-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Di Bawah Kolong Meja (Cerpen Chan Setu)

Selasa, 28 April 2020 | 11:35 WIB Last Updated 2020-04-28T04:35:44Z
Di Bawah Kolong Meja (Cerpen Chan Setu)
Chan Setu

Oleh: Chan Setu

Di bawah kolong meja, kau dan aku tidak saling berkata-kata. Membiarkan diam dalam diam yang panjang. Kita saling melupakan rutinitas dan berpikir ini yang terbaik. Sejak sejam yang lalu kita berdiam di bawah kolong meja. Dengan lupa Pak. Tommy, guru Ilmu Pengetahuan Sosial kita telah lama duduk menatap dua bangku kosong yang di atasnya tanpa buku dan pena. Mungkinkah itu bangku kita berdua? 

Siapa namamu? Kau menanyakan namaku dengan bisu kuanggukkan tanpa benar-benar menjawabnya. Di luar sana, ada tiang tinggi dan panjang menjelma angan dan matamu menatap khayal begitu jauh. Kau seperti mengantungkan mimpi begitu tinggi dan aku melihat tiang itu dengan hampa dan nanar. Aku terkesima pada cerita nenek dan kakekku soal sejarah yang mengebor-ngebur hingga merah itu melayang di dada dan putihnya bersinar terang benderang di hati. Sejak kau berkhayal, kupanjatkan doa dengan harap lonceng tua yang telah sekian tahun itu lupa berdering. Kau tahu, aku tak ingin menjawab satu pun pembicaraanmu. Mungkin kau ingin tahu alasannya. Sederhana saja, kita tak pantas untuk saling kenal. Kau terlahir di atas kasur dengan pernak-pernik bayi layaknya manusia normal yang dilahirkan. Aku tak tahu siapa ibuku dan siapa ayahku yang bahkan aku tak yakin aku pernah menghendakki agar terjadi pembuahan atas diriku. Aku lahir di tanah dengan ibu yang lazim menjerit. Saat aku terlahir, ibuku sedang menangis. Air matanya deras-jatuh dan ia melakukan percintaan kembali bahkan di saat adik-adikku dilahirkan ibuku mesra memadukan kasih dengan kekasih fajar, petang, senja dan malamnya. Ya, sesuai keinginannya untuk membesuk dan berpamitan dengan kata "sampai jumpa, semoga di lain waktu kita baik-baik saja"

Di bawah kolong meja ini, kau dan aku duduk bersembunyi. "Siapa namamu?" tanyamu kedua kali. Tak bisa kujawab. Gaduh bisa menjadi malapetaka bagi kita. Mungkin alasan yang tak masuk akal. Berapa lama lagi kita mencatat? Kau masih sempat mencatatnya. Kukira kau menulis tentang cerita kita siang ini. Baiklah, kau tahu tak ada satu pun teman-teman kita yang pergi ke toilet toh di toilet si penjaga toilet lupa mengisi air di bak-bak panjang tempat air dan kecorokkan berpulang. Lebih dari itu, di atas meja Ibu Ranny, guru Ilmu Pengetahuan Alam kita sedang berbincang seputar olimpiade. Kau ingin jadi salah satu pesertannya? Jika iya, maaf aku tak ingin kau mengulurkan tangan nanti kau membawaku keluar dan aku takut pada diriku sendiri. Tunggulah, sebentar lagi lonceng berdenting.

"Siapa Namamu?"

Di bawah kolong meja itu, kau tahu aku tak pernah ada. Dan cerita tentang kau dan aku sejenis imajinasi si bocah yang ingin mencari dunianya dalam keiseng-isengan panjang. Dan untuk ketiga kalinya kau menanyakan "siapa namaku?" Aku tak tahu siapa namaku. Coba kau tanyakan pada kertasmu dan tinggalkan padanya. Siapa namaku. Mungkin dia menjawab sambil berteriak dan lari Erna, bingo.

Kau tahu di bawah kolong meja kau dan aku seperti cerita permainan petak umpet yang diciptakan dalam karikatur si Reno. Bocah kecil yang begitu nakal dan jentil.
Terima kasih.

Nita Pleat, 28 April 2020.

 Tentang Penulis

Chan Setu merupakan mahasiswa semester IV di STFK Ledalero. Saat ini beliau menetap di Wisma Arnoldus Nita Pleat Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. Menyukai kopi pa’it. 

×
Berita Terbaru Update