-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

COVID 19: Di Persimpangan Iman dan Kearifan Lokal (Tinjauan Filosifis Kulturalis Penangkalan COVID 19)

Sabtu, 04 April 2020 | 09:54 WIB Last Updated 2020-04-04T03:08:55Z
COVID 19: Di Persimpangan Iman dan Kearifan Lokal (Tinjauan Filosifis Kulturalis Penangkalan COVID 19)
Ilustrasi: esquiremag

Oleh Jondry Siki, CMF
(Mahasiswa Fakultas Filsafat, UNWIRA Kupang)

COVID 19 telah menjarah 203 negara di dunia dengan total kasus sementara 1.018.948 per 3 April 2020. Sungguh angka yang fantastis. Sementara kasus COVID 19 Indonesia mencapai 1.986. angka-angka ini adalah angka horor yang tengah menghantui dunia alih-alih peniadaan perayaan besar agama pun dilakukan bukan tanpa alasan. Keselamatan umat manusia menjadi hukum tertinggi. Dunia telah berjuang sekuat tenaga untuk membasmi musuh yang tak berwujud. Musuh ini telah melumpuhkan segala aspek kehidupan manusia terlebih dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Cerita horor COVID 19 entah sampai kapan akan berakhir, kita sampai saat ini hanya bertanya-tanya. Duka dunia saat ini adalah nestapa besar yang pernah ada dalam sejarah dunia modern. Kematian yang terjadi tanpa persiapan membuat banyak negara dunia lockdown dan social distance untuk menangkal laju pertumbuhan COVID 19. Kematian pun meningkat setiap hari.  Bala tentara COVID 19 seolah sedang berjaya sekarang dan di sini.

COVID 19; Gerakan Kembali ke Alam

Seorang Filsuf (Pemikir Modern) Prancis Jean Rousseau, mengemukakan pendapatnya dalam karya Retour a la Nature, atau kembali ke alam. Pemikiran ini dilatarbelakangi keabsolutan raja-raja  Prancis di mana ia dengan tegas menolak segala bentuk ilmu pengetahuan dan kesenian dari pihak pemerintahan dan agama yang telah tercemar oleh kepentingan pribadi untuk menguasai orang lain. Gerakan kembali ke alam merupakan satu bentuk protes senyap atas cara hidup yang salah akibat ideologi dan paham-paham yang salah dari pemerintah kala itu. Gerakan kembali ke alam adalah ajakan untuk kembali menyadari diri bahwa manusia adalah bagian dari alam oleh sebab itu persatuan manusia dengan alam harus dijaga dan dijamin.

Manusia sebagai bagian dari alam harus tetap menjaga keselarasan dengan alam dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhannya. Manusia tidak bisa dengan kemampuan teknologi merusak alam demi keserakah pribadinya. Mahatma Gandhi pernah berujar bahwa, bumi kita hanya satu dan ia menyediakan kekayaan alam yang  cukup untuk semua orang tetapi tidak cukup untuk keserakahan setiap orang. Dalam pandangan ini kita boleh menarik benang merah terkait situasi dunia kita saat ini yang sedang tercemar oleh COVID 19.

Ketika dunia mengunci diri dari serangan COVID 19, mereka yang tinggal di alam adalah orang yang paling bebas sebab, semua kebutuhan sudah tersedia di alam. Banyak orang hidup dalam satu budaya pabrikasi dalam daya produksi yang besar. Ketika banyak pabrik yang tutup dan persediaan makanan terbatas, kelaparan melanda. Jauh sebelum COVID 19 mengamuk, pemikir Prancis ini telah menganjurkan untuk hidup selaras dengan alam dan ini kita temukan dalam kearifan lokal kita.

Kearifan Lokal Tapoin Maputu Ma Malala

Kearifan Lokal masyarakat adat Bikomi, Tapoin Maputu Ma Malala adalah salah satu warisan budaya yang masih terjaga hingga kini. Tradisi Tapoin Maputu Ma Malala  merupakan tradisi pembersihan kampung dari segala mara bahaya. Terjemahan harafianya adalah membasmi hawa panas dan kegerahan. Sejak tanggal 22 Maret 2020 lalu, para tetua adat Napan, Bikomi Utara, TTU memulai ritual Tapoin Maputu Ma Malala. Para tua adat berkumpul untuk meminta bantuan para leluhur dalam menghalau segala angin jahat yang sedang menjarah dunia saat ini. Ritual pembersihan ini dimaksudkan untuk membebaskan bumi dari ancaman yang bisa mematikan. Dan doa wujud utama adalah untuk menangkal COVID 19.

Masyarakat Bikomi Utara sebagai garda terdepan dalam menangkal COVID 19, tidak hanya dilakukan secara religius tetapi juga dengan kearifan lokal. Mengingat Napan, Bikomi Utara merupakan daerah perbatas dengan Timor Leste mempunyai potensi yang besar untuk terpapar COVID 19. Sebagai bentuk tanggung jawab negara, maka pintu perbatasan telah ditutup untuk perlintasan dua negara, hingga situasi darurat COVID 19 berakhir. Tentu keselamatan umat manusia bukan hanya tanggung jawab agama dan negara tetapi semua elemen masyarakat pun turut mengambil bagian di dalam upaya penyelamatan manusia.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan kearifan lokal setiap daerah. Kekayaan tradisi Indonesia tidak hanya terbatas pada rumah adat, tarian daerah, nyanyian daerah dan pakaian adat. Jauh melampaui itu, setiap budaya di Indonesia menyimpan kekayaan kearifan lokal yang tidak kita temukan di tempat lain. Kisah horor COVID 19 bukan lagi berita di tempat nun jauh tetapi sedang kita alami dan kita tumpas. Beberapa daerah di Indonesia pun menggelar ritual adat guna menangkal COVID 19. Indonesia adalah bangsa yang berbudaya. Kebuadayaan adalah jiwa kita yang harus dijaga.

Selain Masyarakat adat Napan Bikomi utara, adapun beberapa suku bangsa di Nusantara seperti Masyarakat adat Meybrat Papua Barat, Masyarakat Adat Lembata, Masyarakat adat Bali, Masyarakat adat Mamasa,  Sulawesi Barat, Masyarakat Adat Malaka,  Masyarakat adat Banyumas, Jawa Timur dan Masyarakat adat Sikka, NTT  pun mengelar ritual adat guna menangkal pandemi COVID 19. Upaya ini dilakukan untuk membantu pemerintah dan agama dalam menangkal pandemi COVID 19.

Iman dan Kearifan Lokal Sarana Keselamatan Manusia 

Iman dan adat bukanlah dua hal yang bertentangan. Dalam situasi perang melawan COVID 19, baik iman maupun adat adalah ibarat pedang bermata dua. Tujuan kedua institusi ini adalah untuk mencapai kesejahteraan umum dalam menghadapi pandemi COVID 19. Gereja menghormati kearifan lokal setiap budaya sebab keduanya sedang memperjuangkan keselamatan umat manusia. Sebagai satu istitusi non formal telah ada sejak dahulu pun mengambil andil dalam upaya penangkalan COVID 19. Kearifan lokal setiap daerah adalah kekayaan dan senjata untuk melawan musuh yang tak berwajah. COVID 19 yang sedang dihadapi dunia adalah musuh yang membunuh raga. 

Mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Redemtoris Missio, menjelaskan pewartaan kabar baik kepada budaya-budaya di seluruh dunia. Budaya-budaya harus dibaharui di dalam Kristus. Berhadapan dengan situasi dunia kita saat ini, Gereja dan budaya berjalan bersama guna mewujudkan keselamatan umat manusia. Gereja menghormati budaya-budaya yang pro kehidupan sebab dijalankan dalam semangat iman Kristiani. Tradisi Tapoin Maputu Ma Malala adalah tradisi yang pro kehidupan yang  telah diwariskan turun-temurun guna menjaga keseimbangan dan keutuhan kehidupan. Gereja sebagai medium pewartaan Injil kehidupan (Evangelium Vitae)  menghormati budaya yang memperjuangkan kehidupan.
×
Berita Terbaru Update