-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Virus Corona dan Status Tahun Ini

Sabtu, 21 Maret 2020 | 07:02 WIB Last Updated 2020-03-21T00:02:55Z
Virus Corona dan Status Tahun Ini
Eto Kwuta (Foto istimewah)

Tahun ini, wabah Corona menjadi satu isu global mengalahkan semua model ketakutan yang pernah dirasakan oleh manusia. Saya menjadi salah satu dari sekian banyak yang merasa takut, bahkan panik. Alasannya, virus yang datang dari Wuhan (China) ini tidak biasa. Kenyataannya, virus ini sangat tidak ramah, penuh dengan amarah, dan datang dari berbagai macam arah. Ia seperti sosok yang hidup dan mencari mangsa dengan alur yang rapi, memilih locus tanpa surat izin untuk singgah, dan tidak pilih kasih.

Jika kamu pejabat, saya penjahat, mereka penjilat, dan mungkin dia pesulap hebat, atau tukang sihir dengan metode hilang dan muncul pakai mantra-mantra. Virus ini tidak kenal semua model status atau jabatan. Virus tetaplah virus yang memiliki kekuatan menyerang dengan pertahanan tidak pakai senjata api, tank baja, pistol, pisau, jurus-jurus bela diri, dan lainnya. Ini berarti, saya berada dalam barisan orang yang takut. Dalam hal ini, bukan takut mati, tetapi takut menjadi salah satu senjata untuk membunuh istri, anak, orang tua, sahabat, dan lain-lain.

Entahlah, ada yang merasa biasa, santai, jalan-jalan ke pantai, mandi sekolam bersama, cebur diri di kolam Cibubur, atau lari pagi tanpa masker, karena tidak takut kehilangan. Mereka menjadi pahlawan tanpa alat-alat perang, tanpa obat-obatan yang cukup untuk menyembuhkan pasien-pasien.

Lihatlah, negara ini adalah negara berkembang, tidak sehebat China dan Amerika dengan kekuatan infrastruktur maupun suprastruktur yang sangat baik. Jika Amerika memastikan negara ini dalam daftar negara maju, maka standar apa yang dipakai untuk membuat warga negara menjadi tidak panik atau takut. Standarnya sederhana saja, negara bekerja dalam keheningan virus yang mewabah. Artinya, diam. Jangan banyak omong. Tutup mulut dan masuk kamar. Jika memungkinkan, berdoa adalah satu pilihan yang selalu laris dalam situasi gawat darurat ini.

Cara lain, virus ini dilawan dengan membuat status di dinding facebook yang tidak memengaruhi massa dengan rasa panik, tetapi mendorong untuk selalu waspada dan saling mengingatkan bahwa virus ini datang tidak dijemput dengan mobil mewah, pulang pun tidak diantar dengan motor mio kesayangan si tukang ojek. Virus ini begitu jujur dan tidak membohongi kita. Ia polos dan terus membolos ke sudut mana ia pergi dan tinggal atau hinggap untuk sementara.

Antara Tinggal dan Hinggap

Apa benar COVID-19 ini datang untuk tinggal dan menetap di suatu wilayah, ataukah ia hinggap sementara saja, lalu pergi ke daerah atau wilayah lain? Pertanyaan ini mengandung jawaban variatif.

Tentu, saya hendak memberi beberapa poin reflektif berdasarkan pertanyaan ini. Pertama, virus bukan sebuah lelucon. Mengapa? Karena ia bisa tinggal atau menetap dalam jangka waktu yang lama, dan hinggap sementara, setelah itu pergi (pandemi dan epidemi). Tak ada metode tembak dengan kata-kata cinta, tak ada cara klasik memberikan bunga yang cantik, dan metode praktis lainnya. Sebagaimana dalam hubungan asmara, ada yang "broken", lalu pergi menghilang. Atau istilah populer, " Habis manis sepa dibuang." Untuk virus, tak ada cara dan trik sedemikian itu. Jadi, status kita harus jelas.

Status kita adalah waspada dan berjaga-jaga. Lawan dengan cara yang mendamaikan, bukan menyebarkan lagi nuansa virus baru. Barangkali, kita adalah spesies penebar virus paling tua dan mematikan. Itulah manusia. Bukan virusnya, tapi manusianya. Itulah fakta sejarah, selama berpuluh-puluh abad berjalan.

Kedua, virus itu bukan wabah yang menyebarkan rasa malu. Jika Corona terjadi jauh di pelosok kampung, dengan akses kesehatan yang minim, maka kita harus jujur dan bersikap terbuka untuk segera menuju Rumah Sakit. Hal ini penting, karena betapa berharganya mencegah daripada mengobati.

Ketiga, virus berdampak politis, maka lawan. Artinya, jika berbicara dari ide Aristoteles, bahwa politik selalu memiliki sasaran soal kebaikan bersama, maka kondisi saat ini bisa dibilang demikian. Oleh karena itu, satu kata yaitu 'lawan'. Lawan untuk tujuan Bonum Communae (Kebaikan Bersama).

Keempat, status Lockdown (memutus penyebaran virus). Hal pertama ialah kita memulai Lockdown dari diri kita sendiri. Status ini paling mudah. Cukup dengan menjaga kesehatan sambil berkonsultasi dengan pihak kesehatan. Jangan menunggu perintah resmi dari negara, tetapi memulai lebih awal adalah langkah yang tepat. Alasan fundamental poin empat ini, tubuh kita adalah negara itu sendiri. Apalagi, kekuasaan ada di tangan rakyat.

Dengan demikian, virus dan status negara ini pada saat ini harus melihat aspek-aspek di atas. Dan sebagai warga negara yang baik, lakukan usaha memutus rantai lebih awal, yaitu dengan membebaskan diri sendiri rasa malu dan takut. Jika saya memang takut pada awalnya, beranilah pada bagian tengah, bukan di bagian akhir. Seperti yang sedang saya alami.

Saya sedang menjadi negara untuk berperang melawan kealpaannya dalam kasus ini. Saya bisa memakai adagium Louis XIV, L'État c'est moi" ("Negara adalah saya") untuk mengubah wabah ini jadi susu dan madu. Mungkinkah? *

Oleh: Eto Kwuta
Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, tinggal di Ende, Flores.
×
Berita Terbaru Update