-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Filsuf-Filsuf yang Mengenalkan Filsafat Yunani

Jumat, 17 April 2020 | 12:49 WIB Last Updated 2020-04-17T05:49:25Z
Filsuf-Filsuf yang Mengenalkan Filsafat Yunani
Fransiskus Borgias

Selama ini selalu dikatakan bahwa dunia Barat (Eropa) mengenal Filsafat Yunani, terutama tokoh-tokoh besarnya seperti Aristoteles, melalui jasa para filsuf Islam Andalusia, di Spanyol, yaitu antara lain dalam diri salah satu tokoh agungnya, Averroes (Ibnu Rusdh). Begitulah misalnya dikatakan bahwa Thomas Aquinas mengenal Aristoteles dari Averroes. Memang Averroes, harus diakui, merupakan salah satu filsuf yang sangat menguasai filsafat Aristoteles pada waktu itu di Eropa. Kalau kita membaca sejarah filsafat Barat dari Prof.Kees Bertens misalnya, hal ini disebut dengan istilah jalan tidak langsung. Disebut demikian karena filsafat itu dikenal melalui jasa pihak ketiga, yaitu dari para filsuf yang berasal dari konteks non-Kristiani (persisnya Islam di Spanyol). Sesungguhnya yang berjaya di Andalusia Spanyol itu tidak hanya filsuf Islam, melainkan juga filsuf dari tradisi Yahudi. Mereka juga mempunyai jasa dalam menghidupkan jalan tidak langsung ini. Misalnya yang paling terkenal ialah tokoh bernama Moses Maimon (yang dikenal sebagai Moses Maimonides).

Tentu hal itu (yakni peranan jalan tidak-langsung) tidak seluruhnya benar juga. Mengapa? Pertama, karena apa yang disebut khasanah filsafat Yunani itu sesungguhnya sangat luas; tidak hanya Aristoteles. Plato dan Neoplatonisme juga mempunyai arus pengaruh yang kuat di dalam Kristianitas di Barat terutama lewat tokoh agung seperti santo Agustinus dari Hippo. Bahkan menurut seorang filsuf modern, Alfred North Whitehead, hanya ada satu filsuf sejati di dunia ini, di dalam sejarah filsafat, dan orang itu adalah Plato. Semua filsuf lain sesudah itu hanya sekadar menulis catatan kaki saja pada filsuf agung itu. Dan penulis catatan kaki pertama pada Plato ialah Aristoteles. Kalau filsafat Plato bisa dipadatkan dengan istilah idealisme, maka filsafat Aristoteles bisa dipadatkan dengan realisme. Kalau aktifitas filosofis Plato bisa diibaratkan dengan aksi-metaforis “berjalan sambil menatap ke langit, menikmati indah-indahnya bintang-bintang” (dengan risiko, kaki terluka karena terantuk pada batu), maka sebaliknya, seluruh aktifitas filosofis Aristoteles bisa diibaratkan dengan aksi-metaforis “berjalan sambil menatap ke tanah, memperhatikan bebatuan dan berhati-hati menikmati indahnya rerumputan dan menjaga jangan sampai kaki terantuk pada batu.” Metafora pertama memadatkan idealisme Plato. Metafora kedua memadatkan realisme Aristoteles.

Selain mengenal tradisi pemikiran filosofis Yunani melalui jalan tidak langsung, Thomas juga mengenal Aristoteles secara langsung, yaitu lewat terjemahan langsung dari Bahasa Yunani yang dikerjakan oleh Moerbecke (yang kurang lebih sejaman dengan Thomas) dan juga sebelumnya (pada abad keenam) oleh orang yang bernama Boethius (yang terkenal dengan buku filsafatnya yang berjudul Penghiburan Filsafat, De Consolatione Philosopiae). Jalan langsung ini sebenarnya mempunyai peranan yang besar juga dalam seluruh tradisi pemikiran filosofis Kristiani di Barat.
Karena itu, menurut saya penekanan pada peranan filsuf Islam (Andalusia, Spanyol) sebagai jembatan Aristoteles ke dunia Kristiani di Barat melalui Thomas, kiranya jangan terlalu dibesar-besarkan. Mengapa demikian? Sebab, selain pengenalan melalui jalan langsung tadi, sebenarnya jauh sebelum Islam ada dalam panggung sejarah dunia ini, artinya sebelum abad ketujuh Masehi, sudah ada juga komentator dan translator karya-karya filsafati Aristoteles yang berasal dari kalangan Kristiani itu sendiri.

Adalah sejarawan filsafat Barat, F.J. Thonnard, yang menyebut dua nama besar yang berjasa dalam bidang itu. Pertama, ialah orang yang bernama Yohanes Philosophonus. Kedua, ialah orang yang bernama David si orang Armenia itu. Keduanya adalah filsuf Kristiani yang berasal dari abad ke-enam Masehi. Kedua orang ini, sudah ada sebelum Islam muncul dalam panggung sejarah. Kedua orang inilah yang mengomentari filsafat-filsafat Yunani terutama Aristoteles ke dalam konteks Kristianitas.

Tentu secara historis, ada juga jasa filsuf Islam. Tetapi hal itu tidak boleh dan tidak bisa disangkal. Hanya menurut saya jangan juga dibesar-besarkan, seakan-akan hanya melalui mereka sajalah warisan agung filsafat Yunani disebarkan di Barat dan tidak ada jalan lain. Jasa Islam, secara historis menurut saya jangan terlalu dibesar-besarkan, karena sebuah factor atau gejala historis lain juga. Yaitu, jangan sampai dilupakan bahwa Islam (dunia Timur, khususnya Persia) mengenal Filsafat Yunani karena Filsafat itu dimatikan dalam dunia Kristen, tahun 529, sebuah angka yang sangat terkenal di dalam sejarah gereja.

Apa yang terjadi tahun 529 itu? Pada tahun itu Kaisar Yustinianus memerintahkan agar filsafat Yunani dilarang diajarkan dalam wilayah kekaisarannya. Itu adalah peristiwa sangat tragis dalam sejarah gereja, di dalam sejarah Kekristenan. Pada tahun 529, karena sangat yakin, sebagai orang Kristiani (Katolik), Yustinianus merasa bahwa yang lain-lain tidak diperlukan lagi. Karena itu maka dibuang. Ia perintahkan pembakaran perpustakaan neoplatonis yang sangat besar dan kaya koleksinya di Alexandria. Ia juga memerintahkan pembubaran academia philosophia di Athena. Menurut Bertrand Russell, sejak itu filosof Yunani lari ke Timur, menjauh dari tentara kekaisaran Romawi. Tetapi kemudian, mereka balik lagi setelah penindasan semakin berkurang. Jadi, dunia Timur mengenal pemikiran filosofis karena pengejaran yang dilakukan di dalam wilayah kekaisaran Romawi Timur itu sendiri.

Bahkan sebelum kedua tokoh yang disebutkan di atas tadi, sebenarnya sudah ada juga orang lain yang disebut komentator Neoplatonik atas Aristoteles. Lagi-lagi Thonnard di sini menyebut beberapa nama. Pertama, orang yang bernama Themistius yang berasal dari paruh kedua abad ke-empat Masehi. Dilaporkan bahwa tokoh ini mendirikan sekolah di Konstantinopel dan ia, sebagai neoplatonis, juga memberi komentar atas Aristoteles. Kedua, ialah orang yang bernama Simplisius, seorang tokoh yang berasal dari abad ke-lima Masehi. Orang ini juga diketahui menulis beberapa karya berupa komentar atau tafsir atas beberapa karya filsafati Aristoteles. Misalnya, diketahui bahwa Simplisius, menulis komentar atas karya-karya seperti Categories, Physics, On the Heavens. Akhirnya, ketiga, masih ada juga tokoh lain bernama Ammonius yang berasal dari kurun akhir abad ke-lima Masehi. Ia diketahui menulis sebuah esei yang mencoba membuat semua harmonisasi antara Plato dan Aristoteles, semacam upaya mendamaikan, upaya sintesis di antara kedua tokoh agung tersebut (Thonnard, 173).

Oleh: Fransiskus Borgias
Pengajar Sejarah Filsafat Abad Pertengahan, Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.
×
Berita Terbaru Update