-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Covid-19 (di) NTT di Antara Altruisme dan Banalitas Anak Nusa

Sabtu, 11 April 2020 | 07:18 WIB Last Updated 2020-04-11T00:19:50Z
Covid-19 (di) NTT di Antara Altruisme dan Banalitas Anak Nusa
Ilustrasi: kupang.tribuns

Oleh: Jondry Siki, CMF
(Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA, Kupang)

Seorang Youtuber asal NTT,  El Asamau  mengumumkan dirinya positif terpapar Virus Corona. Pengumuman ini dilakukan secara terbuka di laman akun youtube-nya ‘El Asamau Official’ pada tanggal 9 April 2020. Ia mengumumkan dirinya mendahului  pemerintah sehari sebelum diumumkan secara resmi. Yang menarik dari kasus pertama di NTT adalah   si pasien  dengan tegar  mengumumkan dirinya   tanpa cemas, gentar dan takut. Pengumuman ini sekaligus menjadikan NTT provinsi terakhir yang terpapar COVID 19 setelah Provinsi Gorontalo melalui Gubernur mengumumkan satu pasien terpapar COVID 19, pada hari yang sama. Dua provinsi tersisa ini; NTT dan Gorontalo menempati  posisi terakhir dari daftar semua provinsi di Indonesia yang terpapar Virus Corona. 

Kini saatnya   kita meninggalkan ruang diskusi COVID 19, baik di rumah, di kantor, di jalan-jalan, di FB, IG, WA maupun di Youtube. Saatnya kita memulai yang baru yakni  siapkan iman dan imun agar aman dalam menghadapi  gempuran musuh tak berwujud ini. Pembicaraan-pembicaraan tentang   COVID 19 ini sejatinya tidak hanya sampai pada narasi tetapi harus sampai pada aksi. Saatnya telah tiba untuk berbenah dan berjuang untuk mempertahankan provinsi ini dari penyebaran yang meluas sebagaimana yang terjadi di China, Eropa, Amerika Serikat dan Indonesia Barat. Penyakit ini telah menjejakkan diri di Nusa Tenggara Timur yang kapan saja bisa dipelesetkan menjadi Nanti Tuhan Tolong. Dan memang NTT telah menyatakan perang melawan COVID 19.

Hic Et Nunc

Kini dan di sini (Hic Et Nunc), di rumah kita sendiri bukan di rumah orang lain. Saatnya kita berperang melawan musuh tak berwajah yang telah tiba agar rumah kita tidak dijarah oleh cemar COVID 19 ini. Meskipun adanya keterlambatan dalam pengumuman pasien positif pertama, kita harus tetap tegar bahwa kita mampu berjuang melawannya. Memang miris dan menyedihkan bahwa adanya  keterlambatan pihak medis dalam memberi sampel darah untuk bisa diketahui oleh pasien. Sejak kembali dari Jakarta beliau langsung di Kupang dan mengisolasi diri. Namun ketika ia mendapat kabar bahwa temannya yang bersama-sama dengan dia di Jakarta positif terpapar virus Corona ia pun bergegas menuju rumah sakit daerah NTT ini untuk mengambil darah namun hasilnya baru ia dapatkan 20 hari kemudian. Memang suatu jangka waktu yang lama. Mari kita petik pelajarannya.

Pemberitaan tentang virus corona bukan lagi satu bahan lelucon untuk mengejek,  mencibir sambil mengatakan dalam hati bahwa  itukan di Jawa, masih jauh. Tidak! Prinsip ini salah sebagai komunitas bumi.  Kita tinggal di satu bumi yang sama berbelarasa dengan sesama manusia tidak ditakar dengan asal usul ras, bahasa dan agama. Belarasa sejatinya sudah harus lahir sejak pertama kali muncul di Wuhan, Cina. Akan tetapi kita terlena dan merasa itu tidak penting bagi hidup kita. Kini dan di sini (Hic et Nunc), telah ada di nusa kita, Nusa Tenggara Timur, bukan di benua lain seperti Eropa dan Amerika, bukan di negara lain seperti di China dan Malaysia, buka pula di Provinsi lain seperti di Jawa, Sumatera dan Sulawesi tetapi di sini di NTT, sekarang. 

Tangkal Mental Banalitas

Di tengah kecemasan dunia akibat COVID 19, mental banalitas masih membelit hidup harian kita. Mental banalitas adalah satu sikap di mana orang menganggap segala bentuk bencana, kesedihan dan penderitaan orang lain sebagai hal yang biasa-biasa saja. Jadi mental banal adalah suatu disposisi batin yang menganggap bencana sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Tentu mental ini membahayakan apalagi Provinsi kita sudah terpapar COVID 19.  Saatnya kita membangkitan semangat solidaritas dan menangkal sikap banalitas agar virus corona di NTT dapat ditangkis dan tidak dapat menyebar ke mana-mana. 

Kecemasan dunia saat ini tidak dapat dibendung lagi. Alih-alih, kejadian ini mengundang solidaritas berskala global agar kita semua bangkit dan keluar dari jajahan COVID 19 ini. Saat ini adalah kesempatan berahmat untuk menunjukan solidaritas kepada dunia dengan berdoa dan beraksi. Namun di tengah situasi dunia yang sedang mencekam, banyak di antara kita menganggap peristiwa duka ini hanyalah hal yang biasa-biasa saja. Berleha-leha, menikmati perjalanan jauh yang tidak penting dan menganggap tidak ada yang masalah. 

Kematian itu pasti tetapi kita tidak tahu kapan dan bagaimana kita mati. Jika ingin mati, silahkan mati untuk diri sendiri jangan membuat orang lain menderita dengan sikap banalitas.  Sejak pengumuman resmi pemerintah untuk menjalankan pembatas sosial berskala besar, banyak oknum agama merasa terlecehkan sebab tidak dapat menjalankan kewajiban agamanya dengan baik sesuai hukum yang dimiliki agama tersebut. Sikap ini adalah sikap teror dan mental pemberontak.  Dengan taat kepada anjuran pemerintah, kita telah satu langkah ke depan dalam  melindungi nusa dan bangsa serta putera-puterinya dari ancaman maut.

Mental banalitas masih cukup tinggi di NTT. Akan tetapi dengan adanya pasien pertama NTT yang terpapar ini boleh menjadi bahan permenungan agar kita segera menangkal sikap banal dan ikut ambil bagian dalam duka dan kecemasan global. Kini semua provinsi telah  terpapar tidak ada yang tersisa selain Tuhan.  Oleh sebab itu sikap banalitas yang masih subur di NTT, sejatinya segera dikuburkan bersama sikap-sikap masah bodoh lainya agar NTT tidak mengalami nasib serupa dengan provinsi dan negara lain. Sebab dana dan perlengkapan kita masih jauh dari memadai. Harus tetap patuhi instruksi pemerintah untuk menjaga jarak sosial dalam skala yang besar dan menghindari sejauh mungkin perjalanan yang tidak penting dan tetap berada di rumah.

Jalan raya kita masih  ramai, pusat-pusat perbelanjaan masih hiruk pikuk, tempat-tempat rekreasi tetap ramai seperti biasanya. Kita memang mengerti tetapi bersikap banal. Mari kita patahkan siklus tirani virus korona. Dan berusaha agar tidak jatuh terpapar dalam tirani banalitas dengan menganggap remeh peristiwa yang sedang terjadi di dunia saat ini. Saatnya kita bersatu dengan dunia dalam doa agar proses pengurangan dan penghilangan COVID 19 segera tercapai.

Altruisme Anak Nusa

Sikap belarasa dan empati terhadap kemanusiaan sejatinya tidak tersekat pada sesama saudara kita yang sepulau, sebahasa, serumah adat, sekabupaten dan seprovinsi tetapi sikap belarasa harus menjangkau hingga level semesta. Ibu pertiwi yang sedang kita tempati kini sedang bersusah hati, air matanya berlinang menyaksikan kematian tanpa rencana, penguburan tanpa seremoni, perpisahan dengan sanak saudara dan keluarga. Ini suatu kisah yang pilu.

Sikap altrusitik adalah etika bumi yang paling mendalam dan sangat mahal harganya. COVID 19 yang telah tiba di nusa kita sejatinya harus semakin menyuburkan semangat altruisme kita dalam saling mendukung dan mendoakan agar pandemi ini tidak menyebar ke mana-mana. Gagasan Altruisme pertama kali ditemukan oleh Auguste Comte, Sosiolog  Jerman untuk menunjukan solidaritas kepada sesama manusia. Kata Altruisme sendiri berasal dari kata Latin “Alter” artinya “yang lain”. Sehingga kita sering kali mendegar istilah “alter ego”, aku yang lain. Paham altruistik adalah satu paham yang berusaha untuk memperjuangkan kehidupan orang lain, tanpa mengutamakan kepentinga diri sendiri.

NTT, kini saatnya membangunkan dan membangkitkan semangat Altruisme dalam batin untuk bersama-sama memerangi COVID 19, yang telah berada di ambang rumah kita. Kita patut melakukan dan mengikuti semua anjuran pemerintah, periksa kesehatan ke rumah sakit, menjauhi kerumunan massa, dan selalu menjaga pola hidup yang sehat. Anjuran untuk tinggal di rumah bukan suatu lelucon yang harus ditertawakan dan bukan suatu kekang yang harus dilawan. Ini adalah soal kehidupan dan untuk beraktivitas di luar rumah harus sungguh mendesak yang berhubungan dengan hal-hal vital manusia. Kita tidak ingin agar provinsi kita hancur babak belur seperi di Eropa dan Amerika saat ini. Tuhan Tolong NTT. Amin.
×
Berita Terbaru Update