-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Demi Keberpihakan: Itulah Jawabannya

Rabu, 22 April 2020 | 03:06 WIB Last Updated 2020-04-21T20:06:56Z
Demi Keberpihakan: Itulah Jawabannya
Pater Tuan Kopong, MSF

Banyak orang bertanya baik secara langsung ataupun melalui pesan via mesenger; “kenapa kok jenggot dibiarkan”? Apa sudah gak ada dan sudah gak bisa beli alag cukur lagi? Bahkan ada yang langsung meminta saya untuk segera mencukur jenggot saya. “Cukur itu jenggotmu!”

Atas setiap pertanyaan maupun permintaan tersebut kutanggapi dengan canda, “ah biar aja, tapi masih ganteng khan” hehehe. Ya, baik pertanyaan maupun permintaan saya patut berterimakasih karena itu adalah bentuk dukungan dan perhatian buat saya.

Namun lebih dari itu, saya hendak memberikan penjelasan untuk semua agar bisa memahami alasan mengapa saya akhirnya “terpaksa” membiarkan jenggot dan rambut saya tumbuh subur menghiasi wajah dan kepalaku.

Jujur bahwa saya juga risih sendiri, bahkan merasa panas. Tapi seperti yang selalu saya katakan bahwa berhadapan dengan covid 2019, KEMANUSIAAN DAN CINTA SERTA PENGORBANAN DIUJI.

Sejak 13 Maret, beberapa mall dan supermarket seperti alfa mart, kalau di sini puregold dan ultra mega serta seven eleven memang buka namun ada jadwal hari dan jam serta hanya melayani belanja kebutuhan rumah tangga yaitu makanan.

Demi kebutuhan rumah tangga, mereka harus bangun jam 4 atau 5 subuh untuk antri dengan jarak antri 1 sampai 1,5 meter. Meskipun subuh sudah di depan pintu mall atau supermarket, sekitar jam 10 atau jam 12 siang mereka baru bisa pulang ke rumah. Sedangkan ada mall dan supermarket di wilayah saya bukanya jam 9-2, tutup lalu buka lagi jam 3-7.30 malam. Itupun ada yang tidak kebagian membeli. Artinya harus kembali lagi keesokan harinya.

Dan untuk belanja bukan beramai-ramai, tetapi satu keluar, satu orang masuk dan belanjanya pun tidak borongan. List belanja selalu dicek oleh security dan selalu mengikuti protokol pemeriksaan covid 2019.

Memang banyak umat bahkan meminta saya untuk pergi dan meminta ijin pada kelurahan dengan alasan saya imam sehingga pasti dipermudah dan didahulukan. Namun saya tidak mau. Saya selalu beralasan; imamat saya bukan untuk memonopoli kepentingan orang lain yang lebih penting dan mendesak. Imamat saya bukan untuk diri saya sendiri tetapi pertama dan utama adalah untuk orang lain.

Atas kondisi dan keprihatinan yang saya alami dan rasakan demikian juga yang dialami dan dirasakan oleh umat dan masyarakat, saya tidak mau menghalangi kepentingan mereka yang lebih besar dan mendesak demi kepentingan pribadi saya yang tidak terlalu penting dan mendesak.

Saya mengatakan kepada mereka bahwa; saya tidak hanya menambah derita dan beban hidup mereka hanya karena sebuah alat cukur. Karena saya tahu bahwa jika saya ke sana meski saya terlambat datang, sayang pasti didahulukan hanya karena imam dan meski bukan kebutuhan makanan yang saya beli pasti diijinkan karena saya imam.

Dan itu yang saya tidak mau, jika imamat saya justru memberikan diskriminasi bagi kepentingan pribadi saya dengan mengorbankan kepentingan umat dan masyarakat yang lebih penting dan mendesak.

Saya tidak mau hanya karena sebuah alat cukur; nurani kemanusiaan dan solidaritas saya justru terbunuh. Karena covid 2019 adalah ujian bagi KEMANUSIAAN DAN SOLIDARITAS saya meski pada hal yang sederhana yaitu sebuah alat cukur.

Membiarkan jenggot dan rambut tumbuh panjang adalah jawaban dan bagian dari kemanusiaan dan solidaritas saya. Salam.

Manila: 21 April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update