-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Yesus, Air Mataku Tak Terbendung Ketika Kuangkat Tubuh Dan Darah-Mu

Minggu, 15 Maret 2020 | 23:29 WIB Last Updated 2020-03-15T16:29:43Z
Yesus, Air Mataku Tak Terbendung Ketika Kuangkat Tubuh Dan Darah-Mu
Pater Tuan Kopong saat merayakan Ekaristi

Yesus, Air Mataku Tak Terbendung Ketika Kuangkat Tubuh Dan Darah-Mu
(Sebuah pengalaman iman ketika merayakan misa sendiri secara live)

Tak terasa saat saya mengangkat patena tempat meletakan Tubuh Kristus dan Piala berisi Darah Kristus pada bagian doksologi seraya membacakan doksologi air mata mengalir membasahi pipiku. Kuingat pengorbanan Kristus yang kini sedang kami alami: saya dan bersama umat saya di paroki tempat yang saya layani.

Kuingat pada semua umatku yang hanya mendengarkan dan melihat kehadiran Yesus melalui live di fb. Kuingat akan pengorbanan mereka yang berkorban untuk kebaikan semua orang. Pada saat doksologi, kumenyadari bahwa saya dan umatku tidak takut, tidak kuatir dan tidak panik. Namun situasi ini justru semakin menguatkan iman kami, mendekatkan kami dengan Kristus secara bathin dan selalu merindukan persatuan dengan-Nya.

Air mata yang mengalir di pipiku demikian juga tangis haru beberapa umat ketika mendengarkan dan menonton misa yang saya persembahkan sendiri secara live dari rumah mereka masing-masing bersama seluruh anggota keluarga mereka adalah sebuah tangis penyesalan atas dosa dan salah kami yang lebih suka menjauhkan diri kami dari Yesus dan bergaul akrab dengan dosa-dosa.

“Padre, semoga tangis kami ini menjadi doa dan kekuatan iman kita semua yang juga meneguhkan dan menguatkan Padre sebagai gembala kami yang selalu menguatkan dan meneguhkan iman kami. Kesempatan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk lebih tekun mendengarkan Sabda Yesus melalui bacaan-bacaan Kitab Suci dan homili Padre”, ungkap beberapa umat yang mengirimkan pesan melalui mesenger ataupun secara langsung yang kebetulan ke kantor paroki.

Tangisku, tangis umatku adalah sebuah pergumulan bathin namun kami tidak kehilangan iman, harapan dan cinta. Kami tidak kehilangan jalan untuk mengungapkan iman kami. Dalam tangisan gundah gulana itu kumaknai peristiwa hari ini sebagai sebuah pengorbanan kecil iman kami untuk keselamatan dan kebaikan semua orang sebagaimana pengorbanan Kristus.

Saya sadar bahwa peristiwa hari ini menjadi sedemikian “menyakitkan dan menyedihkan saya bersama umat saya” namun saya juga kemudian menyadari bahwa sebagaimana saya yang berdosa dan Yesus yang harus menanggung derita dan wafat karena dosa-dosa saya dan menyelamatkan saya, demikian juga situasi hari ini mengetuk pintu hati saya bahwa saya, umat saya demikian juga kalian; semua dari kita memiliki POTENSI dan PELUANG yang sama menjadi KORBAN dari covi-2019 yang sudah menjadi pendemic namun juga BERPOTENSI menjadi PENYEBAR covi-2019 yang menyakitkan bahkan membunuh sesama.

Meski harus melewati perayaan Ekaristi secara sendiri untuk pertama kali dalam perjalanan imamat saya di samping misa pribadi sebagai seorang imam, kami tidak kehilangan iman kepada Kristus, kami tidak takut karena kami masih dan selalu merindukan kehadiran Kristus sebagai Air Kehidupan yang menyegarkan dan memberikan kekuatan dan kesegaran iman (bdk. Yoh 4:5-42)sebagaimana isi pesan seorang umat kepada saya tadi malam yang membuatku tak tahan lagi untuk menangis:

“Selamat malam Father. Saya adalah...., tadi saya mengikuti misa yang dipersembahkan Father secara live. Namun saya bersama seluruh keluarga saya merindukan sekali untuk menerima Tubuh Kristus. Apakah Father bisa membagikan komuni untuk kami? Bisa bu, besok jam 9 pagi setelah saya misa, jawabku.”

Dari pesan ibu ini saya menyadari bahwa peristiwa covid-2019 tidak menjauhkan kami dari Yesus, tidak melemahkan dan mengalahkan iman kami kepada Yesus namun justru semakin mendekatkan, menguatkan iman kami kepada Yesus dan selalu merindukan Dia meski dengan cara “yang luar biasa” (tidak seperti biasanya) karena ada situasi di mana menuntut pengorbanan iman dan moral (bdk. Yakobus 2:14-26).

Saya menangis, demikian juga tangis kesedihan umat saya karena peristiwa covi-2019 paling tidak memberikan kesempatan kepada saya dan umat saya untuk menyesali dosa-dosa, sekaligus untuk membangun pertobatan yang selalu merindukan kehadiran Kristus dalam situasi apapun dan dalam cara apapun. Covi-2019 telah menjadi jalan bagi saya dan umat untuk melibatkan pengorbanan Kristus dalam pengorbanan saya dan umat untuk kebaikan dan keselamatan jiwa-jiwa bagi banyak orang.

Manila: 15-Maret-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update