-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tak Perlu “Me-religiuskan” Covi-19 dan “Mempolitisasi” Babi

Rabu, 04 Maret 2020 | 23:16 WIB Last Updated 2020-03-04T16:15:59Z
Tak Perlu “Me-religiuskan” Covi-19 dan “Mempolitisasi” Babi
Tak Perlu “Me-religiuskan” Covi-19 dan “Mempolitisasi” Babi

Ketika pemerintah Arab Saudi melarang jemaah umrah dari Indonesia terhitung sejak tanggal 27 Februari 2020 (Liputan 6; 27 Februari 2020), apakah pemerintah Arab Saudi berpendapat bahwa jemaah umrah dari Indonesia mengkonsumsi daging babi?

Tulisan sekaligus pertanyaan ini terkait pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menilai sebaran Covid-19 atau virus corona merupakan teguran dari Allah. Hal itu lantaran masih banyak manusia di wilayah terdampak corona, termasuk Jakarta, masih saja memakan sesuatu yang diharamkan Islam, seperti babi (Tagar.Id; 3 Maret 2020).

"Kalau dari sisi agama kita mengatakan teguran, karena tidak boleh orang itu makan yang haram. Makanan yang dilarang agama itu akan menimbulkan penyakit seperti darah manusia, babi, binatang masih hidup," kata Wakil Ketua Umum MUI Muhyiddin Junaidi kepada Tagar di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Maret 2020.

Membaca pernyataan Wakil Ketua MUI ini, apakah kemudian alasan larangan jemaah umrah dari Indonesia oleh pemerintah Arab Saudi karena alasan para jemaah umrah asal Indonesia “maaf” mengkonsumsi daging babi? Jika karena alasan makan daging babi, kenapa sejak Indonesia berdiri tidak pernah terinfeksi corona virus? Bahkan jika dikaitkan dengan peristiwa hari ini maka Indonesia menjadi negara peringkat pertama terinfeksi corona virus.

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal corona virus dan juga sakit penyakit yang kita derita sebagai manusia karena pada akhirnya kita dan juga saya justru menghakimi Tuhan sebagai “pencipta” penyakit. Dan juga saya sadar diri bahwa itu bukan bidang dan profesi saya. Hanya para ahli medis dan dokter yang memiliki kewenangan untuk menganalisa dan menjelaskannya.

Saya hanya mengajak kita semua untuk sadar diri dan menyadari profesi kita masing-masing. Sebagai imam, ustadz tugas kita adalah mengajar dan mewartakan Tuhan dan juga mengajarkan moral yang baik kepada umat tanpa pernah memprofanisasi peran dan kemahakuasaan serta kebaikan Tuhan. Demikian juga sebagai anggota atau ketua atau wakil ketua MUI. Yang berhubungan dengan masalah sakit penyakit adalah kealihan para medis dan bukan kealihan kalian.

Covi-19 tidak ada hubungannya dengan soal konsumsi daging babi atau daging kambing bahkan tidak ada kaitan dengan ajaran agama apapun. Tugas kita terhadap covi-19 sebagai pemuka umat adalah mengajak umat kita masing-masing untuk waspada dan memperkuat iman dengan doa. Bukan menghubungkannya dengan soal konsumsi babi menurut ajaran sepihak.

Justru pernyataan MUI di atas bagai saya sebuah politisasi babi. Sengaja babi dikambinghitamkan untuk menggerakan massa sekutu mereka memaksa pemerintah melarang pemeliharaan dan konsumsi babi.

Bahkan dengan mengamini pernyataan UAS bahwa corona adalah tentara Allah, adalah sebuah penyesatan. Allah menegur umat-Nya tidak dengan cara membuat umat-Nya menderita tetapi dengan tetap memperlihatkan kebaikan dan kemahakuasaan-Nya termasuk melalui nasehat bijak sesama dan bukan dengan menakuti orang lain melalui tafsiran sesat atas ajaran agama sendiri.

Jangan mencari kambing hitam dengan mengkambingkan babi tetapi sadarilah akan profesi dan tugas kita masing-masing. Masalah covi-19 adalah kealihan para medis dan bukan kealihan kita yang mengurusi agama. Salam waras.

Manila: 04 Maret 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update