-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ibu, Aku Mati dalam Luka (Cerpen Rian Tap)

Senin, 06 April 2020 | 20:38 WIB Last Updated 2020-04-06T13:38:32Z
Ibu, Aku Mati dalam Luka (Cerpen Rian Tap)
Foto istimewah

Oleh: Rian Tap

Wajahnya dipenuhi peluh dan kesah. Tanganya yang lusuh berkerut termakan usia. Dia terlalu tua untuk menanggung kesukaran ini. Tatapannya fokus pada satu titik. Tangannya mengangkat, menancapkan, dan menarik benda yang digenggamnya dengan kuat. Purnama menjadi bualan di tengah hutan yang ranum oleh pohon-pohon berbagai jenis yang lebat. Kabut terus menyelimuti kawasan tersebut sambil mengantarkan hawa dingin yang menusuk setiap kulit kusamnya.  Tahukah kamu hal yang paling disayang di seluruh dunia dari zaman leluhur sampai sekarang? Pastilah seorang ibu. Dengan berbagai macam sikap yang akan membawa anak-anaknya ke jalan kebenaran dan kesuksesan, ia berhasil menjadi orang yang dicintai. Tapi sayangnya itu hanya untuk beberapa ibu. Ibu yang kumiliki sangat menjengkelkan dengan mulut semacam mulut naga yang setiap pagi, siang, sore, dan malam menyemburkan apinya hingga membakar kulitku sampai daging dan sarafku. Perlakuannya tak seperti ibu-ibu lainnya yang diceritakan seluruh negeri dengan kelemahlembutannya, tapi malah seperti algojo dalam kisah salib Tuhan, yang kapan pun siap memenggal kepalaku bila aku berbuat salah, sialnya ia masih ingat bahwa aku adalah anaknya. Kekesalanku sudah tak terbendung. Ingin saja kumaki ia, tapi aku masih selalu ingat cerita ketika jeritannya yang memekik seluruh telinga ketika ia melahirkanku di dukun beranak malam itu. Kampung bergetar seakan langit terbelah. Aku keluar dari rahimnya dengan darah yang berceceran sangat banyak, menjadikan tubuhnya lunglai tak terkira. Peluh bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. Aku yang kala itu baru lahir juga banjir dengan air ketuban dan darah yang bercampur menghasilkan aroma yang menyengat.

***

Dukun tua itu selalu menceritakannya kepadaku setiap kali ibuku memakiku dan memukuliku dengan rotan, agar aku ingat perjuangannya yang sedikit pun tak terlihat bahwa ia telah berjuang untukku. Aku mengaku salah, tapi apa yang dilakukannya kepadaku bukan hal yang selalu wajar. Keluargaku terbilang melarat dan menjadi bulan-bulanan penduduk kampung. Rumah rotan yang agak miring ke sebelah Timur, dengan lantai tanah yang tiap hujan akan menjadi tanah merah basah yang mengotori kaki kami, menjadi istana terbesar yang kami punya. Aku bekerja di tuan yang berlumbung beras, ibuku mengandalkanku. Mengangkat karung-karung beras yang dimiliki oleh juragan tersohor, mencari kayu bakar lalu menjualnya, mencari hewan-hewan di hutan untuk pengobatan, menebang pohon secara ilegal bersama penebang lainnya, ikut sabung ayam, jika ada perkelahian yang menghasilkan uang pun aku akan ikut, dan apa pun yang bisa kukerjakan untuk mendapat makan tanpa peduli bagaimana diriku sendiri. Tapi penglihatan ibuku seakan-akan ditutup oleh dedemit hutan agar tak bisa melihat apa yang kulakukan. Ia selalu bilang usahaku kurang dan otakku terlalu rendah untuk manusia seusiaku. Aku tahu bahwa otakku dungu. Tapi salah siapa itu? Ia tak menjadikanku lulusan sekolah dasar. Sialan memang hidup ini. Aku sebenarnya tak mau menyalahkan hidup, tapi kekalutan ini menjadi wabah yang menyerang otakku agar terus memakinya. Di sisi lain dunia, ibu menjadi hal yang dipuja-puji karena ada surga di telapak kakinya. Tapi surga itu telah hilang dari kaki ibuku, tertimbun di pusat bumi.

***

Jika melihat ayam-ayam hidup, mereka lebih beruntung. Ibu, bisakah aku durhaka kepadamu lalu kau laknat diriku jadi ayam? Aku sangat siap dengan kutukan itu. Karena hidup menjadi ayam lebih tentram. Lihatlah induk mereka, selalu bersama anak-anaknya kapan pun dan di mana pun. Memang aku diam setiap ibu berlaku kasar kepadaku. Tapi ibu mesti tahu bahwa aku bukan anak kecil lagi. Merindukan kehadiran seorang adik, adalah impianku. Ya, setidaknya mampu mengurangi beban yang kian berat menipa hidupku. Lalu aku doa terjawab oleh sang semesta, ia memberi adik untukku. Aku mengimpikan adik yang Lucu? Menggemaskan? Selalu membuat rindu bila jauh? Tetapi rupanya itu hanya angan-angan untuk adikku. Jika aku anak setan menurut ibuku, dia adalah anak raja setan menurutku. Sifat sok dewasanya membunuh sikap dan apa yang kulakukan di rumah. Menasihati seakan-akan ia adalah ayahku. Persetan! Mulutnya selalu menyerocos hal-hal tak jelas. 

***

Ia jelas sekali mewarisi darah ibuku. Bila kalian berpikir aku adalah Cinderella di dalam rumah, aku lebih buruk dan terhina darinya. Ia masih mendapatkan teman-teman tikus yang mendukungnya. Sedangkan aku akan membunuh tikus yang ada dihadapanku, karena kupikir apa yang ada di rumah adalah bajingan, apapun itu. Seperti yang kubilang, mereka mewabah di hidupku, dan mewabah di setiap hal yang ada di dalamnya. Jika aku menjadi Cinderella, yang hubungan dengan kedua saudarinya tak sedarah daging, aku sudah membunuh saudaraku sejak lama. Tapi ia masih saudara kandungku. Pernah suatu waktu aku tertidur kelewat pagi. Ibu memanggil-manggilku untuk bekerja dengan sumpah-serapahnya. Aku tak bangun karena semalam aku ikut adu otot yang menguntungkan hingga larut. Lalu adikku ikut campur urusan orang dewasa. Ia menuju tempatku tertidur, menyipratkan air ke wajahku. “Sialan! Keparat, kau!” makiku sambil terkaget. “Bangun! Kerja dulu, baru tidur. Kau kan sudah besar, jadi jangan malas-malasan.” Ia menasihatiku dengan gaya sok dewasanya. Ingin kuremas kepalanya hingga pecah, tapi ibu sudah masuk ke rumah sambil membawa rotan. Aku tak berkomentar, lalu keluar tanpa kata.

***

Aku sangat ingat ketika adikku dilahirkan.  Dukun tua itu pula yang membimbing ibuku. Ketika itu umurku enam belas tahun, dan ketika itu pula ayahku mulai kacau dengan dengan koslet pada saraf otaknya, ia gila. Lalu, pergi meninggalkan kami. Beberapa bulan jarang pulang, lalu tak lama tak pernah pulang. Tak pernah sedikit pun kami mendengar kabar batang hidungnya. Ibuku sempat mencarinya, karena terlihat dari wajahnya ia masih mencintainya, tapi nihil. tapi katanya ayah sudah menutupi dirinya, sehingga tak ada yang bisa mencarinya dan menemukannya. Dan ketiadaan ayah kukira menjadi salah satu penyebab menjengkelkannya adikku. Dulu ayah sering menasihatiku. Berbagai macam hal yang bermakna disuapkannya kepadaku. Kasih sayang yang tercipta menyeruak di rumah bobrok kami dengan wajah dan sikapnya yang sederhana. Tapi semuanya berubah ketika ia pergi. Ya, semuanya. Ibuku depresi hingga membebaniku untuk mencari uang, dan adikku menjadi berandal kecil tak tahu adab. Tapi dukun tua itu, selalu mengingatkanku untuk bersabar dikala dua orang jahanam itu menggangguku. Dan untungnya aku masih punya adab untuk keluarga biadab ini. Dan ingatlah, dik, aku abangmu, jadi aku punya hak untuk mengingatkanmu untuk tunduk, cerutu dalam benak.

Ia bangun dari karpet yang tergelar untuknya tidur, tapi ia tak tidur. Semenjak tadi matanya menatap langit-langit rotan rumahnya. Ibu dan adikku tertidur pulas di atas ranjang kayu reot tak jauh darinya. Ia menatap kedua manusia jahanam untuknya itu. Menatap mulut mereka yang terlihat seperti sepasang terompet sangkakala yang setiap hari tertiup tepat di depan telinganya. Ia berpikir kembali apa yang tadi ia pikirkan. Memikirkannya membuat tubuhku menggigil. Rotan tak mampu menahan angin malam yang ganas, udara pun masuk, menambah gigil tubuhku. 

***

Tapi mataku masih menatap tajam mulut mereka. Aku merasa jijik, lalu memindahkan pandanganku ke luar pondok itu. Dalam hening yang bertabu tamaran, aku bertengadah pada sang Khalik, jika ini caramu untuk membuat aku tetap ada di dunia ini, tidak apa-apa. Aku terima dengan lapang dada. Mereka juga bagian dari diriku. Ya,, aku tetap sayang mereka berdua, entahlah, apakah mereka masih sayang dengan aku. Aku tak peduli itu. Tuhan ajarkan aku untuk bertabah hati, jikalau boleh buat mereka berubah. Setidaknya pondok tua ini menjadi keluarga rumah paling teduh yang aku rasa, sebagaimana rumah-Mu dalam balutan kasih Yosep dan Maria. Seketika itu juga, ibu bangun dari tidurnya lalu melempari aku dengan sebilah pisau. Aku terluka dan berdarah. Aku menangis tersedu bersandar pada kaki yang setia menopang dan melenyapakan setiap tetesan air mataku. “Ibu, jika engkau mau, bunuh saja aku. Mungkin ini membuat engkau lebih bahagia. Mungkin kehadiranku membawa nereka untuk hidupmu. Jujur, aku sangat menyanyangi kalian berdua”. Aku pun mati bersama luka yang kian merobek jiwa. Ya,, aku mati bersama Tuhan, di paskah ini. sekiranya pula, aku bangkit bersamanya pada hari ke tiga.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero. Beliau adalah Penikmat Sastra Sekaligus Pegiat Sastra Sampul Buku unit Gabriel. Asal Lembor Manggai Barat. Tinggal di ledaleo-Maumere.
×
Berita Terbaru Update