-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ayah dalam doa pagimu

Kamis, 23 April 2020 | 19:45 WIB Last Updated 2020-04-23T12:45:35Z
   Ayah dalam doa pagimu
Ilustrasi: dandiemo

Ketika pagi telah kembali untuk merayu waktumu, kau terlihat seperti orang yang tak punya tujuan. Namun itu hanya pandangan ketika aku tak ada dalam posisimu.
Hangatnya mentari pertama telah menyengat kulitmu yang belum sempat engkau bersihkan dengan setetes air, meskipun embun pagi telah menyapamu di halama rumah

Pagi telah bermegahkan diri pada dunia, kau datangkan kepedihan pada setiap putaran jarum terasah begitu lama berputar. Ucapan kata-kata untuk merayu Tuhan tak sempat kau sebut satu persatu dalam keheningan pagi itu.

Ayah dalam setiap kedipan matamu telah melahirkan sejuta kepedihan, kepedihan yang begitu ganas merayumu untuk berhenti bekerja bersama dengan sak pemilik waktu.
Matamu memandang tajam pada setiap bulir-bulir air yang mengalir dari langit
"Ah, apakah hari ini saya tidak dapat bekerja", kalimat tersebut telah tumbuh dalam jiwamu ketikan bulir-bulir air mengalir dari langit ketika waktu pagi.

Ketika rindu ini mulai datangkan kepedihan, memaksa diri untuk berlayar dalam keheningan. Hembusan angin terasah pahit ketika di kecap oleh kulit ini untuk memastikan apakah aku harus membatumu.
Langkah kakimu tak pernah memintamu untuk bekerja, sebab pikiramu tak pernah datangkan kemalasan yang berakar.

Kenangan kini mulai sibuk mebiaskan dirinya, mempersiapkan sedini mungkin tuk marajut kehidupanmu
Ayah dalam hembusan nafasmu melairkan kepedihan yang tak ada tara.
Setiap dara mengalir kesakitan yang menjerumus  didalam hidupmu.
Lelah, capeh, sakit, lapar, haus dan kepanasan adalah kawan ketika engkau berlaga dibawa teriknya matahari, namun secuil harapan telah memutuskan semua itu.

Ayah doa-doa pagimu tak sempat engaku paparkan, sebab waktumu telah diisi oleh pikiran tentang kembalinya kawan-kawanmu meskipun harapan dengan semangat memutuskan tali persahabatan kalian.

Ayah terimah kasih untuk perjuanganmu dalam merayu kesuksesan anak-anakmu dimasa depaan. Hanya doa sajalah aku melunasi sedikit demi sedikit kelelahanmu.

Ayah kau adalah kawan pertama  yang kumiliki ketika aku dilahirkan dari rahim ibu, istrimu. Kini engkau kembali pada pekerjaanmu yang melelahkan itu, tetesan keringat bercucur dari dahi menanda begitu jahatnya surya, namun usapan tanganmu telah menghapus semua itu.
  Istrahatlah ayah ketika usiamu semakin petang.
Trimah kasih ayah, engaku adalah pelita keluarga ketika mengarungi kegelapan yang tak ada batas.

Oleh: Yuan Hadi Setiawan
Special untuk ayah tercinta Kornelis Nambur
×
Berita Terbaru Update