-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Teologi Proyek dan Covid-19

Jumat, 27 Maret 2020 | 19:54 WIB Last Updated 2020-03-27T12:54:48Z
Teologi Proyek dan Covid-19
Pater Doddy Sasi, CMF (Foto istimewah)

Oleh: Pater Doddy Sasi, CMF

Dulu ketika masih kuliah di Fakultas Teologi Wedabhakti (Selanjutnya: FTW) Kentungan, Yogyakarta, ada sebuah pendekatan teologi yang sangat khas FTW, yang biasanya disebut teologi proyek. Teologi proyek ini menjadi concern utama dan nilai jualnya FTW. Saya secara pribadi terlibat dalam dua dinamika perkuliahan teologi proyek ini (Teologi Sosial dan Teologi Harapan). Informasi seadanya tentang teologi proyek ini. Pertama, rasa saya, pokok utama teologi proyek adalah mengalami teologi bukan di kelas atau ruang kuliah tapi dalam kehidupan nyata. Teologi proyek sebenarnya ingin melatih kita untuk berteologi dengan mementingkan locus teologicus kita Dengan masuk dan mengalami realitas apa adanya dari para buruh (Teologi Sosial: di pabrik-pabrik) dan mereka yang sakit-menderita (Teologi Harapan: di Rumah Sakit), semua pengandaian teologi yang selama ini didapat ternyata harus dibuang sementara jauh-jauh. 

Teologi proyek merupakan upaya untuk melahirkan teologi dari pengalaman dan kehidupan nyata. Karena itu.bila ingin cermat dilihat ternyata teologi proyek berbeda dengan teologi kontekstual yang ingin mengkontekskan teologi pada situasi setempat atau mencari relevansi teologi pada situasi setempat. Teologi proyek juga berbeda dengan teologi tradisional, yang biasanya berangkat dari suatu konsep teologi yang jelas dan merefleksikan situasi yang dihadapinya berdasarkan konsep yang sudah dimiliki. Tak jarang bahwa para teolog atau teologi kita kurang bertaring dan tidak menyentuh realitas karena kita masih terjebak dalam konsep teologis seperti ini. Teologi proyek sebenarnya sudah melatih kita untuk berteologi dengan sesungghunya yakni membangun dan membentuk gagasan-gagasan teologis kita dengan berangkat dari bawah, dari pengalaman dan kehidupan nyata. Tapi rupanya, kekhasan teologi proyek ini masih kalah dengan ide brilian yang idealistis dari teologi Barat.Kita masih terbius dan sulit keluar dari dogmatisme teologi Barat. Kita masih dininabobokan dengan ide-ide teologi Barat sehingga usaha untuk berani berpikir dan membangun teologi yang independen dengan dasar pada konteks kita masih sangat lemah dan bahkan tidak bergema sama sekali.

Berbicara soal teologi proyek menjadi tidaklah lengkap bila tidak disertakan dengan pengalaman  dan contoh yang konkret. Ada kisah menarik dari seorang teman pendahulu yang pernah menjalani proyek teologi harapan disebuah Rumah Sakit Jiwa. Bisa dibayangkan apa yang terjadi disana. Dialog tidak jalan. Berusaha mendengarkan cerita tapi cerita mereka “ngalor-ngidul.” Ada yang tertawa tanpa alasan, ada  yang menangis tanpa sebab dan ada yang meronta-ronta tanpa berhenti. Pernah suatu ketika mereka bermain sepakbola. Terjadi pelanggaran yang dihukum dengan penalti. Kelihatannya kiper tahu apa yang harus ia lakukan. Ia membungkukkan badan, mata penuh waspada, siap membaca bola akan ditendang ke arah mana. Ia amat serius menanti kedatangan bola. Dan bola penalti pun ditendang. Apa yang terjadi? Sang kiper hanya diam saja, tak bereaksi ke kanan atau ke kiri. Bola dibiarkannya lewat begitu saja. Lucu, semua tertawa. Ternyata semua komunikasi dan koordinasi yang normal sama sekali tidak berjalan. Pertanyaan menarik disini: bagaimana dalam situasi ini saya menemukan pengalaman harapan, apalagi pengalaman yang khas Kristiani, yang bisa nantinya saya refleksikan secara teologis? Semua ide dan gagasan spekulatif tentang iman dan harapan yang selama ini saya peroleh di bangku perkuliahan selama ini runtuh dengan sendirinya ketika berhadapan dengan realitas konkret seperti ini. Tapi yang menarik bahwa ternyata yang harus saya refleksikan bukanlah situasi tanpa harapan itu melainkan pengalaman iman saya dalam situasi tanpa harapan itulah yang harus geluti dalam proses refleksi. Refleksi bukan datang dari bahan-bahan atau kumpulan diktat-diktat teologi melainkan datang dari pengalaman konkret.

Kita ke Covid-19. Menjalani masa “quarantena” (quarantine/karantina) sudah hampir sebulan akibat wabah Covid-19 yang dengan ganas dan frontalnya menyerang pertahanan “Catenaccio” orang-orang Italia, bagi saya seperti sebuah proyek teologi. Covid-19 ini seperti menjadi “locus teologicus” bagi saya dalam sebulan terakhir ini. Dulu kalau di rumah sakit atau pabrik-pabrik hanya sepuluh (10) hari, kini saya harus mengalaminya hampir sebulan dan bahkan tidak tahu akan kapan berakhirnya. Tiap hari lonceng Gereja dan bunyi sirene ambulance kedengaran bersahut-sahutan. Ribuan orang terjangkit tiap harinya. Ratusan orang meninggal dalam rentangan waktu 24 jam. Roma sepi. Vatikan sunyi. Jalanan kosong melompong. Italia berduka dan terluka. 

Namun ada yang satu-dua-tiga hal menarik untuk direfleksikan dari situasi Pandemi Covid-19 ini. Salah satunya adalah masifnya pesan berantai yang tak putus-putus. Sr. Nonik, mengirim pesan cara bagaimana mencuci tangan agar bebas dari Covid-19. Bruder Paulus mengirim pesan cara mengolah pernapasan. Frater Bernadus mengirim artikel yang panjangnya hampir 100 halaman. Romo Koko mengirim sebuah analisa bahwa wabah Covid-19 ini sudah di “desain” dengan rapi.  Apakah ini salah? Tidak salah. Ada pula untaian doa-doa muncul bak jamur dimusim hujan. Pesan yang sama kadang pun dikirim ulang-ulang oleh orang yang berbeda lagi. Handphone saya sempat “hang/error” sampai tidak bisa dihidupkan beberapa kali.  Maklum tipe jadul. Kita tertawa dulu biar tidak panik. Dan tentu masih banyak varian dari pesan-pesan berantai yang kita dapatkan secara pribadi. Kita rehat. Menarik napas. Dan  senyum-senyum sebentar sambil menyeruput kopi “cappucino”. 

Kita lanjut. Saya cuma mau bilang bahwa dengan Pandemi Covid-19, dikalangan kita orang-orang terpanggil (Suster, Frater, Bruder, Imam), kadang kita muncul dan menambah panjang daftar “pengamat covid-19”. Apakah salah? Tentu tidak salah. Itu juga tugas kita untuk saling mengingatkan. Hanya saja kita tidak bermain pada wilayah kita.  Saya teringat ketika menjalani praktek teologi harapan di salah satu Rumah Sakit di Solo. Kehadiran saya di sana bukan untuk “mengganti” tugas seorang dokter. Saya hadir di sana bukan untuk “mengambil alih” tugas para perawat. Tapi untuk menemani para pasien yang kadang sudah ada dalam situasi ambang batas harapan hidup mereka. Dan yang menarik bahwa yang harus saya refleksikan bukanlah situasi tanpa harapan itu melainkan pengalaman iman saya dalam situasi tanpa harapan itulah yang harus saya geluti dalam proses refleksi. 

Sama halnya berhadapan dengan Covid-19 ini. Rasa saya, kita harus memberi porsi waktu dan tenaga kita yang lebih untuk membantu umat-umat kita untuk masuk dalam sebuah proses refleksi iman. Bagaimana pengalaman iman mereka dan iman kita berhadapan dengan situasi global pandemi covid-19 ini. Karena itu, dalam beberapa diskusi, saya secara pribadi selalu menghindari analisis empiris dan scientific yang di luar basis kompentensi saya.  Beberapa hari lalu, dalam salah satu kotbahnya Paus Fransiskus mengatakan: “Covid-19 ini menyadarkan kita semua sebagai satu komunitas kemanusiaan”. Misi kemanusiaan inilah yang harus diutamakan saat ini. Dan Vatikan  (Paus) memberi contoh yang sangat baik untuk kita wujudkan misi kemanusiaan berhadapan dengan Covid-19 ini: ada ajakan doa Rosario bersama (19 Maret 2020), doa Bapa Kami (25 Maret 2020), doa bersama dan berkat urbi et orbi (27 Maret 2020), adorasi dan kita tentu masih ingat kunjungan Paus ke Gereja San Marcello del Corso dan Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa. Rasa-rasanya, di komunitas rumah atau parokial, kita bisa mengikuti contoh-contoh ini dan saya yakin semua sudah dan sementara melakukannya sembari ditemani dengan beberapa seruan moral dan karya karitatif yang inspiratif dan kreatif. 

@verba volant, scripta manent (kata-kata terbang, tulisan tertinggal)@

Penulis adalah seorang misionaris Claretian, tinggal di Roma. 
×
Berita Terbaru Update