-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Virus Corona Menyerang Saraf Nalar dan Iman

Selasa, 10 Maret 2020 | 17:13 WIB Last Updated 2020-03-10T10:21:02Z
Virus Corona Menyerang Saraf Nalar dan Iman
Rm. Kardiaman Simbolon, OCarm

Sehari sesudah ada pernyataaan resmi dari pemerintah (Istana negara, Senin (2/3/2020) bahwa ada dua orang di Depok postif Corona, warga Jakarta mendadak spot jantung alias panik. Di tambah lagi beredarnya video bagaimana virus corona seakan bisa menular lewat udara bebas, dan berita hoax bahwa Paus Fransiskus terkena virus corona. Tanpa mengonfirmasi kebenaran video dan berita itu, alih-alih justru hanya semakin cemas, takut berlebihan, dan panik tak karuan. Ramai-ramai warga Jakarta menyerbu tempat perbelanjaan. Mereka membeli perbekalan, memborong masker, dan menumpuk keperluan hidup lainnya. Seakan-akan sudah hampir kiamat!

Beredarnya di media sosial lewat tulisan atau video, informasi yang tidak akurat tentang penyebaran virus corona, hoax yang semakin menjamur justru memperparah situasi. Semuanya diambil mentah-mentah tanpa pernah mencari dan menemukan kebenaran yang lebih akurat. Akhirnya, semua itu hanya memaksa banyak orang menghindari untuk menyentuh benda-benda apa saja di tempat umum, yang konon dianggap bisa menularkan virus corona. Hingga akhirnya, ada sebagian kecil ketika berjalan kemana-mana semua tangan dibungkus dengan sarung tangan, wajah ditutup dengan masker, dan berjalan seperti robot tanpa mempedulikan sapaan orang lain.

Mendadak pula Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta mengeluarkan surat berupa himbauan dan anjuran preventif terhadap gejala penyebaran virus corona. Dengan kecemasan yang sudah akut, anjuran itupun diartikan banyak umat sebagai “situasi darurat”, sampai-sampai ada umat yang tidak mau bersalaman waktu di gereja, tidak mengambil air suci di depan pintu gereja, bahkan tidak datang untuk perayaan Ekaristi.

Melihat gejala ketakutan dan kecemasan yang berlebihan itu, persoalannya bukan lagi melulu virus corona (covid-19); melainkan sudah menyangkut akal sehat dan juga iman yang sehat. Fenomena ini sampai membuat kita bertindak hal-hal yang di luar nalar; seperti mengurung diri, pakai masker kemana-mana, tidak mau bersalaman, menganggap orang lain sakit, dan mencurigai semua penyakit adalah dampak dari corona virus.

Menelan informasi beraneka ragam bukan membuat situasi makin tenang, melainkan menjadi semakin panik. Sampai-sampai orang merasa lebih nyaman dan aman jika menutup diri dari orang lain, menumpuk makanan, dan bahkan ingin selamat seorang diri. Bukankah dampak corona ini justru menyerang akal sehat dan akal beriman kita? Mendadak virus inipun menyerang nalar berpikir manusia, sampai kehilangan akal sehatnya dan kehilangan rasa beriman pada Tuhan.

Setiap hari rajin berdoa, mungkin ada yang juga membaca Kitab Suci; bahkan boleh dikatakan aktif dalam pelayanan dan pewartaan, tapi mengapa menghadapi fenomena corona seperti kehilangan daya iman?

Panik berlebihan dan takut yang membelenggu, seakan-akan semuanya bisa diselesaikan hanya dengan upaya manusia belaka. Kecemasan yang berlebihan ini sesungguhnya merupakan dampak terbesar dari corona, ia bahkan melumpuhkan daya beriman seseorang. Sampai-sampai mengabaikan penyerahan pada Tuhan, mengabaikan kepedulian, dan bahkan mengisolasi diri secara berlebihan.

Sebagai orang beriman, mestinya kita ingat akan apa yang disabdakan oleh Yesus: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, … Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? …. Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (bdk. Mat 6:22-27)

Kwatir atau cemas memang merupakan pengalaman yang sangat manusiawi. Tapi, harus diingat bahwa kecemasan yang berlebihan tanpa kita sadari bisa “membunuh” kita lebih awal dari sekedar terinfeksi virus corona. Ia tidak memberi perhatian pada penyakit lain, tidak menaruh kewaspadaan pada aspek lain yang juga sama membahayakannya. Bahkan kita lebih egois dan mengandalkan kemampuan kita sendiri.

Ketakutan yang berlebihan itu melemahkan daya nalar untuk bertindak yang masuk akal, sekaligus juga membunuh rasa solidaritas dan kepedulian kita kepada sesama.

Virus corona memang punya daya tular yang lebih tinggi, namun jika dilihat faktanya angka kematian corona virus tetap saja dua persen, jauh lebih kecil dibandingkan SARS yang pernah sampai 15 persen. Meski demikian kita layak untuk waspada dan preventif. Menjaga kebugaran dan daya tahan tubuh, banyak berdoa merupakan salah satu solusi terbaik menghadapi Covid 19, bukan dengan takut dan cemas yang berlebihan.

Waspada terhadap corona virus bukan hanya karena virus itu bisa membunuh kita, tapi juga karena ia dapat menyerang agar kita tidak berpikir logis, dan sekaligus membunuh iman kita pada Yesus.

Dalam banyak epidemic atau wabah penyakit, kita biasanya semakin beriman, semakin berserah pada Tuhan, semakin solider dan semakin peduli kepada sesama. Tapi mengapa virus corona tampak membuat orang semakin egois, takut dan tidak percaya pada kuasa Tuhan? Inilah juga yang perlu kita waspadai!
“Jangan takut….! Aku menyertai kamu sampai akhir zaman…” Sabda Tuhan.

Rm. Kardiaman Simbolon, OCarm
×
Berita Terbaru Update