-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Suara Anak Adonara: Adonara Mo Molo, Go Dore (Adonara Di Depan, Saya Mengikuti)

Jumat, 06 Maret 2020 | 19:56 WIB Last Updated 2020-03-06T13:02:34Z
Suara Anak Adonara: Adonara Mo Molo, Go Dore (Adonara Di Depan, Saya Mengikuti)
Pater Tuan Kopong MSF

Kujejakkan kaki untuk pergi, kuayunkan tangan untuk menjumpaimu, nasehat bijak kalian tidak kulupakan, pesan kalian tidak kubuang. Kalian selalu berpesan padaku agar tidak terantuk jatuh mencari sepiring nasi untuk mengangat nama Adonara. Pembicaraan tidak panjang, kusimpan didalam hatiku nasehat bijak kalian sebagai kekuatanku (Go eda leik lodo pana, go tiwan limak kai geniko, koda mion go gelupa hala, kirin mion go welu hala. Tena maan dore-dore ti ake ke pewalet petodokek dori raran kai seba wata pirin tou, soga naran Adonara. Kirin belaha hala, koda melan senaran neka weli onek kuat kemuha goen).

Saya meminta maaf karena bahasa penyambung saya dibawa ini saya tidak tuliskan dalam bahasa kita tetapi dalam bahasa Indonesia. Kutuliskan dalam bahasa Indonesia agar saya tidak salah dalam bertutur. Mungkin agak buruk, tapi hati saya tetap untuk Adonara, bangga karena melihat Adonara (Go leta maaf puken koda goen holok pi reren ni go tagi kaan koda titen hala naku koda Indonesia. Go girekro kaan bahasa Indonesia puken ake ke glesokek, ake ke nalanek. Mungkin aen medo, naku go onek koon Adonara, Sare koi Adonara).

Adonaraku, bapak, mama dan kakak, ade semuanya....

Di manapun saya berada, Adonara selalu kubanggakan, kuceritakan dan kukisahkan walau itu hanya dalam balutan selendang. Kemanapun dan dimanapun selendang Adonara selalu kukenakan meski di negara orang sekalipun di mana saya bertugas hingga hari ini. 

Bukan untuk pamer atau gaya-gayaan tetapi karena cinta dan banggaku memilikimu Adonara. Bagiku Adonara adalah penuntun dan pengajar moral bagiku, Adonara adalah inspirasi dan penyemangatku untuk berjuang demi nama besar Adonara. Adonara adalah panggilan jiwa yang selalu memanggilku untuk kembali menjumpainya.

Bahwa hari kemarin dan juga hari-hari sebelumnya ada tragedi menyisahkan duka lantaran tanah yang diperjuangkan sebagai hakikat dan martabat hidup, aku sedih, aku berduka namun aku anak Adonara masih memiliki asa dan harapan bahwa masih ada jalan dan cinta perdamaian yang bisa kita rajut, yang bisa kita sulam dalam diskusi kekeluargaan dan kekerabatan.

Bapak, mama, kakak dan ade...

Mungkin saya salah dalam menilai, tapi bagiku yang hanya seorang anak Adonara, ketika sabda dan tuturmu (koda) yang selalu mengingatkanku; “Adonara mo molo, uhunem kame dore” (Adonara di depan, kami mengikuti) adalah sebuah ajaran dan teladan kebaikan, perdamaian dan cinta yang wajib diajarkan oleh bapak, maka dan kakak-kaka kepada saya. 

Adonara adalah kita. Adonara adalah bapak, mama, kakak, adik semuanya. Adonara adalah bapak dan mama yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan kelembutan dan bukan kekerasan, yang mengajarkan penghargaan terhadap hidup sesama dan bukan peperangan. Saya sebagai anak Adonara, sadar diri bahwa saya tidak sedang mengajari mama, bapak, kakak, adik semuanya. Karena saya lahir dari rahim Adonara di mana rahim mama dan bapak. Tapi ketika bahasa tutur Adonara di depan, kami anakmu mengikuti yang bapak dan mama selipkan ketika saya melangkah itu berarti bapak dan mama semuanya meletakan dasar yang kuat menjadi contoh dan teladan bagi saya dan juga anak cucu Adonara lainnya. Inak dan amak di depan dan saya sebagai anak mengikuti kalian.

Bapak, mama, kakak, ade...

Karena rasa cinta dan sayangku padamu, pada kalian semua dan pada Adonara, saya juga ikut terluka, tersakiti dan menangis ketika Adonara dirundung duka oleh tragedi kemanusiaan. Saya ikut berduka dan menangis ketika ada ratap dari anak Adonara lantaran ada tragedi bersimbah darah mewarnai wajah Adonara.

Saya adalah anak kalian meski bukan terlahir dari rahim kalian. Saya adalah anak kalian karena lahir dari rahim Adonara. Maka sayapun berduka bahkan sangat terluka ketika saya harus berpisah dengan sesama anak Adonara lantaran ada tragedi yang terjadi. Saya tersakiti ketika saya harus takut berpapasan dengan sesama anak Adonara yang adalah saudara dan saudariku juga. Saya menangis karena, akupun menjadi korban dari sebuah tragedi yang tidak saya harapkan juga sesamaku anak Adonara. 

Saya dan mereka anak Adonara lainnya adalah korban dari tragedi yang memisahkan persahabatan, kekerabatan dan kekeluargaan yang kami cipta dan rawat bersama sebagai anak Adonara.

Bapak, mama, kakak dan ade...

Ijinkan saya dan juga anak-anak Adonara lainnya berkata kepadamu; “jangan pisahkan kami sebagai sesama anak Adonara”. Kami tak mampu memberi banyak, namun ijinkalah kami untuk bersuara menyuarakan perdamaian, persatuan, kekeluargaan dan kekerabatan yang lahir dari rahim Adonara. 

Suara kami mungkin tidak terlalu keras untuk menyampaikan kepada bapak, mama, kakak dan ade, namun ijinkan saya dan anak-anak Adonara lainnya menjumpaimu sambil berkata kepadamu; “bapak, mama, kakak dan ade, kita satu Adonara yang cinta damai dan bukan kekerasan, yang memaafkan dan bukan pendendam, yang bersama berjuang untuk gelekat (membangun) Adonara. 

Manila: 06-Maret-2020
Adonara Uhune Tukan, Kolane Wanan (Anak Kesayangan):
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update