-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kalvari Kita Bersama

Jumat, 17 April 2020 | 23:17 WIB Last Updated 2020-04-17T16:26:22Z
Pater Tuan Kopong MSF bersama dua orang yang sedang mempersiapan sembako untuk dibagikan kepada umat.

Hanya sebuah rintihan dalam hati, sudah sedemikian kejamkah corona hingga insan beragamapun rela “menyalibkan” Tuhannya? Baru seminggu yang lalu ofos penderitaan Kristusmu engkau litanikan, pujian kebangkitan-Nya engkau bahanakan kidungkan.

Namun kidung pujian paskah kebangkitan-Nya hanya bertahan dalam sorak ritual keagamaan, dan suara geram dan amarahmu bagai suara kaum Yahudi yang meneriakan; “salibkan Dia, salibkan Dia” tengah engkau gaungkan bagi dia, mereka yang sakit yang tak sudi engkau ringankan derita dan sakit mereka lantaran takutmu, piala itu engkau tolak demi kehendak pribadi.

Bukan hanya paskah, tapi jihad menuju Fitrimu sudah diambang pintu. Hari-hari ini ibadah jihadmu ditantang, bertekuk lutut menyerah pada ketakutan dan keegoisanmu ataukah menjadi pemenang menaklukan hasrat dan kehendak pribadi demi membuka sedikit jalan kedamaian bagi yang meninggalkan dan meneguhkan sedikit asa bagi yang sakit.

Dia, mereka yang sakit ataupun meninggal, adalah yang sedang memikul salib. Salib itu adalah salibku dan salibmu juga. Namun salibku, dan salibmu adalah salib keselamatan dan kemenangan ketika engkau sadar bahwa dihadapan mereka yang sakit ataupun meninggal sudah berdiri dalam sebuah penjagaan ekstra ketat yang tak mungkin membuatku dan membuatmu ikut terjerembab jatuh dan tak bangun lagi sebelum mencapai puncak Kalvari.

Salib dia, salib mereka tak akan pernah menjadi salib kematian karena di sana ada Simon dari Kirene yang telah membantu mereka dan membantu kita untuk sama-sama menjadikan salib itu sebagai pemenang.

Saya terngiang akan Sabda-Nya; “jangan tangisi aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri” (bdk. Luk 23:28). Ya jangan menolak dia dan mereka, tetapi tangisilah segala keegoisanku yang tidak mau mengenakan masker. Berhentilah menolak dia dan mereka, karena aku harus berani menangisi kebekuan hatiku yang tak mau mencuci tangan. Jangan menolak dia dan mereka, tetapi tangisilah segala kesombonganku yang tak mau menjaga jarak dan lebih suka berkerumun.

Di Getsemani ini, hanya bisa berharap bahwa aku dan engkau bisa menjadi Simon dari Kirene yang memikul sebagian salib dia dan mereka. Di Getsemani ini, hanya bisa berharap bahwa aku dan engkau bisa menjadi Tabor sukacita dan kedamaian, namun di Getsemani ini aku justru berjumpa dengan jutaan insan manusia yang sudah “TERPAPAR” corona.

Di Getsemani aku melihat dengan terang benderang bahwa corona tidak hanya menjadikan dia dan mereka harus berada dalam satu ruangan isolasi, merintih sakit dalam kesendirian bahkan kematian dia dan merekapun tanpa pamit dan pesan. Tetapi juga aku bisa berhadapan roman dengan mereka yang ikut “terpapar” corona yang mengisolasi diri dalam kesempitan cinta diri dan keegoisan serta yang menguburkan nurani kemanusiaan di setiap pintu masuk kampung atau desa.

Ah, Kalvari sejatinya menjadi Kalvari kita bersama menuju Tabor sukacita tapi justru hanya menjadi Golgota selamanya bagi para pasien dan mereka yang meninggal lantaran sebagian dari saya dan kamu menjadi Pilatus yang mencuci tangan untuk keamanan sendiri namun sejatinya kitapun sama seperti Yudas yang karena seperak dinar mengkhianati Yesus dan kita karena corona kitapun mengkhianati Tuhan dan cinta-Nya, bahkan menyalibkan Dia demi menyelamatkan diri sendiri.

Dari Getsemani saya akhirnya bisa melihat betapa kejamnya corona karena mampu membunuh dan mematikan nurani kemanusiaan sedang orangnya masih hidup. Dan ini yang lebih kejam!! Salam.

#pakaimasker
#rajincucitangan
#stayathome
#stopmenolaksesama

Manila: 16-April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update