-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AKU TERKENANG GROENEN "DISKUSI KANON"

Kamis, 30 April 2020 | 18:48 WIB Last Updated 2020-04-30T11:48:04Z
AKU TERKENANG GROENEN "DISKUSI KANON"
Fransiskus Borgias M. 

Oleh: Fransiskus Borgias M. 
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI. 

Minggu yang lalu (saya lupa tanggal persisnya), seorang teman saya, Hortensius Mandaru (Ahli di departemen Penerjemahan LAI), dalam akun instagram pribadinya, menerbitkan foto sebuah cover buku baru. Buku itu berbicara tentang masalah, diskusi, dan perdebatan tentang Kanon Kitab Suci. Editor buku itu adalah dua orang ini: Lee Martin McDonald dan James A.Sanders. Hortensius Mandaru kemudian menulis sebuah caption singkat di bagian bawah postingan itu, yang bunyinya ialah sbb: “Indeed… Never ending debate…!!” Caption itu bisa diartikan secara bebas demikian: Ini adalah sebuah persoalan abadi, yang akan terus didiskusikan, diperdebatkan dengan hangat di dalam sejarah penafsiran kitab suci, di dalam sejarah teologi, di dalam sejarah gereja. De canone numquam satis. Hehehehe…. Ungkapan marialis itu bisa diterapkan di sini, sebagaimana telah diterapkan di tempat lain (sebagaimana dibuat Romo Purnomo, “De Satanae numquam satis” dalam salah satu artikelnya di Mingguan Hidup). 

Begitu saya melihat postingan itu, saya langsung memberi dua buah komentar. Dan dalam komentar itu saya bercerita tentang pater Cletus Groenen OFM. Memang saat saya membaca judul buku itu dan juga membaca komentar singkat dari Tensi atas buku itu, saya langsung teringat akan pater Cletus Groenen. Saya langsung ingat bahwa pada awal tahun 80an atau bahkan akhir tahun 70-an dia sudah menulis sebuah artikel ilmiah dalam Jurnal Filsafat-Teologi bergensi pada waktu itu, Orientasi (saya lupa tahun persis dan nomornya, apalagi halamannya). Saya juga sudah lupa akan judulnya. Tetapi kurang lebih ia mau mengatakan bahwa persoalan tentang, apakah kanon itu sudah tertutup atau masih terbuka. 

Tentu saja ini adalah sebuah persoalan yang cukup rumit dan sensitive karena menyangkut otoritas gereja (magisterium) yang sudah lama menetapkan dan bersepakat bahwa kitab-kitab yang masuk kanon Perjanjian Baru adalah sungguh kanonik (dan tidak dapat, tidak boleh digugat lagi). Apalagi hal itu sudah diperteguh oleh beberapa konsili. Peneguhan terakhir dibuat dalam Konsili Trente dalam rangka perdebatan teologis dengan Protestan (Peneguhan Trente kemudian ditegaskan kembali dalam Vatikan I dan Vatikan II). Kita sudah tahu bahwa otoritas gereja sudah memutuskan mengenai mana kitab-kitab yang masuk kanon, mana yang tidak lolos masuk Kanon, karena ada satu atau dua masalah terkait pandangan hidup dan pandangan teologis tertentu. Terhadap pertanyaan yang diajukan di atas tadi tentang apakah kanon sudah tertutup (final) atau masih terbuka, pastor Groenen memberikan sebuah jawaban yang dalam penangkapan saya terasa cukup pasti dan meyakinan bahwa kanon itu masih terbuka. Ia tidak tertutup sama sekali. Semoga saya tidak keliru membaca beliau. Maaf jika keliru. 

Artinya, secara kongkret ialah bahwa kalau sampai sekarang kanon kitab suci Perjanjian Baru kita terdiri atas 27 kitab, maka mungkin saja di hari-hari yang akan datang, jumlah itu bisa saja berkurang atau bisa juga bertambah. Mengapa demikian? Hal itu erat terkait dengan upaya penggalian dan pencarian arkeologis yang masih terus berlangsung hingga sekarang ini. Pelbagai penggalian arkeologis masih terus dilakukan oleh para ahli hingga saat ini. Bisa saja pada suatu saat di masa yang akan datang, begitu pater Cletus mensinyalir, para arkeolog itu akan menemukan naskah-naskah kuno lagi yang bisa saja mengubah seluruh postur daftar kanon Kitab Suci Perjanjian Baru yang sudah kita miliki hingga sekarang ini. Belum lagi kalau diskusi itu kita perlebar hingga mencakup kanon kitab suci Perjanjian Lama juga (yang bisa “berubah” dengan semakin mendalamnya pengetahuan kita tentang “intertestamental period”, kurun yang sangat subur, tetapi yang selama ini diabaikan karena orang terpaku pada PL di satu pihak dan PB di pihak lain lalu lupa bahwa ada kurun misteri yang kaya di antaranya). 

Sekarang kembali lagi ke pokok yang didiskusikan oleh pater Cletus Groenen di atas tadi. Bahkan pater Cletus tidak hanya memberi pendasaran argumentasinya pada penggalian arkeologis. Ia juga mendasarkan argumentasinya pada beberapa teks yang hingga sekarang ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Saya masih ingat dalam karangan itu, Pater Groenen memberi contoh berikut ini. Dengan cukup tegas dan berani ia mengatakan bahwa kalau mau jujur maka Kitab Gembala Hermas sesungguhnya jauh lebih bermutu dan lebih layak masuk kanon dibandingkan dengan kitab 2Petrus. Sebagai seorang novis saat itu, saat saya membaca hal itu dulu, saya juga sangat terkejut (apalagi saya sudah katam lebih dari dua kali membaca alkitab itu). Tetapi apa mau dikata, tradisi gereja sudah menetapkan demikian: 2Petrus lolos masuk kanon, sedangkan Pastor Hermas, terbuang di luar kanon, walaupun kita masih tetap sangat menghargainya sebagai sebuah karya yang sangat bermutu. 

Persoalan ini semakin terasa meyakinkan lagi, tatkala kita diberitahu oleh pater Groenen dan para ahli lain bahwa jika kita membandingkan dengan baik, maka ada beberapa bagian dalam 2Petrus itu sesungguhnya mengutip dari surat Yudas. Sebenarnya tidak juga ada sebuah keputusan yang pasti, apakah 2Petrus yang mengutip Yudas, ataukah Yudas yang mengutip 2Petrus. Tetapi menurut Pater Groenen, 2Petruslah yang mengutip Yudas. Dan saya menerima itu. Jika demikian duduknya perkara, maka kita pun semakin menjadi yakin lagi mengenai betapa goyahnya kedudukan 2Petrus itu di dalam bingkai Kanon Kitab Suci Perjanjian Baru. Sedangkan Yudas mempunyai persoalannya tersendiri juga. Di dalam kitab itu, kita menemukan beberapa kutipan yang berasal dari kitab-kitab apokrif, suatu yang sangat langka dilakukan di dalam kitab-kitab yang kanonik sejauh yang saya ketahui selama ini. Jadi, secara tertentu, posisi surat Yudas pun sesungguhnya cukup “goyah” juga, kalau pada suatu saat dikatakan bahwa kriteria kanon ialah tidak mengutip dari kitab apokrif. Kalau hal itu terjadi, maka tamatlah riwayat status kanonik surat Yudas itu. Hehehehehe.... kita omong jujur-jujur saja sebagai orang yang dewasa dalam beriman. Jangan baper yah…. 
×
Berita Terbaru Update