-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Covid 19 Menginstal Revolusi 4.0

Sabtu, 25 April 2020 | 18:52 WIB Last Updated 2020-04-25T11:52:37Z
Covid 19 Menginstal Revolusi 4.0
P. Tarsy Asmat, MSF

Saya sedikit takut dengan pikiran saya sendiri. Saya selalu berpikir sistem kehidupan di dunia ini digerakan oleh sekelompok orang yang menghendaki perubahan dan mereka adalah kelas penguasa emas dunia. Saya sedikit ilusif, tetapi saya menulis ilusi ini agar kepenatan sedikit longgar dari kesumpekan batang otak saya bekerja.

Dalam pemikiran Gidden, kita semua adalah subjek yang sadar dan berasionalisasi atas tindakan kita. Karena itu tindakan kita selalu beralasan, punya tujuan dan maksud. Bahkan ia mengatakan kita semua adalah kritikus sosial sebenarnya. Sayapun adalah kritikus kecil dalam superstruktur sosial.

Takut pasti kita semua memilikinya. Kita takut mati terkena virus corana. Ya moral kehidupan memang memperjuangkan kehidupan itu sendiri. Maka kita tidak boleh mati sia-sia oleh virus yang bisa kita hindari.Sesungguhnya terlihat bodoh dan dungu yang mau mati sia-sia!

Semoga kita terhindar dari virus ini. Namun perlu saya teruskan sebagai masyarakat modern kita diajak untuk menjadi orang yang sadar resiko. Resiko apa?

Resiko yang dibawa oleh virus ini, bukan hanya kematian tetapi barangkali revolusi sosial atau perubahan sosial. Perubahan sosial bisa didefinisikan perubahan sistem, nilai, pola pikir dan prilaku masyarakat.

Perubahan sosial terjadi baik oleh kehendak dari dalam masyarakat itu sendiri maupun oleh paksaan dari luar misalnya oleh wabah covid 19. Kamu dipaksanya berubah dan tidak main-main, nyawa kita taruhannya.

Sistem kehidupan rutin kita seakan dicabut dari kemewaktuan dan ruang dan ditempatkan dalam sebuah kotak, dimana waktu dan ruang itu menjadi relatif. Kehidupan tetap bergerak meskipun kita lockdown, sebab di kampung global, digitalisasi kehidupan, tempat paling nyaman dari serangan dan ancaman covid 19, sistem kehidupan tetap bekerja.

Nah, jika kita berhenti pada upaya meluputkan diri dari infeksi virus, kita bisa gagap kedepannya. Kita bisa tertinggal dan selalu tergopoh-gopoh dan ngos-ngosan dengan berbagai perubahan.

Jika perubahan masyarakat diubah oleh politik atau oleh teknologi seringkali terjadi dialektika yang ketat beserta dengan ketegangannya. Tetapi virus corona tidak memberi celah untuk kajian etis dan moral. Kita diajak untuk merenung dan memaksa diri berubah.

Kadang saya berpikir, apakah ada korelasi antara revolusi 4.0 dengan covid 19. Saya tidak berprasangka naif, karena keterbatasan akses untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi sedikit mengejutkan, untuk menginstalasi revolusi 4.0, seakan covid 19 sebagai software merekayasa masyarakat agar revolusi 4.0 dengan kecerdasan buatannya berjalan.

Namun lebih baik kita berpikir positif. Misalnya apa yang anda lakukan jika lockdown berkepanjangan? Apakah anda berpikir untuk memanfaatkan perkarangan rumah anda untuk menanam ubi atau terus membaca berapa korban covid 19 hari ini dan besoknya lagi berpikir tentang hal yang sama?

Berpikirlah juga kalau model pendidikan berubah, apa yang anda lakukan? Apakah pendidikan anak anda, anda serahkan sepenuhnya pada lembaga formal pendidikan, ataukah anda mulai belajar menjadi guru untuk anak anda?

Bagaimana kalau bekerja, berdoa dari rumah, apa yang anda lakukan? Apa yang terjadi di tengah masyarakat? Lalu apa solusi kita?

Kita barangkali berpikir bahwa dengan teknologi, kehidupan makin baik. Oh tidak sesederhana itu. Sistem kehidupan makin kompleks. Sistem kerja manusia juga makin tidak sederhana. Anda harus bersahabat dengan kecerdasan buatan, kalau bukan anda, ya anak anda. Anda harus adaptatif.

Covid 19 mempromosikan revolusi 4.0. Kita diajak bekerja dengan sistem 4.0. Begitu juga sikap dan pola pikir masyarakat. Kepedulian pada kesehatan dan tanggungjawab pada pendidikan diedukasi oleh covid 19.

Ya, kalau begitu jangan hanya fokus pada virusnya, tetapi setelah virus berlalu, apa perubahan yang ditinggalkan? Bagaimana dengan hidup anda, pendidikan anak-anak, cara kerja kita?

Kita diajak berlompat-lompat dalam sebuah revolusi yang barangkali tidak kita rencanakan. Jangan tercengang!

Oleh: P. Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update