-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Gereja Katolik Menggunakan Kata Amin (Amen) Pada Tempatnya & Sesuai Maknanya

Kamis, 09 April 2020 | 17:52 WIB Last Updated 2020-04-09T10:52:59Z
Gereja Katolik Menggunakan Kata Amin (Amen) Pada Tempatnya & Sesuai Maknanya
Pater Tuan Kopong, MSF

“KETIKA KATA “AMIN” DIGUNAKAN UNTUK MENGOMENTARI STATUS FACEBOOK TEMAN-TEMAN KITA MAKA SECARA TIDAK SADAR ATAU SADAR KITA MENJADIKAN MEREKA SEBAGAI “tuhan”.

Akhir-akhir ini seirang berjalannya perkembangan zaman, kata “amin” mulai ramai digunakan di dunia maya seperti facebook untuk mengomentari status facebook teman. Dan karena keseringan menggunakan yang maaf tidak pada tempatnya maka banyak dari kitapun dengan mudah percaya pada doa berantai yang mencatut nama seorang imam SJ dan termasuk ikut menyebarkan.

Banyak dari kita mengikuti kebiasaan umat beragama lain yang menggunakan kata “amin” untuk sekedar mengiyakan pernyataan ataupun kesediaan meskipun itu hanya sebuah pernyataan atau kesediaan profan. Bahkan di facebook, apapun yang ditulis ketika itu dipandang baik dan benar maka sebagai jawaban atas status tersebut selalu menggunakan kata “amin” meskipun tidak ada hubungan sama sekali.

Disisi lain kita sebenarnya juga sadar bahwa kata “amin” memiliki makna spiritual dan menjadi jawaban di setiap akhir doa yang kita panjatkan kepada Tuhan, doa-doa Gereja atau setiap kali pada akhir kita melakukan Tanda Salib.

Dalam Perjanjian Baru, kata 'amin' lebih memiliki konotasi kebenaran dan kesetiaan, dan sering juga diterjemahkan sebagai 'dengan sungguh-sungguh' (lih. Yoh 16:23). Dalam Wahyu 3:14, Tuhan Yesus sendiri disebut sebagai 'Sang Amin' (ho amen), dan itu memperlihatkan cara orang Kristen memaknakan kata 'amin'. Kata 'amin' juga diterjemahkan sebagai 'sesungguhnya' dan itu menegaskan atau mengkonfirmasi sesuatu yang hendak dikatakan (lih. Yoh 8:58, Mat. 11:11, Yoh. 3:3, Luk 23:

Dalam praktik iman sebagai umat Katolik, kata 'amin' juga digunakan sebagai penutup doa (lih. Mz 41:13, 72:19, 89:52, 106:48, 1Taw 16:38). Rasul Paulus dalam 1Korintus 14:16 menegaskan betapa kata 'amen' merupakan kebiasaan jemaat Kristen untuk ikut mengungkapkan 'amin' di akhir sebuah doa. Bahkan para malaikat di surga pun mengucapkan kata 'amin' sebagai tanda persetujuan atas doa atau pernyataan iman yang khidmat yang kita panjatkan kepada Allah (Why 7:10-12).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) menegaskan bahwa orang Katolik yang mengucapkan 'amin' berarti menyetujui isi dari doa yang diucapkannya. Mengutip Santo Sirilus dari Yerusalem, KGK menegaskan, "Pada akhir doa kamu mengatakan 'Amin'. Dengan perkataan 'Amin', artinya 'Semoga terjadi', kamu mengesahkan isi doa yang diajarkan" (KGK. 2856).

Dalam tradisi Gereja Katolik (KGK 1061-1065) menegaskan tiga makna ungkapan “Amin” yang mengungkapkan iman umat Katolik kepada Allah Bapa dan kepada Sang Putra:

Pertama, mengucapkan 'amin' dalam doa-doa Kristiani menegaskan bahwa kita memercayai Allah, bahwa sama seperti Allah yang lebih dahulu setia, kita memperlihatkan kesetiaan, keteguhan, dan keandalan kita kepada Allah. Di akhir doa Aku Percaya, misalnya, kita dengan lantang mengatakan 'Amin'. Itu artinya kita sungguh-sungguh percaya pada kebenaran (truth) yang kita ucapkan dalam doa tersebut. Demikian pula doa-doa lainnya.

Kedua, mengucapkan kata 'amin' berarti mengakui 'Allah sebagai kebenaran', yakni Allah yang senantiasa dan selalu setia pada janji-janji-Nya, yang karena kesetiaan itu, Dia telah menganugerahkan anak-Nya yang tunggal kepada kita, menebus doa kita dan memulihkan hubungan kita yang terputus karena dosa. Itulah sebabnya mengapa hanya Yesuslah yang disebut sebagai 'Amin' (Why 3:14). "Ia adalah Amin dari cinta Bapa yang definitif terhadap kita; Ia mengambil alih dan menyelesaikan Amin kita kepada Bapa" (KGK: 1065).

Ketiga, mengikuti Santo Yohanes Paulus II dalam Ecclesia de Eucharistia, mengucapkan kata 'Amin' itu sama dengan tanggapan Maria ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan menjadi Bunda Allah (Nr. 55). Dengan begitu, setiap kali mengucapkan kata 'amin', entah itu sesudah mengucapkan sebuah doa, entah itu menanggapi Sabda Allah, atau sewaktu menyambut Tubuh Tuhan pada waktu Komuni, sikap iman kita adalah sebuah penyerahan diri dan keterbukaan diri supaya Allah berkarya di dalam hidup kita. "Hidup keseharian Kristen lalu merupakan 'Amin' atas "Aku Percaya dari pengakuan iman Pembaptisan kita" (KGK: 1064).

Dari penjelasan di atas nampak bahwa kata 'Amin' memiliki makna yang sangat mendalam, baik dari segi arti kata maupun dari segi biblis. Kata “Amin” adalah ungkapan iman dan penyerahan diri kita secara total kepada Allah, bahwa hanya Dialah yang kita percaya dan kita andalkan. Demikian juga merupakan ungkapan iman kita kepada Yesus sang Putra yang telah menyelesaikan seluruh Amin kita kepada Allah, dan dengan perantaraan Roh Kudus, mempertahankan ikatan iman kita kepada Bapa.

Maka marilah kita menggunakan kata “Amin” pada tempatnya dan sesuai dengan maknanya dan tidak secara maaf sembarangan menggunakan hanya untuk mengomentari status facebook teman-teman kita. Karena jika itu digunakan untuk mengomentari status facebook teman-teman kita artinya kita juga percaya dan mengandalkan mereka selain Tuhan. ARTINYA KITA MENJADI TEMAN FACEBOOK TERMASUK STATUS MEREKA SEBAGAI “tuhan” BARU DALAM HIDUP KITA.

Manila: 09-April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update