-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Artikel Opini Tanpa Data, Mungkinkah?

Selasa, 07 April 2020 | 17:04 WIB Last Updated 2020-04-07T10:57:17Z
Artikel Opini Tanpa Data, Mungkinkah?
Silvester Joni

Pertama nian, saya perlu membuat semacam limitasi dari 'term data' dalam tulisan ini. Data yang saya maksudkan selalu mengacu pada 'hasil olahan' terhadap sebuah persoalan sosial yang dinyatakan dalam statistik, gambar, grafik, peta, dokumen resmi' dan lain-lain. Artinya data itu merupakan 'abstraksi' dari sebuah realitas yang kompleks.

Pertanyaan kunci dalam diskusi kita kali ini adalah apakah kita mesti 'menggenggam data semacam itu' dalam merampungkan sebuah artikel opini? Sebuah laporan investgatif untuk dijadikan sebuah 'berita kisah', data-data tersebut tentu 'wajib ada'. Sebuah berita mendalam, bagaimana pun juga, sangat bergantung pada akurasi data yang disajikan. Lalu, bagaimana dengan tulisan yang bergenre essai (artikel opini)?

Dari segi nama saja kita sudah bisa menduga bahwa 'opini' itu sangat bergantung pada kecerdasan dalam berpendapat (berargumentasi). Karakter sebuah artikel opini tentu tidak sama dengan 'tulisan ilmiah' yang sangat ketat dari sisi metodologis. Sebuah tulisan yang bercorak 'ilmiah populer', tidak harus tampil kaku baik dalam struktur kebahasaan, stilistika, dan metodologi. Artikel opini umumnya tampil dalam format dan pola yang sederhana, luwes, ringan, dan mudah dicerna.

Kendati demikian, tulisan opini tetap memperhatikan 'kaidah penulisan yang baik dan benar'. Argumentasi yang dibangun, meski tidak selalu berpijak pada sederetan referensi yang kredibel, tetapi tulisan tersebut tetap berpijak pada 'kenyataan yang konkret' dan masuk akal. Karena itu, tulisan opini juga semestinya berbasis data dan fakta. Namun, pemahaman data dan fakta itu tentu tidak 'seketat' seperti yang dituntut dalam sebuah tulisan ilmiah ketat.

Atas dasar itulah maka saya berani merumuskan tesis bahwa sebuah artikel opini 'tidak harus' ditopang oleh data sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah murni. Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa 'data' dalam sebuah artikel opini itu tidak penting. Tetap diakui bahwa data yang valid bisa memperkuat argumentasi, tetapi tidak harus dibeberkan secara eksplisit dalam sebuah tulisan opini.

Tetapi, jika makna data itu diperluas, dalam arti tidak hanya mengacu pada 'apa yang tertulis oleh manusia', maka sebetulnya sebuah tulisan opini itu sudah 'kaya data'.
Kita tidak perlu 'pusing kepala' untuk mengaksesori tulisan kita dengan 'data buatan manusia'. Alam semesta raya dan segala isinya, sudah bisa dijadikan 'datum natural' dalam meracik sebuah tulisan. Kita tidak bisa menulis sebuah artikel opini jika kita menunggu 'segepok data' yang sudah direkayasa oleh manusia.

Coba bayangkan, seandainya para penulis klasik seperti Plato, Aristoteles, dll menunggu 'data kreasi manusia' untuk menulis, maka boleh jadi mereka tidak akan menghasilkan karya tulis yang berbobot. Dari mana data-data itu mereka peroleh? Sebuah impossible mission.

Poin yang hendak dinyatakan dalam sebuah artikel opini, hemat saya bukan pada 'onggokan data faktual', tetapi analisis argumentatif-rasional di seberang data-data tersebut. Kita tidak sedang 'bersolek ria dengan data', ketika menganalisis sebuah problem sosial, tetapi penalaran yang logis dan meyakinkan perihal struktur dan alur kisah sebuah isu aktual.

Dalam mengonstruksi sebuah artikel yang argumentatif, data dan fakta dipakai untuk 'memperkuat logika'. Tetapi, tidak dengan itu, kita lalu mengambil kesimpulan tegas bahwa kita tidak bisa menulis jika tidak ditopang oleh data dan fakta. Saya berpikir bahwa data dan fakta umumnya 'hadir secara implisit' di dalam keseluruhan kerangka argumentasi yang dibangun.

Dalam dunia menulis, kita selalu 'diganggu' oleh angin ilham (inspirasi) yang berkecamuk dalam pikiran. Inspirasi tersebut tentu tidak muncul dari ruang hampa. Ilham akan muncul ketika 'fakultas imajinasi-intelektual' kita bekerja secara aktif ketika bersua dengan aneka realitas. Perjumpaan dengan pelbagai 'fenomen' itulah yang bisa dijadikan 'acuan' dalam menulis. Dengan rumusan lain, realitas perjumpaan dengan 'kenyataan' merupakan data dan fakta yang bisa dielaborasi secara kreatif dalam sebuah tulisan.

Dorongan untuk menulis tentu saja berangkat dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dibaca, dinonton, dipikirkan, dicium, dikecap, dan dicerap. Kita tidak harus menunggu 'data hasil kajian akademik' untuk menulis apa yang langsung kita baca dan dengar. Sebagai contoh, ketika kita membaca sebuah koran atau majalah, maka apa yang kita baca itu merupakan 'data' untuk menulis. Berita tentang adanya 'pungutan liar' dalam sebuah koran, itu sudah cukup untuk menulis sebuah teks opini. Kita tidak perlu menunggu 'pengakuan resmi dan data-data' terperinci dari narasumber untuk menggarap sebuah tulisan.

Sebuah 'kejadian unik' dalam acara Televisi yang kita nonton, bisa dijadikan data dalam menulis. Kita tidak perlu mencari 'data hasil penelitian ilmiah' dari fenomen yang sedang kita tonton tersebut.

Tegasnya, segala sesuatu yang kita amati, pikirkan, lihat, dan dengar menjadi 'sumber resmi' ketika bergumul menulis sebuah artikel opini. Intinya kita berani 'berpendapat' tentang suatu hal yang kalau dapat memengaruhi pola pikir dan pola tindak orang lain terhadap 'isu' itu.

Oleh sebab itu, tidak perlu takut untuk beropini tentang pelbagai fenomen sosial-politik yang terjadi saat ini. Jangan terbebani dengan 'data-data' untuk mempercantik tulisan itu. Berpendapat secara orisinal jauh lebih bermartabat ketimbang mencomot data manipulatif yang dibuat manusia hanya karena terobsesi pada penampilan tulisan yang keren di mata pembaca. Jadilah diri sendiri dalam menulis. Selamat beropini secara bebas di berbagai ruang diskusi publik.

Oleh: Silvester Joni
Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero, Maumere. 
×
Berita Terbaru Update