-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Beriman Tanpa Akal Budi, Bukanlah Manusia

Rabu, 22 April 2020 | 19:30 WIB Last Updated 2020-04-22T12:30:51Z
Beriman Tanpa Akal Budi, Bukanlah Manusia
P. Tarsy Asmat, MSF

Di tengah pandemi covid 19, sikap beriman itu ditantang. Pertanyaannya, apakah mereka yang tetap ngotot beribadah, berkumpul di rumah beribadah, melawan dan melanggar himbauan pemerintah tentang jaga jarak dan tinggal di rumah, merupakan bentuk beriman sebenarnya?

Ditemani secangkir kopi jahe, tulisan ini mencermati beberapa kenyataan menggelikan di tengah Covid 19. Saya menggunakan teropong kristiani untuk menenun gagasan ini.

Pertama, hanya manusialah yang beriman dari jutaan species di bumi ini. Binatang lain dan tumbuh-tumbuhan tidak masuk dalam kata "beriman" itu.

Secara nyata kita melihat tidak adanya Rumah Ibadah kelompok Sapi, Anjing, dan tumbuh-tumbuhan. Hanya manusia yang memiliki rumah ibadah. Walaupun kera mirip dengan manusia tetapi sampai hari ini mereka tidak membangun rumah ibadah. Haha.

Mengapa hanya manusia? Seandainya manusia tidak dikarunia akal budi, pasti kita tidak mengenal doa, membuat rumah ibadah atau bentuk penghayatan spiritual lainnya. Maka syarat dasar beriman adalah adanya akal budi. Tanpa akal budi, apa itu beriman? Mungkin pohon bisa menjawabnya. Maka bersyukurlah kita punya akal budi.

Memisahkan akal budi dan iman mengandaikan sapi, babi, kuyuk dan sejenisnya beriman dan beragama.

Beriman adalah ciri khas manusia. Memang inti dari beriman ialah relasi antara manusia yang terbatas dalam ruang dan waktu dengan yang melampaui ruang dan waktu atau Pencipta, tetapi titik temu ada pada potensi dan aksi akal budi manusia yang menyadari akan eksistensinya.

Manusia diantar pada perjumpaan dengan yang mahakuasa hanya karena manusia berkesadaran, berefleksi tentang adanya sang pengada segalanya. Dalam bahasa Aristoteles Sebab pertama dari segala penyebab/Pengada. Kesadaran manusia tak terpisahkan dengan relasinya dengan alam dan dengan sesama. Kesadaran mengandaikan relasi subjek atau manusia dengan dunia di luarnya.

Ketika manusia menyadari keakuan dan relasinya, serentak juga ia akan melampaui keadaannya (transendental) terarah pada yang Mahakuasa. Misalnya ia menyadari bagaimana ia ada dan segala disekitarnya ada?

Kedua, pemikiran Aquinas dalam lima jalan apologianya, salah satunya cara abstraksi akal budi manusia yang selalu bertingkat, terutama dalam menentukan nilai bisa membantu kita bagaiman harusnya kita menjadi orang beriman. Manusia selalu memilih yang terbaik (Gradibus) dan menghindari kemalangan dan penderitaan.

Mengapa manusia secara kodrat berpikir seperti itu? Menurut Aquinas sendiri, justru karena manusia itu diciptakan baik adanya, berasal dari hakekat yang baik. Dan oleh karena itu manusia selalu terarah pada kebaikan maka dan pasti ada satu "Suma Bonum" (kebaikan asali/maha baik) yaitu Allah. Manusia berasal dari yang Maha Baik. Nah bukankah semua agama mempercayai Allah itu baik?

Dari penalaran demikian maka bagaimana sikap iman kita di tengah pandemi covid 19?

Perbuatan baik adalah bentuk nyata perbuatan iman, perbuatan baik itu adalah tindakan kasih. Secara jelas dalam iman Kristiani, perbuatan kasih sangat ditekankan. Kasih melampaui semuanya. Iman itu secara konkrit dan nampak jelas melalui kasih-Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih). Adakah agama yang tidak sepakat dengan pernyataan ini, bahwa Allah adalah kasih?

Bentuk kasih pada sesama merupakan ekspresi paling jelas mengimani Allah yang mahakasih. Justru sangat rancu kalau seseorang menghadiri berdoa secara masal di rumah ibadah dan berpotenai menyebarkan covid 19 dengan cara yang barangkali anda tidak sadari.

Ketiga, kalau kita melihat dari sisi hukum, karena hukum adalah ekspresi rasionalitas manusia, secara hukum memang perbuatan yang tidak sadar luput dari delik hukum. Karena itu supaya terikat oleh kesadaran maka dibuatlah himbauan atau protokol. Himbauan ini menyadarkan manusia bahwa ada bahaya. Namun ketika himbauan atau alarm ini sengaja diabaikan disitulah hukum hadir. Orang tidak bisa melawan rasionalitas publik.

Keselamatan bersama dan keselamatan oranglain menjadi tanggungjawab setiap orang. Seringkali orang memikirkan keselamatan dirinya sendiri, itu bukanlah sikap iman yang menunjukan cinta kasih tetapi sikap egois.

Terkait dengan dampak lain dari virus ini, sikap cinta kasih ini mestinya tetap menjadi pegangan. Solidaritas dan perhatian antara sesama. Bukankah sudah terbentuk struktur lembaga sosial mulai dari RT sampai negara? Bukankah ada lemba-lembaga sosial lainnya?

Covid 19 menyingkapkan apakah kita memiliki iman dan bagaimana penghayatannya di tengah krisis. Beriman bukan tentang rumusan doa dan melafalkan atau mendendangkannya. Beriman bukan tentang sekedar mengikuti aturan, toh semua lembaga bentukan manusia punya aturan mainnya.

Keempat, beriman adalah tanggapan manusia pada Cinta Kasih Allah untuk melakukan hal yang sama. Beriman memuji Allah yang mahakasih. Memuji Allah mahakasih berarti melaksanakan perbuatan kasihnya, bukan sekadar kata pujian. Beriman berarti percaya pada wahyu. Allah yang mewahyukan diri itu adalah Allah yang solider, bukan Allah yang ngumpet dari ciptaannya. Percaya kepada Allah yang solider berarti ikut bersolider.

Nah apakah dengan berkumpul dan berjemaah di tengah mewabahnya covid 19 dan kita mendengar banyak orang meninggal karena virus ini, tetapi kita ngotot untuk tetap berkumpul karena alasan iman yang kuat? Lalu apabedanya dengan mahluk tak berakal lainnya? Jika begitu juga, ayam jauh lebih masa bodoh dan cuek dengan virus.

Tetapi kita bukanlah ayam atau sapi! Justru marilah kita tunjukan buah iman dan doa kita dengan menghargai kehidupan sesama dan solidaritas satu dengan yang lain.

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update