-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Homili Paus Fransiskus: Kedekatan Allah sebagai Kedekatan Apostolik

Senin, 06 April 2020 | 11:08 WIB Last Updated 2020-04-06T04:09:11Z
Homili Paus Fransiskus: Kedekatan Allah sebagai Kedekatan Apostolik
Paus Fransiskus menyapa umatnya usai Misa Natal 2013 

Tema utama homili Paus pada kesempatan ini adalah tentang “Kedekatan Allah sebagai Kedekatan Apostolik” (Ul.4:7). Allah selalu dekat dengan umat-Nya, menguatkan dan menemani perjalanan mereka terus menerus. Yesus pun lebih memilih sebagai “ Pengkotbah Jalanan”, pengkotbah yang selalu dekat dengan umat. 

Tuhan memilih untuk dekat dengan umat-Nya adalah suatu pedagogi inkarnasi, pedagogi inkulturasi. Kedekatan bukan sekadar kebajikan, tetapi terutama adalah suatu tindakan melibatkan seluruh diri, suatu cara berelasi, suatu cara menaruh perhatian pada diri sendiri dan orang lain. Ketika orang mengatakan bahwa seorang imam itu dekat, ada dua arti. Pertama, “Dia selalu ada di sana (berlawanan dengan, “Dia tak pernah di sana: dalam hal itu umat akan selalu mengatakan, Pater, saya tahu anda sibuk……”). Kedua, dia selalu mengatakan sesuatu yang dapat diterima oleh siapapun. Dia selalu berbica dengan setiap orang, anak-anak, orang tua, orang kaya, orang miskin, ateis, dll. “Imam yang dekat dengan umat adalah imam yang selalu siap sedia, selalu ada untuk mereka dan selalu berbicara dengan siapapun, …… imam jalanan”.

Kedekatan menurut Paus adalah kunci kepada belaskasih, kunci kepada kebenaran. Kedekatan memampukan kita memanggil orang lain dengan nama mereka masing-masing.

Paus mengajak para imam untuk merenungkan tiga ranah kedekatan imami (priestly closeness). Pertama, kedekatan dalam percakapan spiritual: belajar dari percakapan Tuhan dengan perempuan Samaria: membantu/mengajari dia melakukan penegasan tentang menyembah dalam roh dan kebenaran, menuntun dengan lembut untuk menyadari dosa-dosanya, mengutus dan pergi bersama dia untuk mewartakan. Percakapan spiritual—menuntun orang kepada terang.

Kedua, Kedekatan dalam pengakuan: belajar dari sikap Tuhan terhadap perempuan yang diperhadapkan dengan-Nya karena kedapatan berzinah. Menatapnya dengan kasih dan menuntun dia untuk menatap ke depan bukan ke belakang, “Aku pun tidak menghukum engkau, pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi”.

Ketiga, kedekatan dalam pewartaan (Kotbah): belajar dari Kotbah St. Petrus saat Pentekosta, pesannya untuk semua orang, menyentuh hati mereka dan dalam bahasa yang dipahami pendengar. 

“Homili adalah batu ujian untuk ‘mengukur kedekatan dan kemampuan seorang pastor berbicara dengan umatnya’”(EG. 135). Homili kita para imam dapat mengetahui sejauh mana kita dekat dengan Tuhan dalam doa dan sejauh mana kita dekat dengan umat dalam kehidupan mereka sehari-hari.

“Kabar gembira hadir ketika kedekatan dengan Tuhan dan umat berjalan baik. Jika kamu merasa jauh dari Tuhan, dekatlah dengan umat. Umat yang sederhana akan mengajarimu dekat dengan Tuhan, dan menyembuhkanmu dari ideologi yang membuat semangatmu beku. Orang-orang sederhana akan menuntunmu memandang Tuhan dengan cara yang berbeda. 

Di mata mereka, Yesus adalah pribadi yang selalu menarik, teladan baiknya mengandung otoritas moral, ajarannya berguna dan membantu kita menghayati hidup. Jika kamu merasa jauh dari umat, dekatilah Tuhan dan Sabda-Nya: dalam Injil Yesus akan mengajarimu cara Dia melihat dan memandang orang lain dan betapa berharga setiap orang bagi-Nya sehingga Dia rela mencurahkan darah-Nya di Salib. 

Dalam kedekatanmu dengan Allah, Sabda akan menjadi daging dalam dirimu dan kamu akan menjadi imam yang dekat dengan semua ‘daging’ (flesh). Melalui kedekatanmu dengan umat Allah, daging mereka yang menderita akan berbicara kepada hatimu dan kamu akan tergerak untuk berbicara kepada Allah. Kamu sekali lagi akan menjadi imam perantara”.

“Imam yang dekat dengan umat akan berjalan bersama mereka dengan kedekatan dan kelembutan gembala yang baik: dalam menggembalakan mereka, kadang berada di depan mereka-menuntun, kadang di tengah-tengah mereka dan kadang di belakang mereka. Umat tidak hanya mengapresiasi imam yang demikian, tetapi mereka merasa ada sesuatu yang spesial tentangnya, sesuatu yang hanya mereka rasakan ketika mereka berada di hadapan Tuhan Yesus. Maka kedekatan dengan Allah dan umat menjadi sangat penting supaya mereka merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup konkret mereka”.

Homili Paus Fransiskus, Misa Krisma, 29 Maret 2018 diterjemahkan dan diringkas oleh Pater Dody Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update