-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Aku Merindu, Salahkah Aku Membenci Jarak, Rindu itu Luka

Senin, 27 April 2020 | 18:28 WIB Last Updated 2020-04-27T11:28:28Z
Aku Merindu, Salahkah Aku Membenci Jarak, Rindu itu Luka
Afrianna, Penyair Flores

Oleh: Afrianna

AKU MERRINDU

1// Ada salam saat senja datang
Dan berlahan matahari tenggelam
Aku titipkan rindu
Sembari tersenyum untukmu
Berlahan menyusuri keheningan malam
Engkau tahu
Aku hampir kehilangan arti
Aku hampir kehilangan rasa
Engkau tahu ?
Sesak sekali rasanya
Setiap kali ku temui dirinya yang menyerupai engkau
Ah ada banyak rindu
Yang tak jemu-jemu di ucapkan
Yang semakin jauh dari pelukan
Tetapi selalu manis dalam ingatan
Untukmu
Selalu ada kisah yang di balut dalam cerita indah
Tanpa lelah dan gelisah
Semoga Engkau juga merindukanku

2/// Tuan Roti
Senja di penghujung hari
Maafkan rindu yang kian hari tapa tepi
Sama seperti kemarin
Ah, mungkin hanya sebatas angan
Aku memang takut kehilangan
Dan padamu selalu ada kerinduan
Selalu ada cerita menarik tentangmu
Itu sebabnya aku merindu tanpa jemu
Ah maafkan aku
Yang tak pernah usai merindukanmu
Sebab kamu selalu menjadi yang pertama dalam hatiku
Yang merangkuk aku dalam hangatbsepefrti pelukan kasih ibu
Dan untukmu tak pernah ada kata usai
Untukmu juga tak ada kata tapi
Sebab engkau terlalu berharga di hati

3/// Tentangmu
Yang tak pernah menepi
Bahkan sesekalipun tak pernah hilang dari ingatan hati
Tentangmu
Yang menggetarkan jiwa
Tanpa jeda bahkan selalu ada
Engkau angan di setiap hayalan
Hal terindah yang selalu menghadirkan makna
Ah engkau
Selalu engkau
Dan aku merindu
Meski tanpa temu

4///Senja 
Pada sayup-sayup kesunyianmu
Aku titipkan rasa bersama kelamnya kebisuan
Saat tak adal lagi suara
Saat di tenggelamkan dalam luka yang terdalam
Dan hati tarasa hampa
Senja
Akankah waktu menjawab dalam kesunyiaan
Pada jarak-jarak yang tak terpatahkan
Pada harapan untuk sebuah pertemuan
Izinkan dia merasakan apa yang aku rasakan
Senja
Titip rindu
Unttuk dia yang selalu terkenang
Dan membawa tenang

SALAHKAH AKU MEMBENCI JARAK

Karenanya
Kita kini menjadi cemas
Kita kini membeku dan menciptakan beku
Aku takut,
Seketika di persimpangan itu kau membelok
Dan aku semakin cemas

Aku masih berpatung
Aku tak tenang
Dia
Di antarah sudut gelisah
Yang membuatku lelah
Ah tak kunjung mendapat sapah
Entah dan aku semakin cemas

Mengapa ?
Mengapa seperti ini ?
Kita menjadi sepi yang selalu menepi dan mencintai sunyi
Apakah ini hanya mimpi ?
Karena jarak yang kian merapi

Mewakili ragaku
Yang kian mendesah rasa dalam dada
Akankah seperti ini saja
Ku harap ini nyata dalam dekapan
Tanpa meninggalkan cerita yang hanya sebatas angan
Sebab ini hanya sebatas jarak
Dan aku membencinya, karena aku merinduh padamu selalu

RINDU ITU LUKA

Matahri sepertinya sudah tengelam
Bukan hanya sekejab, tetapi seperti selamnya
Senja seakan tak menjadi rebutan karena keindahannya
Malam sekan semakin gelap tanpa cahaya
Kelam, 
Sepi 
Sunyi
Mencekam diri
Harapan indah itu harus terbungkus rapi, 
sebab tak akan menjadi kenyatan
Entah sampai kapan rindu itu bertumpuk tanpa menemukan tempat untuk bertemu ?
Entah sampai kapan, Kita takut untuk bertatap, berjabat tangan, untuk saling bercakap dengan candaan indah penuh tawa
Kapan.......................?
Ah jarak ini seakan tak bisa kita tepis
Senyuman indah itu semakin sinis
Semuanya pahit
Tak ada yang bernikmat dan manis
Tuhan
Sang empunya tuaian
Entah sampai kapan
Sudah bosan
Ketika harus seperti ini
Berada tetapi terkurung
Aku rindu
Rindu segalanya tanpa jemu
Rindu berada dalam rumah-Mu
Dan bercerita tentang segala keluk kesahku

SUNYI

Pada malam yang mengusir kelam
Membawa bahagia dan damai
Sunyi,
Sebentar lagi maret akan pergi 
Dan semua gelap dan sunyi
Entah kemana semua menepi
Ah sunyi
Dan aku sendiri
Haru dan menderu
Sunyi,
Tapi coretan tinta itu masih menari
Membukakan perasaan yang abadi
Ah sunyi
Angin sepi-sepoi
Meneyjukan hati
Ah sunyi
Memang hanya sesaat bersemayam
Namun pesonanya tetap saja melekat
Ah sunyi 
Di persimpangan jalan
Tanpa teman.

PERGILAH

Pergilah
Jika hatimu ingin menepi
Jamjangan memaksakan diri 
Untuk cepat kembali
Pergilah
Jangan pedulikan aku
Sebab langkahmu bukan kehendak diriku
Pergilah
Seba aku tahu dari awal engkau datang
Hanya sebatas kasihan
Tanpa menyimpan sedikit perasaan
Pergilah
Sebab aku berhak bahagiatanpa seja
Sebab mencintaimu
Tidak harus memilikimu
Iya bukan ?

***Penulis adalah Penyuka Sastra sekaligus Mahasiswi Teologi UNIKA St. Paulus Ruteng.
×
Berita Terbaru Update