-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Aku Masih Mencintaimu

Sabtu, 04 April 2020 | 20:51 WIB Last Updated 2020-04-04T13:51:35Z
Aku Masih Mencintaimu
Ilustrasi: google

(Setiap isyarat jalan pulang-Aku hanya memastikan engkau baik-baik saja. Biar engkau tidak tersesat-harapan terakhirku.)

Ketika matahari mulai terbenam, diam-diam aku kembali ke tempat-Tempat kamu memutuskan pergi.  Aku hendak menulis puisi dan membacanya pada jejak-jejak yang terluka. Kemudian di bagian akhir kerelaan aku menyerahkan ketulusan biar engkau benar-benar bahagia. Walaupun di tempat ini dan hari ini kita benar-benar  tidak dipertemukan kembali. 

Dulu sebelum engkau  pamit, aku pernah meminta ‘jangan dulu pergi’. Aku belum terlalu pandai belajar bagaimana cara yang baik melupakan. Aku ingin mendampingimu, menerima segala konsekuensi, seburuk apa pun keadaan. Aku ingin menjadi seseorang yang siap berjuang untuk mempertahankanmu, walaupun setiap gelombang mendekatkanmu pada pelukan-pelukan lain-Seakan-akan mengkhianati segala yang kuperjuangkan.

Namun, pada akhirnya engkau tetap memilih pergi. Mengalah sebelum berjuang. Mati sebelum berperang. Engkau memilih pergi di saat-saat aku sudah terlampau dalam mencintai. Hanya sedih yang kau tinggalkan padaku.  Semua rencana yang sudah kususun rapi pada akhirnya tidak lebih dari sepasang janji mengiring perjalanan pulangmu yang sekali-kali membakar rindu.

Aku pernah sekuat tenaga berjuang melupakan-mengucapkan selamat tinggal kenangan. Tapi setiap kali hujan datang menemani sepi, di antara selamat tinggal dan kenangan aku tidak lebih dari seseorang yang mencintaimu secara diam-diam. Aku pernah sekuat tenaga menghapus jejakmu pada ingatan lupa. Tak kubiarkan satu hal pun menusuk alam sadarku-Biar engkau belajar mempertahankan dengan sepenuh hati. Namun aku gagal. Pada senja yang hampir tiba di jubing-jubing malam, setiap puisi yang kutulis aku hendak memelukmu erat-erat-Menghadirkan bayanganmu yang terlanjur kekal dalam mencintai.

Sebagaimana perihal cinta-Cinta bukan sebatas tentang memiliki, tetapi juga semampu apa kita mengiklaskan luka. Mungkin saatnya duniamu dan duniaku baik-baik saja. Pergilah seperti apa yang selalu engkau yakini. Aku bukan yang tepat untukmu. Entah apa tujuanmu-Setiap isyarat jalan pulang-Aku hanya memastikan engkau baik-baik saja. Biar engkau tidak tersesat-harapan terakhirku. 

Sekarang aku merelakanmu membakar segala kegagalan dan kekalahanku. Aku tak hendak menahanmu lagi. Pada saatnya, engkau akan mengerti-Memperjuangkan cinta tidak semestinya kau sia-siakan. Hanya saja, aku butuh waktu, sebab terlalu singkat bagiku bercermin pada perjalanan panjang dengan keputusan sepihakmu. 

Di pengujung catatan ini, aku ingin mengiring perjalanan pulangmu dengan sebait doa-Biarlah yang paling puitis dari mencintaimu adalah keinginan untuk terus memiliki tanpa pernah tau sedalam apa kedalaman cintamu. Semesta yang kita perjuangkan adalah dua rasa yang tak mudah dilupakan dalam doa, namun terhapus dalam luka. Belajarlah memahami arti dari setiap keinginan yang tak tersampaikan-Jalan panjang akan menjadi sekotak kenang. Setiap keyakinan-Aku takut engkau tidak jatuh cinta lagi. Hingga kamu lupa hari-hari penting yang pernah engkau lalui. Tetaplah berjuang-setiap usaha memiliki, Tuhan yang Mahabaik itu seperti yang engkau ceritakan pasti memberimu yang terbaik dari segala yang pernah ada.

Selamat berjuang pada jalan pulang. Setiap jejak yang luka-Aku masih tetap mencintaimu. Semoga waktu mampu menenangkan kemenangan dari keinginan untuk tetap berjuang. Yang pernah berjuang akan terbawa kenang. Yang berusaha menghilang tetap dikenang.  

Oleh: Fergi Darut
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Sekarang beliau tinggal di unit Mikhael-Ledalero.
×
Berita Terbaru Update