-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

"Guru Mabar, Menulislah"!

Senin, 20 April 2020 | 20:49 WIB Last Updated 2020-04-20T13:49:37Z
"Guru Mabar, Menulislah"!
Sil Joni

Oleh: Sil Joni*

Judul ini saya pinjam dari nama sebuah grup diskusi di facebook yang diinisiasi oleh seorang guru kreatif di Mabar, ibu Yuliana Tati Haryatin. Ibu Yuli, demikian sapaan akrabnya, merasa terpanggil untuk membentuk sebuah wadah khusus bagi guru-guru di Mabar untuk menyalurkan bakat literasi secara kreatif di kanal diskursif yang bersifat terbuka di dunia maya.

Dalam sebuah 'obrolan santai' di grup WA (Literasi Manggarai Barat), ibu Yuli mengutarakan ide untuk membentuk grup literasi Guru Mabar di ruang facebook. Sontak saja, sebagian anggota grup itu, termasuk saya sangat antusias dan tertarik dengan ide itu. Lalu, tibalah kami pada poin diskusi soal nama 'grup' yang relatif merepresentasikan spirit dan intensi dasar pembentukannya.

Ada beberapa nama alternatif yang diusulkan oleh para peserta. Salah satunya adalah 'Guru Mabar Menulis'. Saya tertarik dengan nama itu. Tetapi, saya memberikan semacam 'roh imperasi moral' dalam judul itu sehingga hasil akhirnya adalah: "GURU MABAR, MENULISLAH!"

Karena itu, dalam ruang ini saya coba memberikan semacam catatan kualitatif di balik filosofi nama itu. Pertama, nama itu menunjukkan bahwa aktivitas menulis itu sebenarnya bagian yang tak bisa dipisahkan dari seorang guru. Menulis merupakan 'cara berada' (mode of being) sebagai guru. Jika dipadatkan dalam sebuah silogisme, hasilnya sebagai berikut. Semua guru adalah penulis. Jika 'saya' tidak (bisa) menulis, maka saya bukan seorang guru.

Kedua, ungkapan 'Guru Mabar, Menulislah' merupakan sebuah undangan etis untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam grup itu. Grup 'Guru Mabar', bisa menjadi wahana ideal bagi pengaktualisasian potensi literasi yang sudah menyatu dalam tubuh seorang guru. Media ini dikreasi di atas prinsip dari kita, oleh kita, dan untuk kita, para guru yang berkarya di Mabar ini.

Ketiga, kita butuh elemen motivatif untuk mengembangkan 'talenta' berliterasi. Frase 'Guru Mabar, Menulislah', diharapkan bisa menjadi 'daya pendobrak' dalam  menstimulasi gairah berekspresi dan memecah kebekuan dalam berimajinasi kreatif.

Keempat, dalam dan melalui judul itu, kita selalu diingatkan untuk kembali 'menggauli' apa yang menjadi ciri khas seorang guru. Menghidupkan kultur akademik melalui aktivitas refleksif dalam bentuk tulisan merupakan bagian dari panggilan profetis-pedagogis seorang guru.

Kelima, seruan 'MENULISLAH' menjadi isyarat bahwa aktivitas literatif itu sangat berguna  baik sebagai suplemen vitamin yang menyegarkan untuk jiwa, maupun sebagai upaya merawat peradaban dan meninggalkan jejak sebagai manusia. Dengan itu, menulis merupakan panggilan moral untuk menggapai kehidupan yang bermutu.

Dari uraian di atas, maka sekarang bergabunglah di grup ini dan mulai angkat jemari atau penemu, tuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada cara lain untuk menulis, selain dengan cara tekun berlatih dan berkomiten untuk konsisten dengan latihan yang reguler itu.

Saya kira, ibu Yuli sebagai 'penggagas' pembentukan wadah ini, pasti memiliki semacam optimisme bahwa para guru mempunyai kapasitas untuk menumbuhkan kultur literasi tersebut. Ide itu, dengan demikian, tidak berangkat dari ruang kosong. Sebaliknya, gagasan membentuk grup khusus bagi guru di Mabar untuk menulis tentu mengacu pada hasil observasi konkret, setidaknya melalui pantauan di dunia virtual, bahwa para guru tersebut memiliki minat dan gairah yang membanggakan dalam menulis. Untuk itu, agar ide-ide brilian yang berseliweran di dinding facebook itu, maka kita perlu membuat wadah untuk mestimatisasinya menjadi sebuah tulisan yang bernas dan kalau dapat didiskusikan secara dialektis di grup ini.

Mumpung kita dihimbau untuk stay at home di tengah pandemik covid-19, literasi bisa menjadi solusi alternatif untuk membunuh histeria massal tersebab oleh amukan virus itu. Kita tangkap corona dengan meningkatkan vitalitas jiwa dalam bentuk literasi. Para guru di Mabar mesti berada pada garda terdepan dalam menghidupkan habitus literatif untuk mencegah efek negatif merebaknya virus hoaks, berita palsu, dan informasi yang meresahkan seputar perkembangan wabah corona ini. Salam literasi.

*Penulis adalah staf pengajar di SMK Stella Maris Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update