-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Teruntuk Mgr. Siprianus Hormat; Semoga tak Ada Nila Setitik yang Merusak Susu Sebelanga

Minggu, 01 Maret 2020 | 01:33 WIB Last Updated 2020-03-01T02:29:34Z
Teruntuk Mgr. Siprianus Hormat; Semoga tak Ada Nila Setitik yang Merusak Susu Sebelanga
Foto istimewah

Karya kebaikan di bidang rohani itu baru sukses jika bertahan dalam kebaikan hingga hembusan nafas terakir. Spirit karyanya dikenang bahkan diteladani oleh generasi penerus hingga kapanpun, bahasa awamnya, ia tidak mati. Kalimat-kalimat ini adalah bahasa lain dari "bertahan hingga akhir" dan "yang terdepan bisa menjadi yang terbelakang, dan yang terbelakang  bisa menjadi sama atau terdepan" .

Kemarin umat Katolik di kota Labuan Bajo menerima kedatangan Uskup Ruteng dari Jakarta. Dengan sukacita disambut umat mulai dari bandara Komodo hingga mengikuti misa bliau di Gereja. Saya dengar beliau merayakan misa di salah satu kapel yang terletak di Jl. Mgr. Wilhelmus Van Bekum SVD. Nama jalan itu diambil dari nama uskup Manggarai pertama sejak bertugas tahun 1960-an yang kini almarhum, kuburnya terletak di samping Katedral kota dingin Ruteng. Hingga hari ini orang masih memposting kesan-kesan mereka di medsos baik secara pribadi maupun bergroup. Umumnya oihh..baik semuanya, kesan ramah, rendah hati, tutur bahasa yang rapih, mudah dicerna. 

Kita tengok dulu sebelumnya. Melihat sepintas figur-fitur Uskup Ruteng (Manggarai) sejak awal sejak 1960-an, di mana pertama Mgr. Wilhelmus Van Bekkum SVD, asal Eropa, tamatan S1 sekolah tinggi filsafat dan teologi Katolik (STFK) di Belanda (almarhum), selanjutnya putra asli Manggarai tamatan S2 STFK Ledalero Maumere dan tamatan S3 (Doktor) di Roma,  kedua Mgr. Vitalis Djebarus SVD, yang kemudian pindah ke Bali (almarhum), ketiga Mgr. Eduardus Sangsun SVD (almarhum), keempat Mgr. Hubertus Leteng PR, pindah sebagai pastor biasa di Keuskupan Bandung, masih hidup, kelima Mgr. Siprianus Hormat PR, mulai berkarya tahun 2020, Gereja Katolik (GK) Manggarai tetap exist bahkan makin maju dan mandiri. Tak bisa disangkal bahwa itu karena peran uskup dan seluruh pembantunya dalam klerus beserta umatnya.

Kita tahu bahwa kaul pelayanan sebagai uskup itu adalah seumur hidup. Dan di GK, uskup itu mutlak dibutuhkan sebagai gembala umat dalam kehidupan menggereja di satu wilayah dunia. Karya keuskupan dan Gereja umumnya bukan hanya untuk kelompoknya sendiri, tapi menebarkan "kasih" kepada semua manusia di dunia.

Tapi ia juga manusia biasa. Setiap perayaan misa, nama uskup harus disebut untuk didoakan oleh seluruh umat. Itu bukan berarti beliau terima beres, dia tidak berdoa atau berdoa setengah-setengah. Oh tidak! doanya dia dan waktu doa pribadinya harus lebih daripada umat, sehingga ia bisa menjadi teladan umat beriman. Tidak saja dalam hal berdoa, tapi juga dalam kata dan perbuatan. Pertanyaannya, apakah itu berat baginya sebagai manusia biasa? Sekilas berat jika dilihat dari mata awam, tapi sebetulnya ringan, karena  secara rohani sesungguhnya Yesus-lah yang melakukan pelayanan itu melalui dirinya. Dengan kata lain, uskup adalah alter  Kristus, Kristus yang tampil dalam diri seorang uskup. Tapi sesungguhnya juga alter Kristus itu tidak mutlak melekat pada uskup, karena semua imam katolik begitu, juga umat biasa seluruhnya harus mencapai klimaks kehidupan rohani, itu karena ada pesan suci "bukan aku lagi yang hidup, tapi Kristus hidup dalam aku".

Nila Setitik dan Banyak Titik Nila Bikin Rusak Susu Sebelanga

Memang manusia itu berdosa, tapi tidak lalu dengan sebagai alter Kristus tadi luput dari dosa. Yang dilakukan tiap saat adalah 'berusaha hidup dalam kekudusan dan harus mengalami kebahagiaan jiwa karenanya". Dan salah satu dosa dari tujuh daftar dosa pokok, ialah kemalasan. Jika situasi demikian berkepanjangan, maka ada kemungkinan terjadi kehampaan rohani, yang berakibat pada kejatuhan. Oleh karena itu, maka yang diharapkan adalah tidak bakal ada nila setitik yang merusak susu sebelanga.

Dalam perjalanan Dioses Ruteng, nila setitik itu bukan tidak pernah netes merusak susu sebelanga, bukan tidak pernah menodai seorang uskup dan pribadi manusia monsigneurnya, dan juga bukan tidak pernah menodai wilayah keuskupan sebagai susu sebelanga. Saya tidak menyebutkan detail nilanya, karena kini saya tidak punya file untuk itu. Bahkan secara rohani, seluruh warga Dioses ini sudah melupakannya, karena file itu beserta susu sebelanga yang dinodai setitik nila sudah diserahkan kepada Tuhan Yesus pada waktu itu dalam doa pengampunan. Tuhan saja sudah melupakannya, karena itu tidak pantaslah kita membacanya kembali. Tapi ingat, bahwa itu pernah terjadi!

Kita berharap agar nila setitik apalagi banyak titik tidak ada tempatnya untuk jatuh di bejana Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, mulai kini dan kedepannya hingga ia selesai berkarya di wilayah ini.

Saya yang menulis ini bukan siapa-siapa, bukan tamatan S1 STFK, tapi yang pasti saya sealmamater Seminari Menengah St. Pius XII di Kisol Manggarai (sekarang Kab. Manggarai Timur), bukan sebagai pengamat apalagi kritikus uskup, tapi sebagai umat biasa yang biasa bergelut dalam belanga susu yang dinodai banyak titik nila. Sebagaimana saya pernah tulis pertama saat pengumunan bahwa Paus Fransiskus di Vatikan memilih Mgr. Siprianus Hormat sebagai Uskup Ruteng tahun lalu, saat banyak orang ramai memuji kepribadiannya yg pantas dan layak jadi uskup, saya justru tidak ikut ramai-ramai memujinya, karena saya baru memujinya setelah beliau meninggal, setelah ia menyelesaikan tugasnya sebagai uskup di dunia ini. Selain itu saya juga menulis, bahwa siapapun pengikut Kristus, tidak ada kasta tinggi dan rendah, semua setara di hadapannya, dan perbedaan kita terletak pada fungsi masing-fungsi yang dijalani. Perbedaan fungsi itu harus dihormati sebagai bagian dari perintah utama Tuhan, "kasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Selamat bertugas ya Bapak Uskup Mgr. Siprianus Hormat.

Oleh: Jon Kadis
×
Berita Terbaru Update