-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Gadis Berhati Ningrat (Cerpen Eugen Sardono)

Selasa, 07 April 2020 | 21:39 WIB Last Updated 2020-04-07T14:39:46Z
Gadis Berhati Ningrat (Cerpen Eugen Sardono)
Eugen Sardono

Di bawah pohon flamboyan yang rindang, cintaku mendapat tempat untuk berteduh. Risiko mencintai anak konglomerat, ternyata tak seindah pelangi yang dibayangkan. Cinta itu muskil, seperti mendapatkan seorang perawan di tempat pelacuran. Dulu, hati neng putri, sangat tulus. Kini, hatinya sangat ningrat. Mungkin, benar kata orang, hati itu terbentuk dari lingkungan di mana hati itu dibesarkan. Ia dibesarkan di keluarga bangsawan. 

Kadang aku berpikir untuk merobohkan semua angan-angan kosong yang mengelabui mata. Dulu, aku dan dia, sepasang asyik-masyuk yang senang menikmati senja di atas bukit pertapa kota tua itu. Ada ikrar yang diingkari. Lama-lama cinta itu lorot, tak sekokoh dulu. Cinta kami dua seperti celana tua yang sudah lorot nan kusam yang sering kupakai, sejak sepeninggalan ayah sebelum ke makam. 

Rongga pada cintanya terlampau besar untuk kuisi. Ini bukan hanya soal cinta. Ini menyangkut prestise. Mencintai seorang anak kaum konglomerat, harus bisa mengerok diri sampai melarat. Dulu, aku berpikir biarkan mereka konglomerat, sedangkan aku kong-melarat. Lama-lama, hatiku ikut melarat demi mendapat gadis hati ningrat. Melarat demi, neng putri, gadis idaman yang aku impikan dari bahari kala. 

Andaikan dulu, aku ditakdirkan untuk menggantung pada kekayaan materi, mungkin tak sepelik ini mendapatkan impianku. Salah ayah dan ibukah, yang ditakdirkan berasal dari keluarga hina-dina. Orangtuaku menggantungkan kebahagiaan pada hal rohani dan kedalaman batin. Memoriku semoga tidak salah ingat, bahwa orang tuaku mendidik kami untuk bahagia dengan apa yang cukup. Kepuasan itu bukan soal kepuasan materi, tetapi kepuasan batin. 

Tapi, bagaimana prinsip hidup itu perlu ditempel di pikiran dan dimasukan di hati kaum konglomerat, orang tua dari neng putri. Hidup bagi mereka adalah harta duniawi. Kalau bisa menjadi Tuhan, aku mau nyelonong masuk ke hati orang tua neng putri, mengubah hati mereka bahwa hidup itu tak melulu pada uang dan uang. 

Beginilah nasib orang yang sedang mengejar cinta yang dihalangi oleh keadaan. Di selasar rumah reot peninggalan ayah-ibu, aku selalu berzikir, mengharapkan inayah dari Tuhan. Lesap sudah setiap desahan mimpi yang sudah lama kuingin raih. Ini hanya sebuah memorabilia, sesuatu yang dikenang untuk bisa menjadi bahan pelajaran, “cinta itu tidak cukup. Cinta itu perlu harta”. 

Menakzimkan cinta adalah sia-sia, mas bro. Acap kali, aku berpikir untuk membuat sebuah dongeng itu jadi kenyataan. Aku bisa meraih harapan untuk hidup selamanya dengan neng putri. Kisah tangkupan perahu mungkin bisa menjadi penghalang bagi niatku. ketika, aku asyik melamun, tiba-tiba terdengar derap langkah di belakangku. Aku melihat secangkir kopi di atas sebuah wadah. “Eh, selamat malam bang. Ini kopinya, diminum ya. Biar lebih semangat menghayalnya,” sahut adikku dengan nada guyon. “Kenapa ya dek, hidup itu tak seindah romansa, kisah kepahlawanan,” jurus pertanyaanku ke adikku. Adikku tak menjawab pertanyaanku denga kata-kata. Ia hanya melemparkan senyuman. Aku tak mengerti senyum itu sinis atau tulus. Aku percaya dengan adikku. Ia tak sedang melemparkan senyuman sinis. Senyuman itu sedang menertawakan kegilaanku kepada seorang gadis yang berhati ningrat.

Lalu, aku pun menikmati secangkir kopi dengan senja. Tak sadar, aku bersuara: “Dasar gadis berhati ningrat”..............
...................................Pondok Kebijaksanaan Kata, Malang

Oleh: Eugen Sardono
Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Widya Sasana Malang, Jawa Timur. 
×
Berita Terbaru Update