-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Epistola dan Pistol

Kamis, 02 April 2020 | 06:05 WIB Last Updated 2020-04-01T23:07:19Z
Epistola dan Pistol
(Ilustrasi; aepistolla)

Sekitar tahun 1960an pater Voyenciak, svd menghimpun para guru agama di wilayah paroki Borong. Ketika itu paroki Borong mencakup hampir semua paroki di Manggarai Timur, sangat luas.

Guru agama yang hadir dalam pertemuan ini lumayan banyak, terdiri dari dua kelompok besar yakni senior dan yunior. Guru agama senior lumayan pengalaman dan pengetahuannya. Sedangkan yang yunior rata-rata masih penyesuaian dengan tugas baru. Kelompok terakhir ini memilih duduk di belakang agak jauh dari Pater. 

Dalam pertemuan itu pater menyampaikan kabar baik. Setiap guru agama akan diberi 'Epistola'. Guru agama senior yang duduk paling depan menyambut berita ini dengan senang hati dan penuh harapan. Guru agama yunior juga bersemangat menyambut  janji pater Voyen ini dan menaruh harapan. Suasana di banggku deret belakang agak riuh, ada bisik-bisik ceria pada wajah guru agama yunior.

Selang beberapa minggu para guru agama ini dipanggil ke kantor polisi. Desas desus sampai ke telinga polisi kalau pater voyen akan membagi 'pistol' kepada guru-guru agama. Satu demi satu guru agama ini diinterogasi oleh polisi. Guru agama senior mengatakan yang dijanjikan Pater adalah Epistola. Tapi guru agama yunior dengan jujur mengatakan, benar kalau mereka dijanjikan pistol. 

Selesai interogasi para guru agama ditahan selama hampir seminggu. Berita tentang ditahannya para guru agama didengar pater Voyen dan tidak lama berselang dia sudah menuju kantor polisi.

Kepada bapak polisi beliau menjelaskan, sebagai pastor dia tidak punya pistol, yang ada padanya cuma epistola. Bapak polisi kelihatan bingung karena tidak mengerti apa itu epistola. Lalu pater menjelaskan bahwa epistola itu 'surak injil'. Polisi tersenyum lalu melepaskan semua guru agama. Kepada guru agama yunior dijelaskan apa itu epistola. Benar, Epistola itu senjata. Namun  bukan sejenis senjata organik untuk mematahkan dan mematikan musuh, melainkan senjata rohani untuk membentengi diri dari serangan kuasa dan kekuatan dosa serta roh jahat.  

Para guru agama pulang ke rumah masing-masing. Saat perayaan minggu Palem,  drama Yesus masuk kota Yerusalem disambut pekikan hosana Putera Daud lalu menyusul teriakan salibkan dia dari mulut yang sama, direnungkan para guru agama ini.  Mereka teringat akan pengalamannya menaruh harapan berbeda pada janji pater Voyen tentang Epistola. Baik guru agama senior maupun yang yunior bersorak-sorai menyambut janji pater Voyen. Padahal isi harapannya berbeda. Guru agama yunior menaruh harapan yang salah pada janji pater karena keterbatasannya, dan ketidakterbukaannya untuk memahami arti dari janji tentang Epistola sebagai senjata rohani. Kesesatan memahami janji menghantar semua guru agama (termasuk yang benar) menikmati ruangan sel yang pengap. Sedangkan keterbatasan dan kesesatan pemahaman orang yahudi akan identitas Yesus sebgai raja berujung pada penyaliban Yesus.  

Mungkin banyak orang dikorbankan selama ini, karena kesesatan harapan kita dan karena kita menyesatkan harapan banyak orang yang sungguh jujur merindukan seorang pemimpin sejati. Kita menaruh harapan yang tidak tepat pada orang yang baik, yang sesungguhnya tidak dalam kapasitas dan kompetensinya  mewujutkan harapan kita. Atau bisa juga harapan kita benar tetapi orang yang ditunjuk untuk mewujutkan/mengeksekusi harapan kita tidak tepat alias tidak punya komitmen dan kompetensi.  

Permenungan akan peralihan drastis dari hosana Putera Daud kepada teriakan Salibkan Dia menghantar kita untuk mengevalusi harapan-harapan yang kita gantungkan kepada sesama terutama kepada para pemimpin kita. Sudah tepatkah indikatornya? Sudah tepatkah orangnya? Harapan kita harus 'terong tendi' yakni tepat orangnya dan tepat indikatornya.

Oleh: Romo Edy Minori, Pr
×
Berita Terbaru Update