-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Antologi Puisi Rian Tap: Kata Kopi Tentang Ayah, Peluru Rindu Untuk Ayah, Ayah Pergi Selamanya

Sabtu, 04 April 2020 | 08:56 WIB Last Updated 2020-04-04T01:56:11Z
Antologi Puisi  Rian Tap: Kata Kopi Tentang Ayah, Peluru Rindu Untuk Ayah, Ayah Pergi Selamanya
Ilustrasi: brillio

Oleh: Rian Tap

PELURUH RINDU UNTUK AYAH

Berpasung  rindu yang mendalam,
 hingga air bening mengalir pada netra yang bersaing dengan derasnya rinai hujan sore itu.
Menyahut seribu duka dan rindu yang terbelenggu.
Dikala pagi bersama serupan segelas kopi,
Bersama kita melihat acara siraman rohani.
Siaran favorit seisi rumahku.
Ada hati  yang menyejuk seribu rupa. 
Seperti kecilku  dulu kau dudukkan aku di pundakmu,
Apa lagi kalau kita pulang dari ladang, dikala becek melumuri kaki mungilku.
Kini engkau pergi, selamanya.
Terakhir engkau berjumpa dengan kami,
Dari luar pagar rumah, engkau menyahut; “nak, jaga diri dan ibu baik-baik”.
 Raut wajahmu mengungkap seribu rindu.
Rindu untuk berjumpa dan bersua.
Namun engkau tahu, dirimu sudah terinfeksi tamu jahat itu.
Engkau tidak membiarkan kami terbinasah olehnya.

CORONA DAN PETUAH AKHIR KIDUNG SALOMO

1/// Engaku telah memanggil ayahku dalam sunyi.
Dalam ruangan yang tak bertuan. 
Lantas engkau terlalu merajalela ke setiap sudut dunia.
Kidung Salomo berkumandangkan, tentang bijak dalam beriklas.
Ya,,, engkau tamu tak diundang dalam  perjamuan kerluargaku.
Untukmu Corona, ku kidungkan lagu sunyi dari bilik jendela yang rentan retak.
Aku anak yatim mengihklaskan ayah pergi serta merindukan kidung sunyi dalam keaguangan gereja.
Kini, menjelam sepi di setiap sudut kalbu yang terisolai.
Ya,, Di sinilah Sang Sabda disalibkan bersama corona dan  dalam remang-remang lilin paskah,
Dimalam yang kudus sebelum ia mengalahkan maut dunia.

2/// Sebelum aku kembali ke debu.
Aku bersujud pada bilik pangkuan penyucian sesal.
Dalam sujud mohon apun atas nanar.
Nanar ku dan kita,
Kita yang merasa lihai dalam berilmu.
Mungkin inikah petuah dari-Mu.
Atau inikah cara-Mu untuk membinasakhkan kaumku.
Maka bernyanyilah,
Paduan suara malekat dimalam natal,
Saat gembala  menggiring domba dipenghujung waktu untuk mencatat jejak.
Sebab kandang telah menjadi rumah paling suci, 
Dan palungan menjadi kasur paling sakaral.
Masih adakah Salomo-Salomo lain yang berkidung rindu untuk-Mu?

AYAH PERGI SELAMANYA
Malam pertama dalam sebuah kepergiaan.
Aku hanya mampu mentapmu dalam pigura kenangan.
Gerimis mengalun lagi,
Genangi jejakmu  yang sepi.
Maka berilah kami kekuatan hati.
Dalam doa-doa yang dulu kau ajari,
Ketika sesak mengikuti.

KATA KOPI TENANG AYAH

Hari ini secangkir kopi pahit mengguruiku.
“diam saja dulu jika terlalu panas, biarkan saja ampasnya mengendap”, katanya.
Sambil berkacak pinggang sebelah.
“Hitam itu tak selamanya kotor nak,!
Pahit tak selamanya bercerita tentang sedih”,
Ayahmu bahagia disana,
Imbuhnya, lalu beranjak pergi.

Penulis adalah pegiat sastra sampul buku unit Gabriel. Asal lembor-Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere. 
×
Berita Terbaru Update