-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

VIRUS PEMBUNUH "CORONA" (Mungkin, sekali lagi 'mungkin)

Rabu, 18 Maret 2020 | 20:45 WIB Last Updated 2020-03-18T14:37:39Z
VIRUS PEMBUNUH "CORONA" (Mungkin, sekali lagi 'mungkin)
Jon Kadis

Salam santun, damai dan sejahtera, syallom. Semoga kabar baik semuanya. Ngobrol ngalor ngidul saat ngopi rehat. Apakah kita masih ingat sebuah lagu Ebit G Ade yang populer sejak tahun 1970an dan masih golden song hingga kini? Lirik di bait terakir lagu tersebut sebagai berikut"

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Sejak tahun 2019 hingga 2020 ini dunia heboh karena dilanda pandemic virus corona desease (covid-19), pembunuh non peluru itu, yang hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar canggih di laboratorium high technology. 

Hampir semua negara terlanda, termasuk Indonesia. Kenyamanan berkarya di planet bumi ini terganggu. Hampir semua orang mencari alasan: para politisi mulai menuding negara A atau B. Di dalam negeri di tiap negara, para politisi ramai-ramai menyoroti cara mengatasinya. Yang satu bilang "tenang..tenang, tak perlu panik", yang lain bilang 'gampang, cukup dengan rempah-rempah dan ramuan tradisional yang biasa dikonsumsi para leluhur kita dulu'. 

Para agamawan mulai mengubah rutinitas dan aturan agama. Kocar kacir. Beberapa ayat buku suci ramai didiskusiksn bahkan didebat. Ada lagi yang mengintrospeksi diri. Agamawan mencari penyebab yang berkaitan dengan relasi manusia kepada Tuhan. Berkaitan dengan kalimat terakir ini, saya coba menyajikannya, implisit sebagai introspeksi diri sebenarnya, sebagai berikut:

1. Hidup Beragama

Selama ini kita mengenal Tuhan di dalam persekutuan / Kelompok / golongan, beramai-ramai, berjamaah. Karena berjamaah, hidup di dalam berjamaah, mungkin, sekali lagi 'mungkin', bahwa kedekatan personal dengan Tuhan diabaikan. Keputusan dari hati pribadi diabaikan, ia kabur dan melebur dalam keramaian beragama. Pergi ke rumah ibadat karena kebersamaan dalam jamaah, yang ditakuti bukan Tuhan, tapi pemimpin agama dan sesama anggota agama.

Mungkin, sekali lagi mungkin, bahwa Tuhan mengingatkan kekurangan itu untuk introspeksi diri pribadi demi pribadi. Di pengadilan akir zaman, orang maju sendiri-sendiri di hadapan Tuhan sebagai Hakim yang Maha Agung, tidak secara berjamaah dalam identitas agama.

2. Andalkan Penghayatan Sendiri

Meski berada di dalam agama, tetapi peraturan "cinta" dari agama tidak dihiraukan, tidak berdoa bersama (berjamaah), hanya andalkan semata-mata penghayatan pribadi di rumah dalam relasi seorang pribadi kepada Tuhannya. Tak perlu beramai ke gedung agama, tidak bergantung kepada kebersamaan dalam agama. Mungkin, sekali lagi mungkin, bahwa Tuhan mengingatkan orang per-orang itu agar bersatu dalam agama, karena Tuhan menyampaikan pesan kekinian melalui pemimpin agama dan sesama di dalam pertemuan berkala.

Lagu Ebit Gade membuatkan kita merenung  tentang kehidupan dan relasi dengan Tuhan. Kita juga disadarkan untuk bertanya banyak hal terkait virus mematikan ini. Mengapa semua ini terjadi? Lagu Ebit G Ade itu rupanya tidak sembarang muncul, tapi membahasakan sesuatu yang terjadi masa lalu, kini dan masa yang akan datang. Anda tahu lagunya? Ada baiknya dinyanyikan bersama, saat virus corona bagai singa mengaum-ngaum mau menerkam mangsanya, sbb:

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita 
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Rumput tidak menjawab, ia hanya bergoyang sesuai iringan musik alam. Alasan-alasan tersebut diatas, "mungkin, sekali lagi 'mungkin' ".

Oleh : Jon Kadis, Labuan Bajo, 18 Maret 2020
×
Berita Terbaru Update