-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HUTAN MANGGARAI: MUSEUM BIOLOGI YANG KAYA

Minggu, 19 April 2020 | 18:58 WIB Last Updated 2020-04-19T12:02:14Z
HUTAN MANGGARAI: MUSEUM BIOLOGI YANG KAYA
Fransiskus Borgias M

Beberapa hari lalu di sebuah WAG yang saya ikuti ada diskusi yang ramai tentang isu tambang di Manggarai Timur. Orang menduga ada perusahaan tambang diberi konsesi oleh otoritas setempat. Terhadap hal itu beberapa teman anggota WAG itu bereaksi keras. Mereka mengeritik kebijakan yang dengan mudah memberi ijin kepada beberapa perusahaan tambang untuk mengeksploitasi Manggarai. Cerita ini mengingatkan saya akan beberapa hal. Saya ingat tatkala saya mampir di kantor teman saya beberapa tahun lalu, P. Peter Aman OFM, direktur JPIC-OFM Indonesia, saya disodori “kertas-posisi” yang membahas perjuangan melawan eksplorasi tambang di beberapa tempat di Flores termasuk Manggarai. Sementara itu baru saja kemarin, peneliti muda Sun Spirit, Venan Harianto, yang bermarkas di Labuan Bajo menurunkan tulisan di sebuah koran online tentang terancamnya sumber mata air bagi penduduk di Sano Nggoang Nunang. Mata air alami itu terancam hilang karena ada rencana pembukaan eksplorasi geothermal di danau itu.

Tahun 2013 saya tinggal satu semester di Lembor untuk melakukan penelitian lapangan. Saat itu, beberapa kali saya ke Wae Lombur untuk mandi, dan terutama untuk menikmati bunyi air mengalir. Tetapi saya berkesan bahwa debit air sungai itu semakin berkurang. Mungkin saya keliru. Kemudian saya bertanya kepada beberapa orang tentang kesan itu. Ternyata mereka juga mempunyai kesan yang sama: debit air di sungai itu semakin berkurang dari tahun ke tahun. Pasti hal itu erat terkait dengan kondisi hutan di gunung yang pohonnya mungkin tidak terpelihara baik. Ada beberapa orang memberi kesaksian bahwa debit air di kota Ruteng juga semakin berkurang. Mungkin ada kaitan dengan kondisi hutan tropis di gunung yang tidak terpelihara. Mungkin juga ada aksi pengambilan air tanah untuk tujuan dan kepentingan tertentu.

Tatkala mengingat semuanya ini saya tiba-tiba teringat akan beberapa hal. Pertama, saya teringat akan seorang teman (sepupu isteri saya). Kedua, saya teringat akan P. Erwin Schmutz SVD. Ketiga, saya teringat akan Pater Jilis J. Verheijen SVD. Mulai hari ini, dalam tiga hari ke depan saya akan menurunkan tulisan yang terkait dengan apa yang saya ingat dari apa yang dikatakan dan diperbuat oleh orang-orang ini tentang dan terkait Manggarai.

Saya mulai dengan yang pertama, catatan sekilas tentang Ignatius Bambang Pepe. Dia adalah insinyur pakar kehutanan tamatan IPB. Dia berasal dari Kampung Sawah, Pondok Gede, Bekasi. Pada suatu kesempatan kami berbicara tentang hutan-hutan yang ada di Indonesia. Termasuk berbicara tentang bencana ekologis yang menimpa hutan-hutan hujan tropis di Indonesia, seperti karhutla, ekspansi sawit, ancaman pertambangan yang merambah ke hutan. Akhirnya pembicaraan kami juga sampai ke Manggarai. Hutan Manggarai pun terancam. Dia mengamini hal itu. Mendengar semua hal ini, saya sangat sedih.

Tatkala kami berbicara tentang Manggarai ia lalu mengatakan kepada saya bahwa “Hutan alami, hutan hujan-tropis di Manggarai sangat unik.” Tidak hanya itu. Kemudian ia lanjutkan: “Itulah salah satu kekayaan Indonesia.” Saya terperangah, sekaligus juga berbangga ketika mendengar informasi itu. “Mengapa?” Demikian tanya saya menyelidik kepadanya. Lalu ia jelaskan dengan memberi informasi sbb: “Umumnya alam NTT adalah sabana-steppa. Itulah yang mencirikan hampir semua pulau di NITT. Flores tidak terkecuali: itu adalah alam sabana-stepa.” Dia terhenti sejenak. Seakan-akan memberi jeda untuk mencerna apa yang ia katakan. “Tetapi di tengah jantung alam sabana-steppa itu ada hutan tropis, khususnya di Manggarai. Itu pasti sangat unik. Itu adalah sesuatu yang sangat istimewa. Hal itu pasti amat ajaib dan mengagumkan.”

Begitulah katanya untuk meyakinkan saya. Ia mengaku belum meneliti kekayaan dan keunikan museum biologi alami itu. Tetapi ia amat yakin akan adanya keunikan itu karena “hutan yang terletak di tengah alam Sabana-steppa” pasti menyimpan misteri kekayaan dan keunikan yang tidak terduga-duga. Begitulah dia mengungkapkan hal itu kepada saya dengan sangat yakin. Misalnya, mulai dari burung yang indah: warna bulunya, bunyinya yang unik, bentuk badannya yang indah. Begitulah dia mencoba memberi bayangan dan gambaran kepada saya. Selain itu ia juga mengatakan jenis kayu atau tetumbuhan tertentu mungkin saja ada di sana dan mungkin belum terdata dalam kamus biologi dunia. Bisa saja di sana terdapat anggrek hutan yang belum terdaftar dalam kamus penggemar anggrek. Itulah sekadar beberapa contoh.

Ia meyakinkan saya, bahwa Hutan Manggarai itu, sebagai hutan yang terletak di tengah alam sabana-stepa NTT adalah sangat unik dan istimewa. Dia bisa menjadi kamus, bisa menjadi museum “kepustakaan” hutan khas karena ada di tengah alam sabana. Ia bisa menjadi kamus dan museum dengan item yang tidak terduga. Mendengar ini saya terharu dan bangga dengan hutan Manggarai. Tetapi sedih juga karena nasibnya yang tidak menentu.

Itulah tantangan natural-ekologis Manggarai: ia menantang ilmuwan Manggarai untuk menjadi ahli peneliti museum ekologis-kosmis di tanah tumpah darah sendiri. Peran pemerintah daerah sangat sentral di sini: mendorong dan menyediakan dana agar ada ahli kehutanan yang profetis dan profesional, ilmuwan sejati, bukan hanya ekonomi, politikus, atau ahli hukum. Saya tidak menyelidiki keunikan itu karena bidang saya lain. Paling-paling saya mengembangkan wacana spiritualitas ekologis, mendalami spiritualitas penciptaan yang gencar dilakukan teolog di Amerika. Salah satu bagian dari upaya mereka ialah menggali spiritualitas agama asli untuk mengembangkan ekoteologi, mengembangkan ekologi dalam (deep ecology). Sebab yang kita butuhkan bukan hanya ekonomi, politik, hukum, melainkan juga teologi dan filsafat. Filsafat hidup, filsafat perenial, itulah yang menghidupi kebudayaan manusia, termasuk Manggarai. Tidak ada kebudayaan yang dapat bertahan tanpa landasan filsafat. Ini PR Manggarai di bawah koordinasi para pemimpinnya. Semoga para pemimpin Manggarai bukan perambah hutan melainkan orang yang ramah terhadap hutan.

Oleh: Fransiskus Borgias M
Dosen/Peneliti pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung
×
Berita Terbaru Update