-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Imajinasi, Doa Ibu Merayu, Tuhan: Puisiku Mengemis ll, Itu Tubuh

Senin, 20 April 2020 | 23:23 WIB Last Updated 2020-04-20T16:23:42Z
Imajinasi, Doa Ibu Merayu, Tuhan: Puisiku Mengemis ll, Itu Tubuh
Anno Rebon

Imajinasi

Sudah lama aku ini hidup
tapi hidup berjiwa mati
dibantai oleh ketakutan yang tumbuh subur dalam imajinasi,  
seakan betah berakar dia di sana

Berada di dalamnya wajah-wajah terlihat menggertak
membuat jiwa bergetar
lalu takut akan keheningan mencekam
seperti mencekik leher sendiri tapi lupa di mana leher

Imajinasi ini liar,  sangat liar
hingga aku sendiri tak mampu mengikatnya
sering ia melukis lukisan kucing memangap mulut dengan taring runcing, lalu 
di depannya anak tikus menggigil ketakutan.

Dan tak tahu di mana lagi lukisan ini ditempatkan dalam 
ruang yang telah penuh seluruh
ketika tertatap, menakutkan sungguh
Aku memang pelukis yang melukis ketakutan lantas 
takut menatap itu lukisan.
Padahal ini aku sendiri
dalam imajinasiku sendiri

Malang,  April 2020

Doa Ibu Merayu

Di antara kerumunan lalat
Seorang anak mengais rupiah
Baju, wajah pun hatinya lebam
di hantam tuntutan

Sudah bertahun tak ada tamu mampir di lambungnya,
pun lambung ibunya yang telah uzur
Sesekali dibanting peluh pilunya yang menetes ramai
Hingga siang datang menyapa ubun
baru seonggok nasi di gengamnya
nasi untuk hidupnya dan hidup ibu

Dengan merekah senyum
ia pulang menambah umur ibunya
namun ibunya telah pergi 
menjenguk nisan bapak semenit lalu,
tanpa kesan
tanpa pesan

Hanya dua bait doa tergeletak
di samping kafan
Doa ibu merayu Tuhan,
agar jadikan anaknya manusia
Dan doa ibu berharap
jika kelak anaknya
sudah jadi manusia
ingatannya tidak lupa

Malang, Maret 2020

Tuhan: Puisiku Mengemis ll

Dan lagi aku mengemis dalam sunyi rumahMu
tatkala malam bagai penyamun
hilir mudik menggasak tawa 
hingga tak mampu bibir ini sekedar meyebut namaMu

Dan lagi aku tergeletak dalam beringasnya musim,
walau langit tak henti mengirim tetesnya tuk basuh gersang jiwa
hingga benihmu dalam relung serasa susut 

Dan lagi aku terbenam di gelap jurang
hingga parau jerit 
lumpuh pada dinding tebing
tak dapat mengetuk terangMu yang sejengkal dekatnya

Dihadirnya malam, di datangnya perih
mulut bagai kubur ternganga
yang tiap waktu menanti matinya raga, syairku mati dalam puisi
jadi bangkai tak bermakna, 

Ah, lagi-lagi puisiku mengemis
tuk nafaskan matinya syair,
tuk usir perih yang mengusik

Jika bukan Engkau
pada siapa pergiku ini? 

Malang, Maret 2020

Terkubur Pesona

Sejak melihat sepotong wajahmu di malam itu
geloraku serasa ditumbuk ribuan petir, 
menyeretku dalam sudut alam yang tak ku pahami
Entah mengapa terang lilin seketika redup dipertengahan nyalanya
membuat puisiku mati perlahan

Terlalu pesonamu melompati langit jingga
patahkan indah sayap-sayap camar
hingga malam malu datang sekedar tuk mencumbu
Aromamu membias mawar di taman sana, layu seakan tak mau tersaingi
bahkan madunya pun kehilangan rasa

Andai kau tahu betapa wajahmu meredup sinar lilin
mungkin tak akan kau jual kepada bola mataku, sepotong wajahmu di malam itu,
dan mungkin aku tidak akan terkubur dalam pesonamu begini.!

Malang, April 2020

Itu Tubuh

Dalam bilik,  gelap malam
terbujur kaku aku
Sekelebat pekat datang menebah dada
taburkan benih-benih sepi di kedalaman  hati
di sudut sana,  menjulang tubuh
remuk dalam luka duka

Seketika bayangan Itu Tubuh mengucur darah,  mengucur darah
goresan jemari si Chairil Anwar
lalu lalang di benak
memaksaku bangkit tuk sekejap berpuisi

Ah Itu Tubuh sungguh mengucur darah, mengucur darah
rubuh patah di kayu palang
Ku lihat tubuh mengucur darah.
Aku berkaca dalam darah
pekatku seakan mati
aku mati dalam puisi

Lalu kembali bibirku merekah senyum,
aku tersesat dalam kebodohan,
lagi inginku bersetubuh dengan malam
jadilah aku gelap malam

Itu Tubuh,  ah Itu Tubuh
mengucur darah,  tetap mengucur darah,  
karena tiap waktu aku lupa berkaca dalam darah!

Malang,  Maret 2020

Oleh: Anno Rebon,  
Penulis adalah penyair kelahiran Wulublolong,  Solor Timur,  Flotim,  NTT. Mahasiswa Semester IV,  STFT Widya Sasana Malang. Bertempat tinggal di Seminari Tinggi Montfort (Pondok Kebijaksanaan) Malang.
×
Berita Terbaru Update