-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SUKA-DUKA BELAJAR DI KOTA ROMA [MARIANUM]

Jumat, 27 Maret 2020 | 06:00 WIB Last Updated 2020-03-27T01:08:51Z
SUKA-DUKA BELAJAR DI KOTA ROMA [MARIANUM]
Romo Fidel Wotan, SMM bersama rekan-rekan imam

(Non scholae sed vitae discimus = Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup)
********
Oleh: Romo Fidel Wotan, SMM, Lic. Theol.

Tulisan berikut ini sebetulnya merupakan sebuah sharing pribadi, batin yang saya alami beberapa tahun lalu ketika diutus untuk melanjutkan studi khusus dengan spesialisasi di bidang Mariologi di Kota abadi, Roma-Italia. Tulisan ini pernah dimuat dalam salah satu majalah intern Tarekat kami, namanya INTERNOS. Di situ saya membagikan aneka percikan pengalaman belajar atau studi di sebuah Negara [Italia] yang kini terdampak Virus Corona Covid-19 yang terparah di dunia seperti China. Pengalaman belajar atau perihal mendalami ilmu di bangku pendidikan bukanlah hal yang asing karena kita semua pernah mencecapnya. Meskipun demikian, tentu isi atau kandungan dari masing-masing pengalaman sangat bervariasi; bisa sama, bisa juga tidak sama.

Setiap pengalaman pasti memiliki cerita, kisah tersendiri karena bagaimana pun juga pengalaman itu sesuatu yang unik (è una cosa molto speciale) bagi subjek yang mengalaminya. Jujur, saya ingin mengatakan bahwa apakah yang menarik belajar di Eropa? Mungkin sebagian orang itu merupakan suatu pengalaman yang menyenangkan namun belum tentu bagi yang lain. Mengenai pengalaman belajar di Roma selama dua tahun, secara spontan muncul dari dalam pikiranku beberapa pertanyaan; apakah yang akan dapat dibagikan dengan para pembaca sekalian? Bukankah soal belajar, kita semua sudah pernah mengalaminya sejak dari bangku pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Selanjutnya apakah memang pengalamanku lebih menarik dari pengalaman orang lain? Tentu tidaklah demikian.

Sejak bulan Februari 2016, Pater Provinsial saat itu memanggilku dan berbicara secara pribadi tentang perutusanku. Saya tidak menyangka kalau diberi kepercayaan untuk menjalankan misi ini karena siapakah aku ini sehingga diberi kepercayaan seperti itu. Sebagai sebuah perutusan dari Kongregasi, saya mencoba menaatinya. Dari setiap pengalaman yang ada, saya belajar memahami dan merefleksikan bahwa sesunggunya “studi di luar negeri” bukan hal yang gampang atau mudah. Meskipun demikian, belajar di luar negeri sama sekali tidak menentukan bahwa seseorang itu lebih ‘hebat’, lebih pintar atau bahkan lebih mampu dari orang lain, sebab siapa saja bisa melakukannya. Menurut saya, untuk belajar dengan baik perlu apa yang dinamakan “managemen diri” atau organisasi diri dalam studi. Tanpa kedisiplinan ini, Anda (kita) tidak akan berhasil.

Sejak awal saya sudah mengalami beberapa kesulitan-tantangan. Salah satu hal yang harus saya hadapi ialah soal penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Italia. Bagi saya sebetulnya untuk belajar dengan baik di universitas di luar negeri, minimal perlu persiapan diri yang matang. Dalam konteks ini, persiapan bahasa harus dipikirkan jauh hari sebelumnya. Saya datang ke Italia hanya bermodalkan bahasa Inggris yang ‘sepotong-potong’ yang pernah dipelajari sejak SMP-SMA (tanpa pernah mengikuti sebuah kursus regular dan intensif di sekolah bahasa). Hal lain yang menjadi kesulitan awalku ialah soal adaptasi dengan budaya baru (Europa) yang tentu berbeda jauh dengan budaya kita orang Asia. Akan tetapi rasa kuatir tersebut perlahan-lahan diatasi dan seiring berjalannya waktu, proses pertumbuhan pun mulai terjadi. Ini terjadi berkat adanya interaksi sosial dengan dunia di sekitar. Di dalamnya saya merasa bertumbuh dan berkembang. Bagi saya, pengalaman hidup di dua komunitas yang berbeda selama berada di Roma (Komunitas Generalat, Monte Mario – Komunitas student Via Romagnia 44) sangat memperkaya diri. Pengalaman ini dapat saya refleksikan sebagai sebuah ‘mukjizat’, sesuatu yang menakjubkan berada di tengah-tengah komunitas internasional dengan orang-orang yang berbeda bahasa, budaya, kebiasaan, karakter, dlsb. Saya menamakannya sebagai sebuah ‘mukjizat’ oleh karena hidup berdampingan dengan para konfrater yang sejak awal tidak hidup dan dibentuk dalam struktur pembinaan dan model formasi yang sama serta berlatar-belakang generasi yang berbeda adalah hal yang tidak mudah. Tidak mudah mengharmonisasikan perbedaan-perbedaan tersebut. Oleh karena itu, di sini perlu apa yang dinamakan dengan ‘seni menganyam diri dalam sebuah diversitas’. Meskipun itu sesuatu yang tidak mudah, namun justru ini merupakan sebuah ‘hadiah’ malahan ‘mukjizat’ dari Tuhan yang bisa dialami. Syukur bahwa komunitas di mana saya tinggal – yang pada tanggal 6 Juli 2018 – saya tinggalkan, telah berubah menjadi sebuah ‘rahim’ baru yang menganyam dan membentuk diriku. Saya merasakan adanya suasana persaudaraan, persahabatan, kekeluargaan meskipun kami datang dari berbagai belahan dunia yang berbeda: Haiti, Colombia, Portugal, Italia, Kroasia, Kongo, Malawi, Kenya, India, Filipina, dan Indonesia. Berkenaaan dengan itu, secara khusus saya ingin berterima kasih kepada Pater Superior Komunitas Via Romagnia 44 (P. Jean Marie, smm dan P. Luigi Gritti, smm) yang dalam masa pendampingan mereka dalam kurun waktu yang berbeda, ikut membantu kami tidak hanya soal studi di kampus, akan tetapi juga hidup berkomunitas.

Setelah melihat kembali seluruh perjalanan tersebut, sejak awal kedatanganku di Roma (27 Mei 2016) sampai saat saya menulis pengalaman ini, tak terasa ada begitu banyak pengalaman yang sudah dilalui, entah itu pengalaman menarik-indah, menggembirakan maupun pengalaman yang tidak menyenangkan, membosankan, dlsb. Berkenaan dengan itu, saya hendak membagikan pengalaman bagaimana hidup dalam dunia studi. Soal belajar dan mendalami bahasa itu sesuatu yang tidak mudah, perlu kerja keras atau istilah orang kampung “banting tulang-cungkil matahari”.

Dua bulan penuh saya menekuni kursus bahasa Italia (Agustus-September) di Universitas Gregoriana. Puji Tuhan kursus ini berjalan dengan baik dan semuanya bisa dilalui, hanya saja saya merasa pada masa-masa awal masuk kuliah [oktober 2016], kira-kira hampir sebulan pertama, belum sungguh- sungguh siap untuk mengikutinya. Saya merasa bahwa penguasaan bahasa Italia masih pada level bawah sementara syarat untuk studi dengan baik di sebuah universitas ialah “kemampuan dalam menguasai bahasa utama yang dipakai di universitas”. Berkenaan dengan ini, seorang konfrater Italia (Bapak Rohani kami sekaligus professor Kitab Suci di Marianum, RP. Alberto Valentini, SMM) pernah berbicara lepas kepada kami bahwa pentingnya setiap orang mengalokasikan waktu satu tahun untuk belajar bahasa secara intensif. Caranya bisa bermacam-macam (menambah waktu studi baik di tempat kursus bahasa, maupun studi pribadi di rumah atau pergi hidup di sebuah komunitas selama 6 bulan). Setelah satu tahun mendalami bahasa, proses pendaftaran-perkuliahan di kampus dapat dimulai. Efek atau hasilnya amat berguna ketika memulai kuliah. Hal ini penting sebab – seperti yang kita semua ketahui – bahasa percakapan berbeda dengan bahasa yang digunakan di dalam kelas-kelas ilmiah. Berangkat dari pengalaman ini, saya pernah meminta Rektor / Superior Komunitas supaya menambah jam belajar bahasa Italia (sebulan lagi). Akan tetapi beliau menjawab bahwa saya tidak perlu belajar lagi, sekarang saatnya saya mempraktikannya atau belajar sendiri, dalam arti bahwa sambil kuliah sambil belajar. Namun, itu betul-betul melelahkan (menguras banyak energi).

Bulan Oktober 2016 saya masuk kuliah. Kuliah di hari perdana saat itu sebetulnya dapat saya katakana sangat menjengkelkan sebab apa yang dijelaskan oleh professor sama sekali tidak saya pahami. Beliau menerangkan materi pelajaran dalam ritme yang begitu cepat tanpa peduli apakah para mahasiswanya mengerti atau tidak. Selama satu bulan pertama saya tidak merasa kerasan dalam belajar. Meskipun demikian, saat itu saya berjanji pada diri sendiri bahwa pada suatu saat hal ini akan diatasi, dan masa-masa sukar ini bisa dilewati. Saya mencoba memakai beberapa metode belajar yang bisa membantu dalam menangkap atau memahami apa yang diajarkan oleh para professor di kampus. Bahasa utama yang dipakai di kelas (proses belajar-mengajar) ialah Italia (tidak ada bahasa pengantar lain bahkan bahasa Inggris sekalipun). Salah satu kebiasaanku yang diterapkan selama ini yakni “membawa laptop ke kampus setiap hari” (awalnya saya hanya membawa kertas/buku catatan, namun itu sangat tidak membantu). Pada waktu studi pribadi di rumah, hal yang saya lakukan biasanya ialah menyempurnakan kembali catatan saya. Pertimbangannya sederhana saja, yaitu kalau belajar sambil menulis atau membuat ringkasan itu akan sangat membantu proses penyerapan materi dua kali lebih cepat. Rupanya cara atau metode ini sangat berhasil (meski menyita waktu) sampai saya selesai kuliah. Hampir semua materi kuliah saya ketik dengan menggunakan laptop. Ada hal menarik lainnya – mengingat bahasa Italiaku masih amat standar – setiap sore setelah satu jam pertama (16.00-17.00) mengulangi kembali materi pelajaran yang barusan diperoleh di kampus. Satu jam selanjutnya (17.00-18.00) biasanya saya alokasikan untuk mendalami bahasa Italia. Demikian juga pada malam hari, satu atau dua jam pertama setelah makan malam (20.30-21.30) biasanya saya pakai untuk mempelajari bahan kuliah pada keesokan harinya dan sejam kemudian (21.30-22.30) saya gunakan untuk belajar bahasa Italia, kadang-kadang sampai larut malam. Lalu, kadang-kadang bangun pagi-pagi buka grammar Italia atau nonton berita dalam bahasa italia di Youtube. Hal ini saya lakukan setiap hari selama enam bulan pertama. Metode ini sangat membantuku dalam menyerap dan memahami materi kuliah yang diberikan – selain mencuri waktu luang membaca buku-buku yang ada. Dari sebab itu, pada waktu ujian saya tidak mengalami kesulitan karena saya mempunyai bahan, ada catatan, ada penjelasan yang tercatat. Selain mengandalkan catatan kuliah, saya juga menyisihkan uang saku untuk membeli buku-buku yang dipakai dalam perkuliahan. Biasanya setiap bulan masing-masing student diberi uang saku 100 euro. Setengahnya saya pakai selama ini untuk membeli buku-buku (saya tidak pernah meminta uang khusus untuk membeli buku-buku tersebut). Ini pun sangat membantu dalam mendalami materi perkuliahanku. Saya merasa senang bahwa semuanya itu berjalan dengan baik.

Hal yang paling menegangkan ialah ketika tiba waktunya harus mengikuti ujian. Kadang-kadang ada konfrater di komunitas, saat mulai musim ujian, dia tidak bisa makan dan sulit tidur oleh karena pikirannya tertuju pada bahan ujian. Sistem ujian di setiap Universitas Kepausan pada umumnya tidak jauh berbeda. Untuk Fakultas Teologi di Marianum (Pontificia Facoltà Teologica - Marianum) pada umumnya menerapkan sistem ujian lisan. Kadang-kadang professor meminta para mahasiswa menyiapkan sebuah argument yang disukai (un argumento piacere) dan kemudian dia mengajukan beberapa pertanyaan. Kadang-kadang juga professor mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa menanyakan materi atau tema apa yang disiapkan oleh student. Sistem ini dipakai karena selain mahasiswanya sedikit, juga sangat membantu para professor dalam memberi penilaian. Ini berbeda dengan para mahasiswa yang kuliah di Gregoriana atau Urbaniana bahkan mungkin di Angelicum, Salesianum, Antonianum, dll yang mengkombinasikan sistem ujian lisan dan ujian tertulis. Nilai ujian di kampusku biasanya langsung disampaikan oleh professor bersangkutan setelah selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian. Di tempat lain (di beberapa universitas pontifical), kadang nilai-nilai ujian muncul setelah beberapa hari atau satu dua minggu bahkan sebulan kemudian (kadang di check via website). Selain itu, Marianum juga menerapkan ujian tertulis, hanya saja ini dipakai khusus untuk menulis artikel dan mempresentasikannya. Jadi, seperti yang sudah diketahui, setiap mahasiswa menulis sebuah artikel dan mempresentasikannya di hadapan professor dan para mahasiswa. Mungkin ada yang bertanya apakah waktu ujian wajib menggunakan bahasa Italia? Bahasa Italia memang  untuk Marianum merupakan bahasa utama perkuliahan, hanya saja pada waktu ujian mahasiswa dapat memilih bahasa asing yang lain seperti; Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol atau Portugal. Itu tergantung pilihan dari mahasiswa atau student. Supaya tidak kerja dobbel, saya selalu menggunakan bahasa Italia (kecuali tesisku ditulis dalam bahasa Inggris hanya presentasinya dalam bahasa Italia). Demikian juga saat menulis paper untuk seminar, bahasa yang saya gunakan pada umumnya bahasa Italia selain bahasa Inggris. Biasanya bahasa Inggris menjadi pilihan kedua. Marianum tidak menerapkan ujian mid semester. Ujian hanya dilakukan satu kali dalam setiap semester. Kalau tidak lulus pada saat ujian pada waktu yang sudah ditentukan, maka mahasiswa harus mengulanginya pada siklus ujian berikutnya (tahun berikutnya). Setiap ujian yang tertunda atau diulang harus dibayar. Menurutku, sistem ini meminta kesiapan diri-managemen diri yang baik dalam belajar secara sungguh-sungguh. Jikalau tidak demikian, maka “Anda” harus bersabar dan mengulanginya lagi di tahun berikut (itu namanya membuang-buang waktu dan energi). Syukur bahwa Tuhan itu baik karena Dia memudahkan apa yang kita inginkan seiring dengan usaha dan kerja keras dari pihak kita. Selama dua tahun ini saya tidak pernah tidak lulus.

Mungkin ada juga yang masih bertanya bagaimana soal menguasai materi, bukankah kita harus membaca semua diktat atau buku-buku yang tebal dan harus mengerti betul-betul materi yang diberikan? Tentang hal ini, kadang-kadang menjadi sebuah kesulitan tersendiri bahwa untuk menguasai seluruh materi mungkin saja tidak bisa dilakukan dalam satu atau dua hari, itu perlu seminggu atau dua minggu bahkan harus diulang-ulang sambil membuat catatan atau ringkasan atasnya. Akan tetapi pertanyaannya ialah kapan waktunya membaca materi perkuliahan dan menyerapnya secara baik sementara seseorang masih harus berjuang keluar dari persoalan bahasa, terutama ketika berhadapan langsung dengan teks-teks ilmiah dalam bahasa asing. Kapan saatnya membaca buku-buku yang diminta oleh professor, apalagi buku-buku tersebut belum tentu tersedia di perpustakaan kampus (apalagi di biara), malahan kadang-kadang harus ke perpustakaan lain untuk meminjam dan membacanya. Tentu saja setiap professor menginginkan agar para mahasiswanya membaca suluruh buku utama yang dirujuk dalam perkuliahannya. Hal ini benar-benar menyita energi, pikiran. Kadang-kadang saya terpaksa menggunakan waktu selama menumpangi bus atau metro (baik waktu berangkat maupun waktu pulang kuliah) dengan membaca buku.

Inilah ritme hidup studiku selama dua tahun berada di Roma (2016-2018). Rasa lelah-letih, beban pikiran tentu sudah menjadi sebuah bagian integral dari hidup seorang mahasiswa. Itu bukan hal yang baru bahwa untuk mencapai puncak sukacita, ‘jalan salib-penderitaan’ adalah jalannya. Saya betul-betul mengalami bahwa semuanya itu menguras otak dan energi. Perjuangan untuk sampai pada titik akhir memang selalu tidak mudah. Kita semua pasti pernah mengalami hal-hal seperti ini bagaimana supaya lulus, apa yang kita namakan dengan otak, hati dan pikiran harus diarahkan sedemikan rupa sehingga sasaran studi itu bisa tercapai. Keberhasilan itu tidak pernah datang dari hal-hal santai dan menunda - nunda waktu, akan tetapi sesungguhnya berangkat dari proses kerja keras dan kemauan plus antusiasme besar untuk mendalaminya. Meskipun demikian, tujuan dari sebuah proses belajar di sekolah bukan mengejar nilai A atau menghindari nilai B, C dan D apalagi E semata-mata, melainkan demi sebuah hidup (non scholae sed vitae discimus). Bagi saya, belajar di sekolah atau kampus bukan sekedar mengejar nilai- nilai bagus di atas kertas putih, melainkan belajar untuk menganyam identitas dan jati diri sebagai seorang yang memiliki integritas diri. Nilai di atas kertas itu bisa jadi hanyalah sebuah formalitas akademik yang dituntut oleh sebuah lembaga pendidikan. Nilai-nilai yang diraih belum tentu menunjukkan kualitas diri seseorang, bisa jadi itu menunjukkan kapasitas intelektual yang kadang-kadang amat bergantung pada situasi dan kondisi seseorang di saat itu, bisa juga merupakan bawaan, sesuatu yang inherent dalam dirinya. Meskipun demikian, jikalau seseorang belajar secara baik, memiliki managemen belajar yang tepat, pasti dia akan berhasil walaupun kemampuan akademiknya pas-pasan.

Puji Tuhan dan terima kasih untuk dukungan para konfraterku, saya bisa melewati dan menyelesaikan studiku dengan baik. Hal terakhir yang sangat menyita atensiku ialah “bagaimana dalam tempo yang singkat” (satu tahun) saya bisa menulis tesis. Jadi, tidak hanya sekedar menulis tesis dan selesai, tetapi soal menulis dengan baik. Itu tidak gampang karena ada banyak faktor, hal yang bisa saja menghambatnya, entah dari pihak dosen, maupun dari diri sendiri. Mungkin saya melihat kembali lagi soal “managemen” diri apakah memang sudah ditata secara baik atau belum, sebab itu sangat menentukan hasilnya. Kesuksesan itu kadang-kadang harus keluar dari tempat duduk (kursi), artinya mau setia duduk lama-lama di balik meja belajar. Saya merasa begitu lelah sejak memulai mengajukan proposal tesis (Oktober tahun 2017), sebab untuk mengajukan proposal pun harus memenuhi beberapa persyaratan, misalnya sumber atau referensi yang dipakai minimal 50 buku untuk sebuah penelitian “licenciate”. Puji Tuhan kalau tema yang dipilih diterima-disetujui oleh dewan sekolah / kampus. Setelah lulus seleksi, tema tesis bisa mulai dikerjakan. Untuk tahun ini, dari sejumah mahasiswa yang ada di kelasku (18 orang), hanya ada dua orang yang berhasil menyelesaikan tesis mereka; seorang imam projo India dari diosesan yang digembalakan oleh Mgr. Yosep Raja Rao, SMM dan saya sendiri.

Sebetulnya sejak awal saya memilih tema tentang Spiritualitas Santo Montfort karena saya ingin mengembangkan tesis S 2 di STFT Malang, hanya saja – sayang seribu sayang – pihak Kampus telah memutuskan bahwa mahasiswa di Marianum tidak boleh menulis lagi tema seputar Spiritualias St. Montfort, sebab menurut mereka sudah ada banyak buku dan tulisan tentang spiritualitas Montfort. Bagi mereka tidak ada sesuatu yang baru, yang lebih dan menarik dari St. Montfort. Memang Bapa Pendiri Tarekat kami masuk dalam kategori teolog klasik – namun punya kontribusi yang sangat besar dalam teologi spiritual dalam sebuah periode teologi (epoca moderna) bersama dengan St. Alfonsus Maria de Liguori. Keduanya bahkan disebut-sebut sebagai “i grandi maestri spirituali” (Maestro-nya di bidang spiritualitas marial) pada periode tersebut, tetapi sebetulnya masih sangat relevan dengan konteks hidup kristiani saat ini. Penolakan dari pihak Marianum atas tema yang saya usul itu, sebetulnya pada titik lain mengingatkan saya akan pengalaman beberapa tahun silam di STFT Malang yang mulai menaruh rasa kurang respek atas tesis atau skripsi tentang spiritualitas Santo Montfort. Saya tidak tahu sekarang, mungkin masih berlaku.

Dari pengalaman ditolak mentah-mentah atas tema spiritualitas marialnya St. Montfort, saya didorong untuk memulai memutar pikiran, mencari tema baru. Saya memilih Devosi Marial dalam tradisi “Semana Santa” di Larantuka dengan judul: “Semana Santa” and Devotion to “Tuan Ma” [Mary, Mater Dolorosa]: An Inheritance of Faith in the Work of Evangelization of Dominican Missionaries in Larantuka, Flores-Indonesia. Hanya saja saya mengalami kesulitan dengan sumber-sumber buku yang harus dipakai. Puji syukur, belakangan kemudian, perlahan-lahan saya memperoleh satu persatu referensi yang saya cari termasuk dalam bahasa Portugis. Berkenaan dengan itu, saya berkomunikasi dengan Pater Provinsial saat itu agar menulis tema ini dan kalau bisa saya belajar bahasa Portugis di sela-sela kesibukan kuliah di kampus. Komunikasi ini cukup singkat namun berjalan dengan baik. Selanjutnya saya meminta pimpinan komunitasku untuk membantu saya mencari sekolah bahasa Portugis. Kursus ini berjalan dengan baik selama dua bulan (November-Desember) setiap sore hari (dua kali seminggu). Saya mengikuti kursus ini dalam rangka untuk memahami teks-teks portugis yang berbicara tentang sejarah misi Solor dan Larantuka sejak 1556 dan tentu itu berkaitan dengan tradisi “Semana Santa” di Larantuka, sebagai sebuah warisan iman para misionaris Dominikan asal Portugis. Puji Tuhan kursus ini cukup membantu saya dalam proses pengerjaan tesis dan hal itu membuahkan hasil yang sangat menggembirakan. Saya merasa perjuangan jatuh-bangun selama ini (khususnya dalam waktu yang singkat) tentu juga berkat doa dan support dari para konfrater – tesis itu pun berhasil dipertahankan di hadapan para penguji dalam sebuah “difesa” atau sidang terbuka. Selepas ujian tesis dua tahun yang lalu (20 Juni 2018) saya merasa sangat “plong”, meski masih ada ujian akhir satu mata kuliah lagi pada tanggal 21 Juni. Saya senang dan gembira bahwa “cucuran air mata” di awal-awal tahun kuliah dibayar dengan lunas. Saya merasa lega bahwa Tuhan itu baik dan penuh kasih setia, Dia mendengarkan doa-doa orang yang berharap dan percaya pada pertolonganNya (bdk. I Taw 16:34; Ezra 3:11; Mzm 145:8).

Saya juga merasa senang bahwa usaha dan perjuanganku selama dua tahun di Roma tidak sia-sia. Saya merasa bersyukur memiliki komunitas Montfortan yang dengan caranya tertentu ikut mendukung siapa saja yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan pembinaan lanjutan. Saya bersyukur pula bahwa para Pater Provinsial dan dewannya yang lama maupun yang baru, para konfrater di Indonesia dan luar negeri pun dengan caranya masing-masing ikut mendukung kami dalam menyelesaikan perutusan di Roma. Secara khusus saya juga mengucapkan terima kasih kepada Komunitas Generalat Roma dan Komunitas Student, Via Romagnia 44, rumah di mana RP. Rafael, SMM dan saya, pernah hidup dan tinggal selama dua tahun – tiga tahun. Saya melihat juga bahwa untuk sampai pada tahap akhir ini pun didukung oleh atmosfer komunitas yang sangat kondusif. Secara akademik, memang perutusan studi ini sudah selesai, tetapi bagaimana pun juga studi yang sesungguhnya belum selesai karena studi yang satu ini selalu dalam sebuah perjalanan (peziarahan). Hal itu sesungguhnya ada dalam realita pelayanan, berinkarnasi dalam pengalaman nyata, dan pasti harus teraplikasi dalam penghayatan hidup sehari-hari. Tantangan itu ada di mana-mana baik dalam hidup berkomunitas, dalam karya pelayanan maupun dalam dunia studi akademik di bangku-bangku perkuliahan. Itu semua merupakan sebuah perutusan. Perutusan tersebut bagaimana pun juga perlu dijalani dengan sukacita – meski rasa sakit, letih-lesu kadang lebih banyak dari rasa senang-gembira. Apapun namanya perutusan itu, pasti memerlukan sejumlah metode belajar salah satunya ialah belajar setia dalam perutusan. Itulah seni dalam menganyam diri dalam sebuah perutusan, sebab buah dari suatu perutusan harus bisa dirasakan, bisa dialami dalam praksis hidup nyata. Secara bersama-sama, kita semua bisa mewujudkannya, oleh karena itu perlu sebuah harmoni, kerja sama yang baik bak sebuah orchestra yang melahirkan sebuah simfoni kehidupan yang indah.

Demikianlah secuil pengalaman ‘suka-duka’ yang saya alami dalam menjalani perutusan studi di Roma. Semoga pengalaman yang kecil ini dapat berguna dan bisa menginspirasi. Pengalaman Anda sekalian apapun bentuknya, bagi saya tentu jauh lebih menarik, jauh lebih kaya bila dibandingkan dengan sebuah pengalaman seorang yang baru saja belajar “merangkak” agar bisa berdiri tegak dan berjalan dengan lebih baik di masa-masa mendatang dalam tugas dan perutusan yang Tuhan berikan.

“Allah menginginkannya, Dia bisa dan Dia melaksanakannya” (Dio la vuole, potuto e la fatto).
×
Berita Terbaru Update