-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jika Mahasiswa Peduli pada Keselamatan Warga, Kampanyekan dan Menjadi Teladan Social Distancing

Jumat, 17 April 2020 | 22:16 WIB Last Updated 2020-04-17T15:16:01Z
Jika Mahasiswa Peduli pada Keselamatan Warga,  Kampanyekan dan Menjadi Teladan Social Distancing
Pater Tuan Kopong, MSF

Rekan mahasiswa...
Betul bahwa suara kritis kalian sangat dibutuhkan. Bahwa suara kritis tak mengenal ruang dan waktu dan juga tak mengenal pandemi covid 2019. Tapi kalau suara kritis itu hanya sekali menjadi sebuah kritikan tanpa ada solusi, tanpa pernah mau melihat sisi baik usaha dan kebijakan pemerintah maka suara kritis itu akan menjadi sangat rentan pada kebencian dan yang pada akhirnya menjadi sangat mudah untuk diboncengi kepentingan politik.

Suara kritis sangat diperlukan namun juga harus berani mengakui langkah kebijakan dan usaha pemerintah tanpa terlebih dahulu dipenuhi oleh muatan-muatan pikiran negatif yang hanya menjadi praduga dan kecurigaan yang pada akhirnya suara kritis itu juga menjadi tidak produktif dan solutif.

Suara kritis juga harus didahului tindakan nyata yang mengungkapkan sebuah kerjasama yang baik dan harus dimulai dari diri sendiri bahwa saya berani berkata demikian karena saya sedang dan sudah melakukannya untuk kebaikan bersama.

Rekan mahasiswa...
Mari kita sadar bersama bahwa menghadapi pandemi covid 2019 adalah perang melawan diri sendiri, perang melawan keegoisan dan kesempitan cinta diri yang menolak pasien atau jenasah covid 2019, perang melawan kesombongan dan kemalasan pribadi yang tidak mau menggunakan masker dan tidak rajin mencuci tangan, perang melawan kebekuan hati dan kerasnya kepala untuk tidak melakukan social distancing.

Artinya keselamatan warga yang selalu kalian perjuangkan itu di tengah pandemi covid 2019 ini pertama-tama bukan dari pemerintah tetapi dari diri sendiri yang berani melawan dan melumpuhkan keegoisan diri untuk taat dan rendah hati mengikuti anjuran pemerintah, para dokter, perawat dan petugas medis lainnya.

Rekan mahasiswa...
Saya bersyukur karena pak Jokowi tidak mengambil kebijakan lockdown seperti yang selalu disuarakan oleh suara-suara sakit hati. Saya bersyukur pak Jokowi mengambil langkah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tapi menurut kalian kebijakan ini tidak efektif memutus penyebaran wabah covid 2019.

Dengan mengatakan tidak efektif, maka saya justru melihat bahwa kalian (oknum) memang memiliki niat untuk tidak mau melakukan pembatasan sosial. Jika kalian memikirkan keselamatan warga maka pembatasan sosial ini adalah jalan menyelamatkan warga. Keselamatan warga terjamin ketika usaha tidak hanya datang dari pemerintah melainkan usaha bersama, usaha kita semua, usaha kalian untuk menjadi pahlawan social distancing dalam kerangka memutus penyebaran pandemi covid 2019.

Rekan mahasiswa...
Dengan mengatakan PSBB tidak efektif, lantas apakah kalian menginginkan pemerintah melakukan lockdown? Saya ajak rekan-rekan untuk sejenak jalan-jalan ke Pilipina saja, lebih dekat. Sudah sebulan lebih Pilipina melakukan lockdown dengan menggunakan istilah community quarantine. Apa dampaknya? Pemerintah harus memberi makan kepada seluruh rakyatnya dengan memberikan uang cahs sebesar Rp. 1,5 juta-2 juta.

Bahkan dalam dua kali konferensi pers presiden Duterte berkali-kali mengatakan hingga semalam bahwa ketika meminjam uang ke bank dunia namun belum juga memenuhi kebutuhan warga maka aset negara akan dijual. Apakah itu yang kalian inginkan? Atau berteriak mengkritisi namun ada alasan lain di balik itu bahwa kesempatan ini dijadikan untuk melengserkan kepemimpinan pak Jokowi dengan dalih tidak mampu menjaga ekonomi bangsa? Jika itu yang terjadi maka keselamatan warga hanya dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir kelompok.

Rekan mahasiswa...
Jika kalian tidak setuju dengan kebijakan PSBB, berikan usulan solutif kepada pemerintah. Tidak hanya menumpuk beban persoalan kepada pemerintah. Sekali lagi saya mengajak kalian jalan-jalan ke Pilipina.

Jika PSBB bagi kalian tidak efektif, apakah kalian menghendaki lockdown? Semalam presiden Duterte menegaskan untuk rakyat Pilipina, jika rakyat tak mau bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan social distancing dan menggunakan masker, maka bisa saja minggu depan diberlakukan martial law, di mana polisi dan tentara yang bergerak. Jika itu terjadi maka kekerasan pasti terjadi.

Jika itu yang kalian kehendaki, bukankah itu juga menjadi sasaran empuk menggoyang pemerintahan pak Jokowi dengan alasan terjadi tindakan represif aparat dan militer? Jika itu terjadi, masih pantaskah mengatasnamakan keselamatan warga?

Rekan mahasiswa...
Jika kalian peduli pada keselamatan warga, maka kampanyekan social distancing dan penggunaan masker bagi warga. Jika kalian tulus peduli pada keselamatan warga, maka mulai dari diri kalian sendiri menjadi frontliners (pahlwan terdepan) bagi keselamatan warga dengan melakukan social distancing dan menggunakan masker.

Saya hanya mengingatkan satu hal bahwa KESELAMATAN di tengah pandemi covid 2019 tidak bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi MULAI DARI DIRI SENDIRI kita menjadi pahlawan terdepan dengan melakukan social distancing dan menggunakan masker serta rajin mencuci tangan.

Apapun dan sebaik apapun kebijakan pemerintah untuk mencegah pandemi covid 2019 namun kalau masyarakat termasuk oknum mahasiswa masih ada yang KERAS KEPALA tidak mau melakukan social distancing, tidak mau menggunakan masker dan selalu berkerumun maka keselamatan warga tetap terancam. Salam menjadi frontliners.

Manila: 17-April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update