-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

“BIBLIA PAUPERUM” DAN “BIBLIA FIDELIUM”

Kamis, 16 April 2020 | 15:45 WIB Last Updated 2020-04-17T05:36:25Z
“BIBLIA PAUPERUM” DAN “BIBLIA FIDELIORUM”
Fransiskus Borgias M.  

Dalam konteks wacana historis tentang kesenian Kristiani, sering dikatakan bahwa gambar-gambar (juga patung dan ukiran) berfungsi sebagai “kitab bagi orang-orang buta huruf” (orang-orang yang tidak bisa membaca). Dalam bahasa Latin hal itu dikenal dengan sebutan “Biblia Pauperum”. Secara harfiah ungkapan itu artinya “kitab (biblia) untuk orang miskin (pauperum)”. Memang pada saat itu buku/kitab adalah barang super mewah yang hanya bisa dimiliki oleh sekelompok elit kecil dalam masyarakat, biasanya mereka adalah orang kaya, dan bisa membaca (melek huruf). Orang miskin, orang kebanyakan tidak mempunyai buku, karena buku itu harganya mahal, dan karena itu tidak semua orang bisa memilikinya. Buku mahal karena saat itu belum dicetak masal, lagipula teknologi percetakan belum ada. Semuanya ditulis (disalin) tangan. Karena itu, Kitab Suci bagi mereka bukan terutama huruf-huruf, melainkan lukisan/gambar yang dilukis/diukir pada dinding gereja, juga pada bagian bawah altar. Mereka (orang miskin, pauperum tadi) bisa “membaca” lukisan/gambar itu, sebab lukisan/gambar adalah bahasa komunikasi universal yang menembusi semua tembok batasan, termasuk tembok batasan pemisah antara kelompok Melek huruf dan Buta Huruf. Di sini saya mau menelusuri asal usul historis istilah itu.

Sebenarnya, tidak serba jelas dari masa asal-usul historis ungkapan itu. Banyak ahli sejarah gereja (juga sejarah kesenian Kristiani, seni gerejawi) beranggapan bahwa ungkapan ini mungkin sudah sangat tua usianya. Anggapan ini didasarkan pada keyakinan bahwa hal itu kiranya berasal dari Paus Gregorius Agung, tokoh agung dari akhir abad keenam dan awal abad ketujuh (590-604). Tokoh yang termasuk dalam kategori pembaharu gereja yang diakui oleh filsuf Inggris, Bertrand Russel (sehingga ia mengulas tokoh ini dalam History of Western Philosophy, persisnya dalam Bab “Catholic Philosophy”). Dialah Paus yang dikatakan mengalami penglihatan (vision) dalam sebuah perayaan Ekaristi. Dalam penglihatan itu, ia melihat “Manusia Menderita”, Orang yang dilukiskan Yesaya 53, yang dikenal dengan sebutan Hamba Yahweh yang Menderita, Ebed Adonai itu. Oleh penulis Perjanjian Baru (Gereja purba), Hamba Yahweh yang Menderita ini, diyakini sebagai Yesus Kristus yang tersalib. Atau bisa dirumuskan secara lain seperti ini: Penulis Gereja Purba, melihat dalam diri Hamba Yahweh yang Menderita itu gambaran awal Yesus yang menderita. Ini adalah cara pembacaan orang Kristiani. Hal ini perlu ditegaskan karena pembacaan itu bukanlah satu-satunya yang ada saat itu. Masih ada cara penafsiran dari orang Yahudi, dari tradisi Rabinic pasca kehancuran Bait Allah di Yerusalem, yang berkembang dari mazhab Javnah.

Dalam sebuah surat kepada tokoh bernama St.Serenus, yang saat itu menjadi uskup Marseiles, Paus Gregorius mengungkapkan keyakinan dan pandangan pribadi dia yang sangat menarik. Ia mengatakan demikian: “Apa yang dibuat oleh tulisan bagi orang yang melek huruf, itulah yang dibuat oleh lukisan bagi orang yang tidak melek huruf. Ketika mereka memandang dan merenungkannya (lukisan), karena orang yang tidak bisa membaca, maka mereka bisa melihat dalam lukisan itu apa yang harus mereka lakukan” (Beth Williamson, Christian Art, A Very Short Introduction, Oxford: Oxford University Press, 2004:66). Di balik pernyataan ini tersimpan pandangan yang kuat bahwa gambar-gambar itu dibuat untuk tujuan pendidikan (pembinaan) bagi orang buta huruf, agar mereka bisa memahami kisah-kisah Kitab Suci dan dengan itu mereka memahami apa yang terjadi. Menurut Gregorius gambar-gambar itu bisa memenuhi satu tujuan yang berguna, tidak hanya dalam hal merangsang perasaan keagamaan, melainkan juga dalam hal menyampaikan pesan-pesan penting dari Kitab Suci kepada orang yang tidak bisa membacanya.

Tetapi apa yang dimaksudkan dengan “Buta huruf” dalam konteks ini? Diandaikan bahwa umat kebanyakan saat itu pada awal abad pertengahan (juga sebelumnya) benar-benar Buta Huruf. Hanya kelompok klerus yang paling terdidik saja (jumlahnya sangat sedikit) yang punya kemampuan/pengetahuan yang cukup akan bahasa dan huruf Latin (juga Bahasa dan huruf lain, Yunani, Ibrani). Tetapi studi dan riset ilmiah terbaru tidak mampu melihat dan membedakan gradasi-gradasi yang lebih halus dan tingkatan kemelekan itu. Misalnya orang tidak membuat gradisi, mulai dari pengetahuan membaca yang cukup akan bahasa daerah, lalu mungkin ada yang mampu membaca dan menulis dalam bahasa vernakular, ada yang bisa membaca dan menulis Latin dengan baik, tetapi juga bisa menulis dengan bahasa itu dengan baik dan indah. Mungkin ada beberapa orang awam yang sudah mempunyai kemampuan dasar untuk memahami beberapa hal yang terbatas dalam bahasa Latin. Tetapi boleh jadi mereka bisa menemukan gambar-gambar yang sangat membantu mereka, yang bisa mengingatkan mereka, atau pun menuntun mereka kepada “makna” dari teks-teks itu.

Karena itu, kita bisa berbicara tentang tiga level terkait tingkat kemelekan huruf (literasi) itu. Pertama, bagi kelompok yang buta huruf sama sekali maka gambar-gambar itu yang merupakan satu-satunya cara dan pintu masuk bagi mereka untuk memahami kitab suci. Kedua, bagi orang yang hanya buta huruf separuh, maka gambar-gambar itu berfungsi untuk memudahkan mereka mengingat kembali apa yang pernah mereka ketahui sebelumnya. Ketiga, bagi yang tidak buta huruf sama sekali gambar-gambar itu berfungsi sebagai ilustrasi yang berfungsi untuk memperjelas, mempertegas pesan dan pemahaman akan pesan tersebut.

Itu sebabnya orang modern kini tidak lagi berbicara tentang “Biblia Pauperum”, melainkan juga bicara tentang “Biblia Fidelium”. Maksudnya ialah bahwa gambar-gambar itu (yang berfungsi sebagai biblia tadi) bisa juga berfungsi bagi umat beriman pada umumnya (fidelium) dan tidak hanya bagi yang buta huruf. Itu sebabnya kita dewasa ini tetap tertarik pada gambar-gambar itu. Tidak hanya tertarik saja, melainkan juga bisa menggali, merekonstruksi, menarik dan mengembangkan banyak pesan dan makna dari sana. Lukisan itu bagaikan tambang mineral, dari mana kaum beriman bisa masuk dan menggali hal-hal berharga bagi kehidupan mereka. Kita, orang modern bisa merenung berlama-lama di hadapan gambar, di hadapan ikon karena dari sana ada makna rohani yang luar biasa kaya.

Oleh: Fransiskus Borgias M.  
Dosen Teologi Biblika dan Peneliti Senior Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
×
Berita Terbaru Update