-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Di Sepanjang Jalanmu, Petuah untuk Sang Pejuang, Senja di Kampung Tua

Selasa, 07 April 2020 | 18:54 WIB Last Updated 2020-04-07T11:54:30Z
Di  Sepanjang Jalanmu, Petuah untuk Sang Pejuang, Senja di Kampung Tua
Ilustrasi: stokwallpaper

Senja di Kampung Tua

Bola mentari melaju
begitu santai seraya mencium lidah-lidah awan. 
Burung-burung menari pada bias-bias
tubuhnya yang jingga. Ada barisan remaja 
dan anak sedang membahasakan dunianya,
sedang orangtua berceloteh 
tentang musim yang tak berirama
dan hasil panen yang tak bersahabat. 
Ada rembulan yang mengintip dari seberang timur 
sambil menanti telapak-telapak itu berarak 
menuju daun-daun pintu rumah. 
sebentar lagi malam akan mengajak tidur 
seribu bahasa hidup hari ini. 
Ada narasi nenek moyang yang hendak 
menemuinya dalam mimpi 
dan merasukkan tubuhnya buah-buah kearifan tua 
yang semula ada tapi diam-diam bersembunyi 
di balik kampung itu.
Saat ini.

Di  Sepanjang Jalanmu

Tak terjangkau bilangan
langkah-langkah lugu, debu kusam dan rumput
berlalu di sepanjang jalan itu
kau berjalan bersama bayangan yang sesekali
ingin mendahului dan menusukmu dari belakang
[matahari pun tak peduli].
Pernahkah kau bertanya tentang dirimu
tentang alasan, tujuan, atau rindu dan nafsu 
yang bersemi di sepanjang jenjang 
musim dan segala tentang hidup?
Hei! bisakah kau toleh sebentar?
lihat masa lalu dan kisah yang rimbun
kini menjadi arca yang ingin bercerita:
tentang rumput mati, 
debu yang kaku 
dan matahari abadi 
yang ingin mengeja narasi tuamu sebentar saja,
tentang puing-puing cerita  
dan jemari yang membentuk rupamu yang sedemikian itu.
Sejenaklah berhenti bersama bayanganmu
tuk memikirkan seribu kali lagi 
cerita fana yang hendak kau toreh:
membahasakan diri dalam dunia yang absurd
dan memahat paras tanpa rupa masa lalu.
Kembalilah kepada awal ziarahmu
kepada debu kaku
rumput mati 
dan matahari yang abadi,
permulaan yang pernah membuatmu ada.

Sajak Untuk Ayah

Ini sajakku
kusuguhkan bagimu seorang di sana
yang masih bermain-main   
bersama sejuta butir debu di arenamu

Ini sajakku
semangat baru bagi engkau yang bergeming 
pada badai musim 
terus mengais dan mengurai setiap gumpal harapan
meski kulit terus beradu derai keringat

Ini sajakku
laksana secangkir kopi suguhan mama 
coba membasahi padang dahagamu

Ini sajakku
yang mengajak mentari tuk berhenti
mencium kulit kasarmu itu
merayu butir-butir hujan tuk berhenti 
membasahi kujurmu

Ini sajak, kulkulah indahku
sudi silih semua lumang-belumang
yang terlampau nikmat berpora pada tubuhmu

Ini sajakku
pengiring setiap rentetan langkahmu
keluar
lalu masuk
lagi di gelanggang pertempuranmu

Ini sajak pelipur lara
bagi dikau yang mungkin kalah
bertempur dengan sekam tajam dalam 
semak belukar hidupmu

Ini sajak
dari jari yang belum ternodai
bagi telapak yang tergores sedemikian itu
hanya untukmu
emas-permata hatiku,
ayah.

Petuah untuk Sang Pejuang

Hidup tak sedikit pun menuntutmu bertanya perihal esensinya
cukuplah bila kaurenung segudang makna dalam rahimnya

Hidup tak sedikitpun berbicara perihal esok hari
selagi ia masih terbungkus dalam ranah misteri

Saat ini engkau boleh bermanja 
di atas kursimu yang jaya

Tapi hanya satu yang pasti: hidup sesewaktu dapat merebutnya
kembali engkau pun harus berjuang mempertahankannya

Hidup takkan pernah berjuang agar kau dapat hidup
engkau yang harus berjuang agar hidupmu hidup
Hidup tak pernah sudi menjadi sekedar cerita
yang boleh kau lupakan begitu saja

Ia hanya mau menjadi setumpuk persoalan
yang harus kau pecahkan

Hidup itu sebuah bentangan jalan dengan sejuta ranjau 
itu memberimu isyarat agar kaupacu nyalimu

Sederet langkahmu harus menyisakan jejak
biar bekasmu disaksikan para pengikutmu kelak
Bawalah cita muliamu serta
lampaui sejuta gulungan ombak di samudera

Biarkan bukti murni tertoreh di seberang pulau
bahwa aral dan rintang takluk di bawah telapakmu

Kematian 

Bahkan genangan air pun, hanya membisu
pada mentari yang membunuhnya
lalu membusuk dalam waktu.

Seketika bayangan membawamu 
pada sepatah pesan singkat
yang pernah kau temukan di atas kuburan
“Hari ini aku, esok giliranmu.”

Oleh: Petrus Nandi
Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero Maumere- NTT. Bergiat di Komunitas Sastra Jarum Scalabrini. Puisi-puisinya dimuat pada koran-koran lokal NTT dan beberapa media daring serta antologi puisi bersama. Saat ini, ia sedang merencanakan penerbitan buku perdananya. Petrus dapat dihubungi melalui surel: petrusnandi18@gmail.com.
×
Berita Terbaru Update