muka dari bacabup tersebut di tengah derasnya larangan 'mengumpulkan massa' pada satu tempat saat ini. Bacabup kita itu, tetap nekat 'melawan' himbauan itu dengan menggelar acara 'diskusi politik' yang dikemas dengan diksi 'tatap muka'.

Nalar sehat kita agak sulit mencerna 'tindakan nekat' dari sang bacabup itu. Kita tidak tahu apa argumentasi mendasar sehingga aktivitas 'tatap muka' tetap digelar? Apakah masyarakat saat ini sangat membutuhkan 'cerita omong kosong soal politik Pilkada' atau masyarakat butuh perhatian konkret dari Pemda dalam mencegah penularan Covid-19 di daerah ini?

Saya sendiri tidak menemukan alasan yang meyakinkan sebuah acara 'tatap muka politik' dihelat di tengah kepanikan menghadapi wabah yang mengerikan ini. Siapa pun tahu bahwa pertemuan politik semacam itu tidak lebih dari pertunjukan ide politik yang kerap tidak dijalankan secara konsisten. Para kandidat hanya memamerkan gagasan atau mimpi indah yang umumnya tidak terlaksana dalam dunia kenyataan.

Jauh lebih bermartabat jika sang bacabup memberikan bantuan konkret berupa bagi-bagi masker atau alat anti-septik kepada publik, ketimbang orasi politik yang hanya lips service itu. Berdiskusi soal kontestasi Pilkada bersama konstituen di musim Corona ini, saya kira, bukan sebuah tindakan yang terpuji. Apa artinya kita 'mengejar simpati publik', sementara sebagian besar warga dihantui oleh virus yang menakutkan itu.

Mungkin materi 'pertemuan politik' adalah penyadaran kepada warga bagaimana menghindar dari covid-19. Tetapi, soalnya adalah pertemuan itu bertajuk 'tatap muka' yang besar kemungkinan diisi dengan retorika mempromosikan diri sebagai salah satu kandidat bupati. Kendati misi promosi diri itu tidak dinyatakan secara eksplisit pada acara diskusi publik itu, kita bisa pastikan bahwa sasaran dari kegiatan itu adalah 'memperkenalkan diri' kepada konstituen sebagai salah satu bacabup Mabar.

Di satu sisi, boleh jadi sang bacabup ingin memperlihatkan keberaniannya dalam menghadapi covid-19. Beliau tidak panik dan tidak perduli dengan berita covid-19 itu. Dengan demikian, mungkin dirinya mau memberikan edukasi mental kepada publik supaya tidak gentar menghadapi virus itu.

Namun, pada sisi lain, tindakan itu sangat berisiko dan berpotensi bagi penularan virus mematikan itu. Mendidik konstituen dengan cara yang kontraproduktif, tentu tidak bermanfaat bagi publik. Kita memberikan pendidikan dan penyadaran dengan metode yang keliru. Nilai edukatifnya pudar oleh pilihan metode buruk.

Karena itu, kita mendesak para bacabup, bacawabup, dan para tim pemenangan untuk 'mengurungkan nafsu berpolitik' di saat wabah corona merebak. Hentikan semua kegiatan yang berujung pada manipulasi kesadaran publik yang berkedok 'tatap muka, ngopi bareng, bincang bareng, silahturahmi politik, dll. Mari kita arahkan energi atensi pada cara pencegahan dan penanganan terhadap covid-19.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik
×
Berita Terbaru Update