-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Aku Misa Sendiri? (Puisi Karya Rm. Kardiaman Simbolon, Ocarm)

Selasa, 07 April 2020 | 17:13 WIB Last Updated 2020-04-07T10:20:58Z
Aku Misa Sendiri? (Puisi Karya Rm. Kardiaman Simbolon, Ocarm)
Aku Misa Sendiri? (Puisi Karya Rm. Kardiaman Simbolon, Ocarm)

AKU MISA SENDIRI?

//Part 1

Aku nanar mencarimu, menunggumu, hai umatku;
seraya melempar pandang ke sudut gerbang gerejaku,
menunggumu dari detik ke menit,
tapi tak kunjung ada tanda-tanda walau mata tak berkedip.
Dalam kesendirianku sebagai imam,
ada hasrat menunggumu masuk ke dalam.

Lunglai aku masuk ke ruang sakristi,
mempersiapkan diri dalam perayaan ekaristi.
Aku pun melangkah menuju altar suci,
tanpa lagu dan paduan suara yang mengiringi.
Hingga aku tiba di altar tegak berdiri
Sedih, haru meliputi, aku menyapa kursi-kursi

Tanpamu, hai umatku kurayakan Ekaristi,
Walau terasa sunyi dan sepi
Sebab mataku menatap jauh ke arah kursi-kursi
yang berjejer kosong dan tetap rapi
Kursi-kursi itu tanpa beban dalam diamnya,
yang biasanya engkau duduk di atasnya.

Sampai kapan situasi demikian?
Mungkin tidak lama, begitulah orang berkeyakinan!
Ini hanya sebuah kesempatan,
untuk mengantarmu menghayati Kehadiran,
yang tersembunyi dalam sebuah perayaan;
yang nyata dan hadir dalam ketersembunyian.

Dulu kau merasa perayaan ini terkadang membosakan,
ingin mengubahnya dengan aneka variasi tambahan
konon kau kira bisa menambah semangat dalam perayaan.
Kau terpaku pada iringan, lagu dan tata liturgi,
mementingkan gerak indah juga dekorasi
yang saat ini ternyata tiada berarti.

AKU MISA SENDIRI?

//Part 2

Aku rayakan Ekaristi ini, tanpamu hai umatku;
aku berkotbah, seakan untuk diriku;
aku diajak masuk dalam diriku.
sebab selama ini mungkin aku berkotbah dengan sensasi dan atraksi;
sibuk persiapkan yang artifisial dan tak berarti;
tapi kini aku berkotbah pertama-tama tuk diri sendiri.

Aku tahu betapa tidak mudah berkotbah dalam kesendirian.
Mungkin lebih mudah berkotbah dihadapan ratusan entah ribuan,
daripada misa dengan kursi kosong di depan’
Terkadang tak tahu harus apa mau dikatakan;
Sebab aku berjumpa pada kesendirian;
Ah..terpaksa kumasuki sebuah kedalaman.

Kesempatan indah untukku sebagai imam,
berkotbah tuk diri sendiri secara mendalam,
sebelum mewarta bagi umat beriman.
Sekarang aku diajari untuk masuk kedalaman sabda,
meninggalkan sensasi yang mengundang gelak tawa,
melupakan sanjungan, tepuk tangan bahkan pujian.

Umatku, aku tahu engkau juga sangat rindu,
Tuk duduk kembali memenuhi kursi-kursi gereja itu,
hadir dan melayani kau merindu,
Simpanlah kerinduan itu, murnikan kerinduanmu.
Agar ke depan kau tahu mana yang paling perlu;
Kau, aku dan Dia bersatu.

Inilah saat tuk murnikan motivasi pelayanan,
Tuk tanyakan kembali makna kehadiran,
Yang bukan sekedar suatu kewajiban;
tapi tak berdampak pada hidup keseharian;
Saatnya kau belajar mengalami kehadiran,
Dia yang ada di ketersembunyian.

Oleh: Rm. Kardiaman Simbolon, Ocarm
×
Berita Terbaru Update