-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dimentasi Waktu (Dalam Keterbatasanku, Aku Yakin Masih Mampu Mencintaimu)

Jumat, 03 April 2020 | 10:30 WIB Last Updated 2020-04-03T03:30:55Z
Dimentasi Waktu (Dalam Keterbatasanku, Aku Yakin  Masih Mampu Mencintaimu)
Fergi Darut

Aku mulai gila dan mimpi akan berakhir. Pertempuran pada akhirnya kelelahan masa lalu tempat kamu memilih untuk pergi. Aku menjadi pecandu rindu yang terlalu banyak berlarut-larut-tempat segala kenangan membicarakan sejarah. Seakan-akan suara semakin lemah untuk membuktikan aku masih mampu membahagiakanmu. Atau mungkin karena waktu telah menguasai situasi, mengembalikan kamu pada cerita masa kanak-kanak yang bisa saja menyembunyikan segala keindahan.

Aku bisa saja  membaca alur pikiranmu. Mencintaimu dengan caraku - memintamu untuk terus memuja rembulan pada cermin yang memampukanmu terluka, terluka dari caraku bahkan terluka dari mencintaiku. Namun, bukan itulah siklus dari mencintai. Bagiku mencintaimu adalah sesederhana mengubah segala sesuatu menjadi bahagia. Menikmati suka-duka, tertawa bersama-sama, menangis bersama-sama, bahkan menyesal pun bersama-sama. 

Harus kuakui bahwa dulu aku suka menatap matamu. Menemukan kekedalaman mencintaimu tanpa pernah berpikir ‘ karena. ‘karena’ kamu……..  maka aku pun mencintaimu. Sebab aku bukan seorang pengecut, kalah tanpa sebuah perjuangan. 

Hingga suatu malam, masih hangat dalam ingatanku engkau duduk dan menangis di sampingku. Membangunkan seluruh tanda tanyaku selama ini dari caramu menjaga dan merawat cintaku. Apa mungkin kamu menderita karena mencintaiku? Apa aku belum terlalu cukup membuat engkau bahagia? Dan di bagian akhir tangisanmu, engkau memilih pergi. 

Setelah kepergianmu malam itu, kotaku selalu dilandai gerimis. Wajahmu tak pernah hilang dari segala perhatianku. Jantungku berdetak atas namamu. Kemungkinan terbesar kamu adalah  pemilik dari segala pikiranku. Sementara rindu dan rasamu bersembunyi di balik topeng, seakan-akan semuanya baik-baik saja. Hingga tanpa permisi, pada segala yang merangkak maju, kamu memilih pergi. Yang tertinggal hanya sejuta kenangan-membeku dalam ruang dan waktu. 

Segalanya begitu cepat dan mungkin sedikit tergesa-gesa tanpa sebuah kesempatan untuk berterus terang. Apa mungkin kita tidak dilahirkan kembali untuk bersatu? Segala yang pernah menjadi pelangi membusuk, membunuh raga, mengenyah suara, menendang jiwa dan memandang luka. Kau pun pamit-mengambil langkah yang berani. Padahal aku selalu berjuang supaya engkau tidak pamit dari rinduku, tidak pergi dari doaku dan tidak tenggelam dalam masa laluku. 

Namun, jika cara berpikirku masih terlalu primitif atas nama sebuah kehilangan, keiklasan bukan lagi satu-satu jawaban yang terbaik ada padaku. Sebab banyak orang mengatakan bahwa semua kisah cinta tiada bedanya. Mungkin yang berbeda hanya caraku dan caramu memperlakukan cinta. Maka sudah selayaknya engkau pergi, asalkan engkau tidak lupa jalan pulang. Menemukan kembali rasa yang sudah lama hilang, melupakan segala yang pernah terluka, dan memercayai kembali segala mimpi yang pernah terpatri dari diri. semoga pada rasa yang sama suatu hari nanti engkau membangunkan mimpi pada tiang-tiang kebenaran dari perasaan memiliki. Sebab tak pantas bagiku melihatmu terluka dari setiap alasan untuk mempertahankanku. Dan tak ada yang perlu dibayar dari diam-diam menatapmu berlayar memainkan peran di masa depanmu, selain perasaan rela. 

Oleh: Fergi Darut
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Sekarang beliau tinggal di unit Mikhael-Ledalero.
×
Berita Terbaru Update