-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Telpon untuk Pak Saksi Perkawinan: "Pak Kan Saksi, Tolong Anak Saya!"

Senin, 30 Maret 2020 | 13:08 WIB Last Updated 2020-04-01T09:17:09Z
Telpon untuk Pak Saksi Perkawinan: "Pak Kan Saksi, Tolong Anak Saya!"
Jon Kadis

Oleh: Jon Kadis

Beberapa kali saya dan istri menjadi saksi perkawinan Katolik. Kami ditatar sebelumnya oleh pastor, bahwa tugas rohani para saksi tidak sekedar menyaksikan pasangan mengucap janji setia, tapi terus mendoakan mereka bahkan memberi advice ketika 'perahu kebersamaan mereka goyah". Suatu ketika, malam hari, saya mendapat telpon dadakan dari seseorang tak dikenal. Saya angkat, eh, dia ternyata ibu kandung dari wanita (istri) pasangan di mana saya menjadi saksi perkawinannya. Dari tempat yang jauh, di luar propinsi. Setelah basa basi perkenalan, lalu terjadilah percakapan, nada di seberang seperti berada dalam kegelisahan, agak emosional, sedikitnya ada juga menuntut dan menghakimi saya. Saya santai dan tenang-tenang saja.

"Eh pa & bu.. anda 'kan saksi perkawinan anak putri saya. Mereka lagi bertengkar hebat, mau cerai, mana tanggungjawabmu?"

"Bapaaak... ibuuu.... menjadi saksi perkawinan /pernikahan itu adalah saksi atas JANJI perkawinan cinta, saksi janji untuk membahagiakan satu sama lain, saksi janji bahwa mereka berdua akan berhubungan sah, saksi untuk janji hidup berdua. Saksi pada Janji, bukan saksi saat mereka melakukan interaksi berdua di rumahnya, bukan saksi pada perkara mereka berdua ketika bertengkar"

"Lho... tapi... mereka 'kan sudah punya anak dari hubungan suami istri mereka berdua. Kasihan.. ya ada tanggungjawab saksi-lah. Tangani dong pak!"

"Bapaak.. ibuuu.... ketorang itu saksi pada saat JANJI..... pada saat JANJI... janji mereka berdua untuk mengasihi satu sama lain, saksi janji akan mengasihi dan mengurus anak. Saya dan istri bukan saksi saat kasus sebab musabab pertengkaran dan perceraian  mereka berdua, bukan saksi saat mereka menerima rezeki, apalagi bukan hakim untuk mengurus perkara mereka berdua. Paham?"

"Lalu seperti apa tanggungjawab bapak/ibu saksi untuk pasangan yang telah menjalani hidup perkawinan?"

"Oo... kami tetap memuji dan mengagungkan Allah yang telah mendengar janji perkawinan mereka berdua dulu, mengagungkan restu yang telah dibuat pejabat Allah itu di dunia. Bahwa mereka tidak memelihara janji dan tidak menghormati kami sebagai saksi, itu urusan mereka dengan Allah. Allah itu saksi paling sempurna. Allah tidak pernah menghukum, Dia Maha Cinta".

"Ah... pusing aku!"
"Pusing karena paham atau karena tidak paham?"
"Ya  ... keduanya! Lebih cenderung karena saya sudah paham!"

"Nah... itu dia! Menuju paham itu perlu pengorbanan ego. Orang zaman Romawi dulu bilang "ad astra per aspera", menuju bintang terang itu perlu pengorbanan diri. Menuju kerukunan hidup bahagia itu bukan dengan menjadikan suami atau istri korban. Jalan menuju puncak itu perlu pengorbanan bahkan menderita, tapi di balik derita itu ada harapan pasti. Orang pada zaman Romawi bilang "via dolorosa = jalan derita". Anak ibu perlu menjadi 'mater dolorosa = ibu derita". Derita di sini maksudnya situasi saat pengikisan ego kesombongan, ego keangkuhan?"

* coretan sambil seruput kopi pada masa wabah virus corona
×
Berita Terbaru Update