-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BURUH, PERJUANGAN KEMANUSIAAN, DAN GEREJA

Kamis, 30 April 2020 | 18:28 WIB Last Updated 2020-04-30T11:28:25Z
BURUH, PERJUANGAN KEMANUSIAAN, DAN GEREJA
Fransiskus Borgias 

Oleh: Fransiskus Borgias 
Dosen dan Peneliti Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung 

Beberapa tahun silam saya sering naik angkot dari Kebon Kalapa ke arah Cicaheum (Bandung) menuju kantor. Salah satu angkot punya moto menarik: Hidupku, Star Stir Stor. Menarik karena mengungkapkan perjuangan hidup dan “filsafat” sopir itu. Star berarti men-starter mobil lalu mulai membawa penumpang ke tujuan, dari terminal ke terminal, halte ke halte. Sopir-lah yang melakukan aksi star. Ia menguasai (belum tentu memiliki) alat star (kunci, mobil). Dialah subjek pelaku kata kerja star (pekerjaan). Sebagai subjek pelaku ia menguasai pekerjaannya. Ia profesional. Setelah mesin hidup, ia melakukan stir, menyetir, menjalankan, mengemudikan mobil. Di sini ia pun subjek kata kerja stir. Dialah pelaku pekerjaan stir. Ia tidak dapat mengalihkannya kepada orang lain. Ia menguasai kerjanya secara bertanggung-jawab. Ia menguasai medan. Akhirnya, star dan stir itu bermuara pada Stor. Ini tragisnya. Pada kata ketiga (stor), terjadi pembalikan total atas dua kata terdahulu (star, stir). Subjek kata kerja ketiga masih si sopir. Ia melakukan kerja ketiga, tetapi subjeknya bergeser. Sebab hasil akhir dari star dan stir diserahkan kepada boss. Sopir tidak memiliki apa-apa. Subjek pemilik (tujuan stor) ialah Boss. Sopir tidak menguasai hasil kerjanya. Jadi, posisi sebagai subjek yang dinikmati sopir dalam dua kerja terdahulu, menjadi hampa makna. Si sopir menjadi objek. Itulah tragika nasib pekerja kapan saja dan di mana saja. 

Kalau belakangan ini, buruh turun ke jalan untuk protes, saya kira itu terkait dengan fenomena terasing dari hasil kerja. Di sini saya sadar akan dua hal: Pertama, bahwa filsafat kerja Marx tidak mengawang. Bahwa ada sopir angkot yang bisa merumuskannya, adalah bukti bahwa konsep keterasingan itu adalah gejala sosial alamiah yang dapat diamati manusia kritis dan berani. Kedua, bahwa semua orang adalah filsuf. Bedanya, Marx sistematik, sedangkan sopir angkot spontan. 

Nasib inilah yang dilihat Marx, yang merumuskannya sebagai keterasingan (alienasi) buruh dari hasil kerja. Keterasingan ini merupakan salah satu dari tiga poin dalam fenomena keterasingan pekerja dari dirinya sendiri. Seharusnya pekerja bangga dan puas dengan hasil kerjanya. Seharusnya hasil kerjanya mencerminkan kecakapan kerjanya. Tetapi hasil kerja itu dicabut dari dia. Maka ia pun terasing dari tindakan bekerja itu. Inilah segi kedua dari keterasingan itu (von Magnis, 1999:95-96). Tetapi pekerja harus hidup. Maka ia harus terus bekerja agar tidak lapar dan mati. Di sini buruh memperalat diri sendiri. Inilah segi ketiga dari keterasingan itu. 

Salah satu penyebab alienasi hasil kerja dari pekerja ialah hak milik pribadi atas modal, filsafat dasar kapitalisme. Segelintir orang dapat menumpuk modal sehingga ia menguasai pasar, mengendalikan masyarakat dalam segala segi (politik, ekonomi, agama, ideologi, oleh Marx disebut superstruktur, “bangunan atas” dari masyarakat; “bangunan bawah”-nya ialah ekonomi, proses produksi, kerja, aktifitas). Jadi, titik awal eksploitasi ialah pemilikan dan penumpukan modal pada segelintir orang. Bertold Brecht, menyindir hal ini sbb: “Seorang yang kaya raya meninggal, hatinya gelisah karena penderitaan dalam dunia. Dalam surat wasiatnya ia mengkhususkan sejumlah besar uang untuk mendirikan sebuah lembaga yang akan menyelidiki sebab musabab penderitaan itu. Tentu saja, dia sendirilah sumber segala penderitaan itu” (K.Bertens, 1983: 176). Dalam kondisi seperti ini, pekerja mudah menjadi objek eksploitasi karena mereka tidak memiliki (tidak menguasai) modal. Inilah yang terjadi pada tragedi alienasi itu. 

Atas dasar ini Marx meramalkan bahwa bakal terjadi revolusi proletariat untuk menjungkalkan kaum kapitalis, merebut modal mereka, dan dengan itu dapat tercipta masyarakat baru tanpa kelas. Itulah cita-cita historis mereka. Revolusi ini bakal sangat keras, karena yang dilawan ialah penguasa. Bayangan akan hal itu terasa menakutkan. Revolusi ini didasarkan pada keyakinan bahwa masyarakat yang lebih baik hanya dapat dicapai melalui revolusi. 

Tidak adakah jalan keluar dari krisis ini? Ada: Jalan keluar ekonomis dan jalan keluar moral-teologis. Krisis itu dapat diredusir dengan filsafat pemilikan modal bersama, atau partisipasi buruh sebagai pemilik modal. Hal itu dapat terjadi lewat koperasi. Setidaknya hal ini dapat menciptakan “sense of belonging” yang kuat pada buruh bahwa sampai batas tertentu, perusahaan adalah “milik” mereka. Inilah fungsi dari “filsafat pemilikan bersama atas modal,” visi dasar koperasi. Dengan ini radikalisme buruh dapat berkurang. Dengan sistem pemilikan bersama, jaminan sosial dan upah buruh, bahkan status sosial buruh (faktor sosio-psikologis; bayangkan kalau buruh jadi stakeholders; rasa bangga seperti apa yang ditumbuhkan status seperti itu) dapat menjadi lebih tinggi. Jaminan sosial dan upah yang lebih tinggi secara psikologis dapat mengurangi keterasingan (alienasi) pekerja dan hasil kerja, dan juga mengurangi radikalisme proletariat. Inilah salah satu pukulan untuk Neo-marxis mazhab Frankfurt dengan Marx muda. Dengan ini terjadilah pemerataan kepemilikan modal. Diharapkan tidak akan terjadi penumpukan modal. Kalau ini terjadi, maka risiko ‘capital flight’ akan berkurang. 

Jalan keluar kedua ialah moral-teologis. Dalam tradisi ajaran sosial gereja Katolik, terkenallah kaidah indah sbb: berikan berdasarkan prinsip keadilan, apa yang hendak kamu berikan atas dasar prinsip cinta kasih (bdk. GS 69). Ilustrasinya sbb: Ada majikan kaya; punya perusahaan besar dengan banyak buruh. Perusahaannya mendapat keuntungan besar. Dalam hati ia berpikir: “Saya cukup memberi gaji buruh dengan Rp.20.” Padahal ia mampu memberi gaji Rp.40., perusahaan tetap untung, tetap punya dana investasi dan pengembangan usaha dan manajemen risiko. Tetap mampu bersaing. Ia berpikir: Nanti akhir tahun, saya beri bonus tiga kali gaji” (Rp.60.,). Di akhir tahun ia melakukan itu. Maka ia dipuji sebagai dermawan. Orang inilah yang menjalankan prinsip cintakasih tetapi melupakan prinsip keadilan. Kepada orang seperti inilah kaidah tadi berlaku: berilah sesuatu berdasarkan prinsip keadilan (upah Rp.60), apa yang hendak kamu berikan berdasarkan prinsip cintakasih (bonus 3 kali gaji di akhir tahun). 

Apa yang dapat dibuat Gereja? Gereja bisa belajar dari sejarah. Seiring dengan revolusi industri akhir abad 19, muncullah di Eropa kelompok baru dalam masyarakat yang tidak termasuk kategori sosial ala feodalisme abad pertengahan. Itulah buruh. Mereka bukan petani; bukan ‘buruh’ ala gilde-commune abad pertengahan. Mereka ada di luar kategori sosial; termasuk kategori umat (gereja). Untunglah, ada tokoh visioner, Leo XIII. Lewat ensikliknya Rerum novarum, ia merangkul buruh, agar tidak terasing dari gereja. Gereja merangkul mereka, sebagai domba yang hilang yang harus dicari dan diselamatkan. Mungkin ada risiko. Tetapi pastor bonus berani menempuh manajemen risiko. Saya kira model sikap historis-pastoral sudah jelas bagi gereja untuk mengambil sikap nyata dan kontekstual. Gereja tidak boleh menutup mata, sebab perjuangan membela buruh adalah perjuangan kemanusiaan. 
×
Berita Terbaru Update