-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Antologi Puisi Yuan Hadi Setiawan

Sabtu, 25 April 2020 | 21:15 WIB Last Updated 2020-04-25T14:15:49Z
Antologi Puisi Yuan  Hadi Setiawan
Ilustrasi: pxhere

RINDU DI BULAN MARET

Sejuta mimpi mengabar waktu
Yang telah diukir oleh diriku
Ada rindu yang meraja pada hati
Rindu dalam cengkeraman hangatnya pagi

Di bulan Maret yang lalu
Ada paket rindu dalam waktu
Yang dikemas apa adannya
Sebab  maret telah lanjut usia

Jangan bosan menyusuri April ini
Ada rasa hampa kembali
Kembali untuk melumpukkan imajinasi
Engkau pancarkan lagi senyummu

Jika sajakmu telah disirna oleh angin
Pergilah kau temui waktu
Bernego dengannya agar kembalikan diriku
Akan kucari sajakmu yang disirna oleh angin

DIANGKASA GELAP
Sebelum gelap menerkam jiwa
Duduklah disamping ku ini
Sandarkanlah keluh kesa jiwa
Padaku seorang diri
Diangkasa gelap kau terlantar
Jiwamu masih menangis dalam diri
Kau masih dilihat terlantar
Sebab hati tak mampu melunasi

Tak ada ceria yang tergores
Kau masih sibuk merenungi
Gelap mengintai
Saat sementara jiwamu menangis

Diriku datang membelai
Ku harap kau ceritakan gelapmu
Sebab kau sibuk menahan diri
Sementara hasratmu habis dalam sunyi
 VULAN GURITNO

Tak  ada  kalimat yang menerjemah rasa
Tuk ceritakan seraut wajahmu
Lukisan seakan membandung hampa
Melepas mimpi pada terbitnya waktu

Tersiur angina senja yang kelam
Memaksa cahaya surya membuat malam
Aku datang memastikan petang
Tentang siapa yang akan datang

Ku berani meraba suara manismu itu
Bersajak dengan himpunan kata indah
Melukiskan wajahmu  yang manis itu
tak ada duka tak sendu apalagi lelah

jika hatimu menyenangkan lagi
izinkanlah penaku menari-nari di ujung lembar
jangan siagakan amarahmu lagi
bilamana aku datang tuk berlembur

TUHAN APA ENGKAU TUA?

Dipanas matahari yang menggelora
Semua kisah telah terurai oleh jiwa
Pada setiap kalimat tanya
Berharap berikan arti jawaban

Tuhan apakah engkau tuan?
Yang selalu menunggu hamba 
Kisaran harapan yang meraja
Kau taklukan dengan tangan kanan

Aku bertanya pada waktu 
Tentang hujan yang selalu datang
Ketika ada sebuah petang 
Seakan menggambar diri-Mu

Kini sebait harapan telah diajak
Tuk sembunyikan kekhilafanku
Namun matamu telah beranjak
Pergi mendapatkan aku

TENTANG SUNYI

Tuhan ada malam merayuku
Membisikku untuk berpaling dari-Mu
Ada sesak yang kurasa 
Tanpa hampa yang menerpa

Aku kini merayu diriku
Tuk beranjak dari sepi
Setiap butiran hujan ini
Laksana air mengalir dalam diri

Tuhan ada malam mengajak 
Bercumbu dengan setiap butiran hujan
Sunyi seakan mengajak malamku
Tuk bersekutu berperan melawan
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan

Tuhan ada waktu tanpa kata-kata
 Sebab jemariku seakan berpaling jauh
 Kini dedaunan berbicara tentang waktu
 Sebab mulutku telah sirna

Yuan  Hadi Setiawan.
Siswa SMAN1 Satarmese-Narang
×
Berita Terbaru Update