-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

URBI ET ORBI

Sabtu, 28 Maret 2020 | 07:51 WIB Last Updated 2020-03-28T00:51:48Z
URBI ET ORBI
Salib istimewah

Hari-hari kita terasa seperti malam tak berbintang. Gelap pekat menggelayut, mengitari halaman-halaman, menutupi jalan-jalan dan menyelubungi kota-kota.

Hari-hari kita terasa seperti malam tak bertuan. Gelap mengancam hidup, menyayat hati yang sepi, menghadirkan kehampaan yang memilukan dan kematian yang menyedihkan.

Hari-hari kita terasa seperti malam yang angkuh. Gelap memisahkan kita, tak bertemu pandang, kadang saling mencurigai. Kita semua takut, tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Perahu kita tengah terombang-ambing oleh terjangan badai yang tak terduga. Kita semua berada dalam perahu yang sama. Kita semua cemas dan berteriak, "Kita binasa!" Lalu kita bertanya, "Sampai kapan malam bertahan?"

Mengapa kita takut? Mengapa kita cemas?

Badai masih berkecamuk. Kita tidak bisa berpikir untuk menyelamatkan diri kita sendiri-sendiri. Tidak akan ada yang selamat. Akan lebih banyak yang binasa.

Yang kita pikirkan adalah keselamatan bersama. Bersama, kita bisa melalui badai yang dahsyat ini. Kita bisa menahan dan menjaga keseimbangan perahu ini dan mendayung bersama.

Sekarang waktunya, kita memilih yang terbaik untuk keselamatan perahu kita, kota dan dunia kita, Urbi et Orbi. Sekarang kita memilih untuk tenang dan memiliki harapan bahwa malam pasti berlalu.

*Inspirasi dari Renungan Bapa Suci dalam Doa Bersama dan Berkat Urbi et Orbi, Vatikan (27/3).*

Oleh: P. Joseph Pati Mudaj, MSF
×
Berita Terbaru Update